| |
|
|
|
User Online: |
|
Ada 1 tamu online |
|
|
 |
|
|
Benarkah Virus Inkarussunnah dari Ahmad Hariadi? |
|
|
|
|
Page 1 of 5 Pendahuluan
Artikel berikut adalah tanggapan terhadap suatu artikel yang berjudul "Virus Inkarussunnah dari Ahmad Hariadi" yang diterbitkan pada majalah Risalah, No. 8 Th. 46, Nopember 2008, halaman 68-75.
Scan dari artikel tersebut dapat anda lihat pada beberapa link di bawah ini:
- Virus Inkarussunnah dari Ahmad Hariadi hal. 68-69
- Virus Inkarussunnah dari Ahmad Hariadi hal. 70-71
- Virus Inkarussunnah dari Ahmad Hariadi hal. 72-73
- Virus Inkarussunnah dari Ahmad Hariadi hal. 74-75
Artikel ini merupakan tanggapan yang ditulis sendiri oleh Ahmad Hariadi karena dirasakan bahwa diperlukan adanya media yang cukup adil dan objektif dalam memaparkan argumentasi dari kedua belah pihak.
Editor dalam artikel ini hanya melakukan sedikit modifikasi isi apabila ditemui salah-ketik dari artikel aslinya. Diharapkan modifikasi seperti ini tidaklah menyebabkan makna dan tujuan artikel tersebut berubah dari aslinya.
Para pembaca diharapkan membaca argumentasi kedua belah pihak sebelum mengambil kesimpulan masing-masing. Semoga artikel ini bermanfaat.
BENARKAH VIRUS INKARUSSUNNAH Dari AHMAD HARIADI?
Sebuah Tanggapan Terhadap Tulisan yang Berjudul "Virus Inkarussunnah dari Ahmad Hariadi" (Majalah Risalah No.8 Nopember 2008)
Oleh:
Ahmad Hariadi (
This email address is being protected from spam bots, you need Javascript enabled to view it
)
Kalau kata "As-Sunnah" di situ maksudnya adalah "Hadits Nabi saw. yang menceritakan perilaku Nabi saw. di dalam mengamalkan ajaran al-Qur'an, maka amat keliru sekali jika saudaraku dari PERSIS itu menyimpulkan bahwa, "Ahmad Hariadi menolak sunnah Nabi saw. dan sudah tertular virus inkarussunnah." Tetapi sebaliknya, jika ada suatu hadits-haditsan (hadits palsu) yang menceritakan perilaku Nabi saw. padahal yang sebenarnya bukan perilaku/sunnah Nabi saw. karena memang bertentangan dengan al-Qur'an, maka benarlah kalau Ahmad Hariadi disimpulkan "sebagai seseorang yang menolak hadits-haditsan yang seperti itu atau inkarussunnah," walaupun hadits-hadits itu dimuat di dalam berbagai kitab hadits yang masyhur/kutubus-sittah, seperti kitab hadits sahih Bukhari, sahih Muslim, dan lain-lain.
Kalau seseorang mengingkari atau menolak satu atau dua hadits yang ada dalam berbagai kitab hadits yang masyhur itu disimpulkan "sebagai inkarussunnah," maka berapa banyak orang atau ulama Muslim yang mendapat julukan seperti itu, baik ulama tersebut dari kalangan Sunni atau Syi'i/Syi'ah. Padahal ulama tersebut setelah menyelidiki hadits-hadits itu berkesimpulan bahwa hadits-hadits tersebut "bukan hadits Nabi" alias "bukan perbuatan/qoul Nabi, bukan ketetapan/taqrir Nabi, atau bukan sunnah/perilaku Nabi." Karena memang menurut mereka, hadits-hadits yang ditolaknya itu bertentangan dengan al-Qur'an, bertentangan dengan akal yang sehat, atau bertentangan dengan fakta sejarah yang qot'i/pasti.
Dan akhirnya A. Hassan (rahimahullah) selaku pendiri PERSIS juga akan digolongkan "sebagai inkarusunnah" karena beliau yang sangat kami hormati itu juga mengatakan, "...di dalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim itu masih ada terdapat hadits-hadits yang bertentangan dengan al-Qur'an. Baiklah di sini dicantumkan secara lengkap ketetapan A. Hassan itu di dalam soal jawab tentang kedudukan hadits-hadits Sahih Bukhari dan Sahih Muslim:
SOAL: Apa sebab hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim itu shahieh?
JAWAB: Karena Bukhari dan Muslim terlalu cermat tentang menerima hadits dari seseorang, ya'ni tiap-tiap seorang rawinya hingga sampai kepada Nabi s.a.w. itu orang-orang yang sudah terpilih betul tentang kebenarannya, amanatnya, ibadatnya, akhlaqnya, dan lain-lainnya.
Bacalah permulaan "Muqaddimah-Fathul-Baari" dan permulaan "Syarah-Muslim-Lin Nawawie." Pendeknya tidak ada seorang ahli hadits pun yang cermat dan hati-hati untuk menerima hadits dengan memperhatikan rawi-rawinya, lebih daripada imam Bukhari. Yang kedua dari Bukhari, ialah muridnya, yaitu imam Muslim. Sungguhpun begitu, tetapi masih ada juga di dalam kedua-dua kitab yang tersebut, beberapa hadits yang lemah atau ada ikhtilaafnya tentang shahnya dan ada pula beberapa hadits yang berlawanan dengan al-Qur'an (ditulis lengkap sesuai dengan aslinya – pen. A.H.)
Hal tersebut dapat dilihat dalam buku Soal-Jawab A. Hassan jilid 2 bab "HADIETS RIWAYAT BUKHARI DAN MUSLIM" halaman 695, penerbit C.V. DIPONEGORO, BANDUNG.
Tentang hadits-hadits Sahih Bukhari dan Sahih Muslim yang ditolak A. Hassan itu banyak sekali. Hal ini bisa dilihat di dalam buku Soal-Jawab A. Hassan jilid 4 bab "Sedaqoh Anak Untuk Orangtua" halaman 1499 s/d. 1501.
Terhadap hadits-hadits itu, A. Hassan mengatakan, hadits-hadits yang tersebut tadi, sungguhpun sahih menurut riwayat, tetapi lantaran perlawanan dengan beberapa ayat al-Qur'an yang dikuatkan oleh beberapa hadits, perkataan shahabat, dan perkataan iman-iman, dan berlawanan pula dengan maksud agama, dan berlawanan juga dengan pikiran yang waras seperti yang tersebut di bawah ini satu per satunya, maka tak dapatlah dikatakan hadits-hadits itu sahih isinya.
Menurut qa'idah ilmu hadits, bahwa hadits yang boleh dikatakan sahih dan boleh diamalkan itu, ialah hadits-hadits yang sahih menurut riwayat dan sahih pada maknanya, yaitu tidak berlawanan dengan ayat al-Qur'an dan tidak juga berlawanan dengan hadits yang lebih kuat dari padanya.
Di halaman selanjutnya itu, A. Hassan menerangkan alasan-alasannya. Mohon diteliti sendiri!
Oleh karena itu kalau Ahmad Hariadi mengatakan bahwa "hadits-hadits akan turunnya Isa di akhir zaman yang ada di dalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim itu bukan sabda Nabi alias hadits-haditsan, maka saudaraku tercinta dari PERSIS itu mestinya yang harus dia lakukan adalah menanggapi "alasan-alasan yang saya kemukakan di Daurah Du'at PP PERSIS" itu. Yang mana alasan-alasan atau hujjah-hujjah saya itu juga ada di dalam makalah yang diberikan kepada setiap peserta Daurah.
Karena hal itu tidak dilakukan oleh saudaraku tercinta yang penuh semangat itu, maka di dalam menjawab tulisan dia yang ada di majalah Risalah edisi Nopember 2008 yang berjudul Virus Inkarussunnah dari Ahmad Hariadi itu, maka saya merasa perlu di sini mengemukakan pendapat-pendapat dari pendiri PERSIS itu sendiri dengan harapan, mudah-mudahan menjadi bahan masukan bagi saudaraku khususnya dan umumnya bagi para pembaca majalah Risalah. Sehingga dengan perantaraannya, seseorang tidak mudah menuduh orang lain sebagai "inkarussunnah." Amin!
Di samping itu, untuk melengkapi hujjah-hujjah saya di dalam soal penolakan saya terhadap hadits-haditsan akan turunnya Isa as. yang ada dalam kitab hadits Sahih Bukhari dan Sahih Muslim itu, maka di sini perlu saya kemukakan qoul jadid A. Hassan, di mana dia yang sangat saya hormati itu mengatakan:
...tetapi ada satu jalan buat orang yang tidak mau percaya hal turunnya Nabi 'Iesaa, yaitu menolak sekalian hadiets-hadiets yang mengatakan 'Iesaa akan turun dengan alasan perkataan Imam Ahmad bin Hanbal:
ثَلاَثُةُ كُتُبٍ لَيْسَ لَهَا اَصْلٌ : الْمَغَازِيْ وَ الْمَلاَحِمُ وَالتَّفْسِيْرُ
(اسنى المطالب وتذكرة الموضوعات)
Artinya: "Tiga kitab tidak ada asal baginya: Dari hal perang-perang, dan kejadian-kejadian yang akan datang, dan tafsir."
Ya'ni tidak ada kitab hadiets yang shahieh tentang cerita-cerita peperangan dan tentang kejadian-kejadian yang di tunggu-tunggu dan tentang tafsir.
Siapa yang berani berpegang dengan perkataan Imam Ahmad yang sudah memeriksa hadiest-hadiest itu, tentulah bisa ia tolak sekalian hadiest-hadiest turunnya 'Iesaa.
Kalau sudah ia tolak berarti tidak ada lagi 'Iesaa yang akan datang, maupun 'Iesaa betul-betul atau 'Iesaa-'Iesaaan dan diwaktu itu, bolehlah ia ta'wiel ayat yang mengatakan Allah telah angkat 'Iesaa ke HadiratNya, dan dengan jalan itu, dapatlah ia berkata : Nabi 'Iesaa sudah mati dan tidak seorangpun Nabi yang sedang hidup sekarang, (kitab Soal-Jawab A. Hassan jilid 3 halaman 1162, ditulis sesuai aslinya - pen. A.H).
(bersambung ke halaman selanjutnya...)
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >> |
|
| |
|
|