|
Page 1 of 2 Apa Arti Sebuah Nama? Oleh Ayman (
This email address is being protected from spam bots, you need Javascript enabled to view it
) Terjemahan Adley (
This email address is being protected from spam bots, you need Javascript enabled to view it
) Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama semua benda, kemudian mengemukakannya kepada mereka yang diberikan kendali lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!" (2:31)
Pendahuluan Terdapat dua macam nama, yaitu nama umum dan nama kepemilikan. Satu contoh dari nama umum adalah "manusia" yang merupakan nama umum dari ras penguasa yang bertempat tinggal di planet bumi ini. Contoh dari nama proper adalah nama depan dan nama belakang seseorang yaitu John Smith. Nama-nama umum mencoba untuk mendeskripsikan keadaan benda-benda alam. Dalam bahasa Arab, nama umum biasanya didasari oleh sifat dominant yang dimiliki objek yang sedang dideskripsikan. Sehingga nama umum "ta'ir" (sejenis makhluk terbang) berasal dari akar "TYR" (terbang). Nama-nama yang bersifat kepemilikan, di lain pihak, diberikan berdasarkan faktor-faktor lainnya dan mereka tidaklah harus merefleksikan sifat alami dari objek yang dinamai. Oleh karena itu, apapun yang di benak sebagian orang, George "Bush" bukanlah tanaman kebun (Bush = semak-semak). Di dalam al-qur’an nama umum dan nama kepemilikan keduanya digunakan. Di dalam bahasa Inggris atau Indonesia, nama kepemilikan dibedakan dari nama umum dengan menggunakan huruf besar atau kapital, namun dalam bahasa Arab tidak terdapat mekanisme semacam itu. Kata dalam bahasa Arab yang mendenotasikan "nama kepemilikan" adalah "ism" (bentuk jamaknya adalah "asma'a"). Tampaknya kemampuan untuk memberikan benda-benda nama-nama kepemilikan telah mendatangkan masalah bagi umat manusia. Suatu contoh dari nama-nama kepemilikan yang telah mendatangkan bencana diberikan dalam Surah 53: Maka apakah patut kamu menganggap Al Lata dan Al Uzza? (53:19)
Dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian? (53:20)
Nama-nama Al Lata, Al Uzza, dan Manah semuanya merupakan nama-nama kepemilikan seperti yang dapat dibaca secara jelas dalam 53:23:
Itu tidak lain hanyalah nama-nama (asma’a) yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun mengenainya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. (53:23)
Nama-nama tersebut merupakan nama-nama kepemilikan yang telah diberikan orang kepada mereka yang diberi kendali ("mala'ika") seperti yang jelas tertulis dalam 53:27-28, yaitu beberapa ayat setelah ayat-ayat di atas: Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat (mereka yang diberikan kendali) itu dengan nama perempuan. (53:27) Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran. (53:28)
Ayat 53:23 mengindikasikan bahwa meskipun kita harus mempunyai keyakinan terhadap mereka sebagaimana yang tercantum dalam 2:285 dan 4:136, menamakan mereka yang diberikan kendali ("mala'ika") suatu nama kepemilikan tidaklah diizinkan oleh Allah, merupakan perbuatan yang mengikuti persangkaan belaka dan fantasi pribadi bukannya petunjuk yang telah diwahyukan dari Allah. Saat orang memberikan mereka nama-nama kepemilikan yang tidak diizinkan oleh Allah, mereka mempercayai imajinasi mereka sendiri dan bukannya mereka yang diberi kendali ("mala'ika") yang sebenarnya yang seharusnya diyakini. Fantasi merefleksikan keinginan seseorang agar semua hal menjadi mudah bagi dirinya baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, mereka yang berfantasi dengan menamakan nama-nama kepemilikan yang tidak diizinkan oleh Allah, otomatis tenggelam dalam fantasi bahwa terdapat kemampuan memberikan syafa’at pada mereka yang diberikan kendali ("mala'ika") di akhirat nanti. Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? (53:24)
Maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. (53:25)
Dan berapa banyaknya malaikat (mereka yang diberikan kendali) di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridai. (53:26)
Dengan mengikutsertakan akhirat dalam fantasi mereka, maka akhirat yang mereka yakini menjadi bagian dari fantasi mereka pula dan bukannya akhirat sebenarnya yang seharusnya kita semua yakini. Oleh karena itu, 53:27 menjelaskan mereka yang memberikan nama-nama kepemilikan terhadap yang diberikan kendali sekaligus berarti tidak beriman kepada akhirat. Ayat 53:19-30 menjelaskan, disamping hal lainya, suatu psikoanalisis orang-orang yang tidak mengimani akhirat. Saya hanya dapat secara sederhana dan tidak elegan (dibandingkan dengan ayat-ayat Allah) memberikan rangkuman sebagai berikut: - Petunjuk telah datang kepada orang-orang tersebut dari Allah.
- Mereka berhasrat memiliki kehidupan dunia dan kehidupan akhirat yang mudah.
- Apa yang menjadi hasrat mereka berbeda dengan kebenaran yang dikandung oleh petunjuk.
- Mereka mengikuti persangkaan dan fantasi pribadi belaka bukannya petunjuk tersebut.
- Mereka berfantasi dan memberikan konsep-konsep nama-nama kepemilkan yang tidak diizinkan oleh Allah di dalam petunjuk yang telah Allah berikan.
- Apa yang mereka yakini menjadi fantasi tak nyata yang berada dalam imajinasi mereka dan bukanlah kenyataan yang sebenarnya. Oeh karena itu, pada kenyataannya mereka tidaklah beriman.
- Akhirnya, orang-orang tidak terhindarkan lagi menjadi abdi dari ketidaknyataan hasil fantasi mereka bukannya Allah seperti yang dapat dibaca jelas dari ayat 12:40.
"Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (12:40)
Salah satu pelajaran yang harus kita petik dari contoh yang diberikan dalam 53:19-30 adalah bahwa kita janganlah memberikan kepada konsep-konsep nama-nama kepemilikan yang tidak diizinkan Allah. Sekarang marilah kita hubungkan apa yang telah kita pelajari kepada konsep-konsep lainnya yang orang-orang telah berikan kepadanya mereka nama-nama kepemilikan tanpa adanya izin dari Allah dan kita bisa lihat apakah kita akan mendapatkan hasil yang serupa. Sang bacaan/("al-qur’an") Karena kita mendasari analisa kita terhadap ayat-ayatnya, maka patutlah untuk memulai bertanya kepada diri sendiri apakah nama kepemilikan "Qur’an" itu telah diizinkan oleh Allah atau tidak. Dengan kata lain, apakah kata yang seharusnya orang gunakan untuk mendeskripsikannya adalah "qur’an/bacaan" atau "Qur’an"? Pertama-tama, mari kita lihat apakah kata "qur’an" digunakan sebagai nama kepemilikan ataukah sebagai deskripsi umum. Salah satu cara untuk mengetahuinya adalah dengan memeriksa apakah terdapat kemunculan kata tersebut dalam bentuk umum. Saat kita memulai analisa kita, kita dapat segera menemukan bahwa deskripsi umum "suatu qur’an" digunakan banyak kali sepanjang al-qur’an. Sebagai contoh, ayat-ayat berikut membuat jelas bahwa "qur’an" secara sederhana berarti "bacaan" dan bukanlah suatu nama kepemilikan: Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Al-Kitab, dan bacaan/qur’an yang jelas. (15:1) Dan bacaan/qur’an yang telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (17:106)
Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya dan bersyair itu tidaklah dibutuhkan olehnya. Ini tidak lain hanyalah pelajaran dan bacaan/qur’an yang memberi penerangan. (36:69) Katakanlah: "Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin sedang mendengarkan," lalu mereka berkata: "Sesungguhnya kami telah mendengarkan bacaan/qur’an yang menakjubkan." (72:1) Bahkan yang didustakan mereka itu ialah bacaan/qur’an yang mulia. (85:21)
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: "Datangkanlah bacaan/qur’an yang lain dari ini atau gantilah dia." Katakanlah: "Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar." (10:15)
Dalam ayat 10:15, mohon dicatat bahwa sang rasul tidak keberatan kepada kaum kafir untuk menggunakan deskripsi umum dan hanya keberatan untuk membuat perubahan apapun terhadap bacaan/qur’an milik beliau sendiri. Mirip dengan hal di atas, terdapat banyak ayat yang menggunakan deskripsi umum untuk mendenotasikan bahwa apa yang telah Allah wahyukan merupakan bacaan berbahasa Arab: Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa bacaan/qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. (12:2) Dan demikianlah Kami menurunkan bacaan/qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau ia menimbulkan pengajaran bagi mereka. (20:113) Bacaan/qur’an dalam bahasa Arab yang tanpa kebengkokan, supaya mereka bertakwa.(39:28) Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan/qur’an dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. (41:1-3) Dan jika Kami jadikan ia suatu bacaan/qur’an dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?." Bahasa atau bahasa Arab, katakanlah: "Ia adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang ia adalah suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu orang-orang yang akan dipanggil dari tempat yang jauh." (41:44)
Demikianlah Kami wahyukan kepadamu bacaan/qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada penduduk ibukota dan penduduk sekelilingnya serta memberi peringatan tentang hari berkumpul yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka. (42:7) Sesungguhnya Kami menjadikannya bacaan/qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu paham. (43:3)
Terdapat beberapa ayat yang menggunakan kata "qur’an" untuk mendeskripsikan bacaan-bacaan yang lain, yang sekaligus merupakan indikasi tambahan bahwa kata tersebut mestilah suatu deskripsi umum dan bukannya nama kepemilikan: Dan sekiranya ada suatu bacaan/qur’an yang dengannya gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara. Tidak, segala sesuatu itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki, tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. (13:31)
Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa bacaan/qur’an seperti ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain." (17:88)
Dalam ayat-ayat di atas, kata "qur’an" digunakan untuk mendeskripsikan bacaan-bacaan hipotesis selain bacaan/qur’an yang terbaik yang kita tahu. Oleh karena itu, kita dapat lihat bahwa "qur’an" digunakan sebagai deskripsi umum dan bukannya nama kepemilikan. Terdapat pula banyak kejadian dimana bacaan/qur’an ditunjuk dengan mengatakan "ini" ("hadza" dala bahasa Arab). Penggunaan "ini" untuk menunjuk kepada bacaan/qur’an merupakan penguat konfirmasi bahwa bacaan/qur’an bukanlah nama kepemilikan tapi suatu deskripsi umum. Sebagai contoh: Tidaklah mungkin bacaan/qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi ia membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, dari Tuhan semesta alam. (10:37)
Kami menceriterakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan bacaan/qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelumnya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui. (12:3) Sesungguhnya bacaan/qur’an ini memberikan petunjuk kepada yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (17:9) Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam bacaan/qur’an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai apapun kecuali mengingkari. (17:89)
Ini adalah bacaan/qur’an yang sangat mulia. (56:77)
Dan sesungguhnya dalam bacaan/qur’an ini Kami telah cantumkan agar mereka selalu ingat. Dan ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah kebencian mereka. (17:41)
Lihatlah pula ayat-ayat semacam 6:19, 18:54, 25:30, 27:76, 30:58, 34:31, 39:27, 41:26, 43:31, 59:21. Terdapat beberapa ayat lain yang berbicara mengenai "sang bacaan " ("al-qur’an") (lihatlah 2:185, 4:82, 5:101, 7:204, 9:111, 10:61, 15:87, 15:91, 16:98, 17:45-46, 17:60, 17:78, 17:82, 21:2, 21:114, 25:32, 27:1, 27:6, 27:92, 28:85, 36:2, 38:1, 46:29, 47:24, 50:1, 50:45, 54:17, 54:22, 54:32, 54:40, 55:2, 73:4, 73:20, 76:23, 84:21). Sebagai contoh: Dan apabila kamu membaca sang bacaan/al-qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup. Dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam sang bacaan/al-qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya. (17:45-46)
Dalam kasus ini, jika kita tidak mempunyai semua ayat di atas yang berbicara mengenai "suatu bacaan/qur’an" dalam pemahaman yang umum, maka akan sedikit lebih sukar untuk menentukan apakah "sang bacaan /al-qur’an" merupakan bentuk umum atau kepemilikan yang khusus. Namun, dengan fakta bahwa bacaan/qur’an yang berasal dari Allah tidak mempunyai pertentangan apapun di dalamnya, kita dapat secara aman mengatakan bahwa semua kemunculan dimana sang bacaan /al-qur’an disebutkan, maka itu juga berarti dalam pemahaman makna yang umum. Sebagai contoh, ketika seseorang memberitahukan anda untuk menemuinya di restoran ketika saat itu anda sedang berdiri di depan suatu restoran, maka "restoran" adalah restoran dimana anda sedang berdiri di depannya dan bukanlah nama kepemilikan bangunan tersebut. Mirip dengan hal tersebut, ketika ayat-ayat berbicara mengenai bacaan/qur’an ketika anda sedang membaca suatu bacaan/qur’an, maka bacaan/qur’an inilah yang sedang and abaca dan bukannya suatu nama kepemilikan. Dengan fakta yang dapat dilihat oleh pembaca sebagaimana halnya yang tercantum dalam banyak ayat di atas bahwa bacaan/qur’an merupakan "bacaan/qur’an ini" yang dia sedang baca, maka mengatakan "sang bacaan/al-qur’an" merupakan suatu alat untuk mengimplikasikan bahwa yang sedang dibaca oleh si pembaca merupakan bacaan/qur’an yang "terhebat." Penelitian logis selanjutnya adalah menentukan apakah "al-kitab"/sang buku merupakan nama kepemilikan, "Sang Buku" atau hanya deskripsi umum, "sang buku." Sang buku/("al-kitab") Apakah yang benar adalah "Buku"/"Kitab" atau "buku"/"kitab"? Mirip dengan analisa kita di atas tentang kata "bacaan /qur’an" kita menemukan banyak ayat dimana buku/"kitab" disebutkan sebagai deskripsi umum untuk mendenotasikan buku yang berasal dari Allah: Dan setelah datang kepada mereka suatu buku ("kitab") dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa menjelekkan orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (2:89)
Dan ini adalah buku ("kitab") yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada Umulkura (penduduk ibukota) dan orang-orang yang di sekitar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya, dan mereka selalu memelihara "shalat" mereka. (6:92)
Ini adalah sebuah buku ("kitab") yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu, dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. (7:2) Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah buku ("kitab") kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (7:52)
Alif Laam Raa, suatu buku ("kitab") yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu. (11:1) Alif, laam raa. Suatu buku ("kitab") yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (14:1) Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah buku ("kitab") yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya? (21:10) Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, suatu buku ("kitab") yang serupa lagi berulang-ulang. Gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya. (39:23)
Mereka berkata: "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan buku ("kitab") yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. (46:30)
Selain itu, menurut sang bacaan, Allah mempunyai banyak buku (jamak). Sehingga sekali lagi kita dapat melihat bahwa "sang buku" merupakan deskripsi umum dan bukan nama kepemilikan: Rasul telah beriman kepada yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya. Dan orang-orang yang beriman, semua yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, buku-buku ("kutubihi")-Nya dan rasul-rasul-Nya. "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun dari rasul rasul-Nya," dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat, ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." (2:285)
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada buku ("kitab") yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, buku-buku (kutubihi)-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (4:136)
Sebenarnya, bahkan buku-buku manusia yang ditulis oleh tangan manusia juga dideskripsikan sebagai "sang buku" di dalam qur’an: Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis sang buku ("al-kitab") dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: "Ini dari Allah," untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. (2:79)
Semua ini memberikan konfirmasi bahwa apa yang membuat si buku itu istimewa bukanlah karena ia itu "Sang Buku" melainkan karena ia merupakan "buku yang berasal dari Allah ." Sehingga sekarang kita mengetahui bahwa kedua frase "sang buku" dan "sang bacaan" bukanlah nama kepemilikan tetapi deskripsi umum. Pertanyaan logis berikutnya adalah: Apa hubungan antara "sang buku" dengan "sang bacaan"? Sewaktu kita telah membuang nama-nama kepemilikan yang tidak pernah diotorisasi oleh Allah, tiba-tiba jawabannya menjadi jelas. Hubungannya adalah bahwa "sang bacaan" merupakan bacaan dari "sang buku" dan tujuan dari membaca sang buku tersebut adalah untuk BELAJAR. Hal ini dikonfirmasikan oleh ayat-ayat semacam 96:1-5: Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari embryo. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (96:1-5)
Bahwa "sang bacaan" adalah bacaan dari buku yang tertulis terlihat sangat amat jelas yang bahkan anak TK pun tahu fakta ini. Ini merupakan fakta yang amat jelas sehingga, dalam situasi normal, merupakan sesuatu yang sia-sia untuk disebutkan di dalam suatu artikel. Namun dengan memberikan konsep-konsep semacam sang bacaan dan sang buku nama-nama kepemilikan yang tidak diotorisasi oleh Allah, menyakitkan sekali untuk disimak bahwa kebanyakan orang telah meninggalkan nalar mereka dan telah tercegah untuk bahkan memahami fakta yang sederhana dan jelas ini. Terbutakan dari fakta sederhana ini oleh nama-nama kepemilikan tak sah yang mereka ciptakan sendiri untuk sang buku dan sang bacaan, beberapa sekte lalu berfantasi kepercayaan-kepercayaan tak masuk akal. Sebagai contoh, beberapa dari kaum sektarian secara tak masuk akal berpendapat bahwa sang bacaan/al-qur’an itu "abadi dan tak berawal maupun berakhir." Kesulitan pertama dari doktrin ini adalah fakta yang tidak bisa diubah atau dihindari oleh orang-orang sektarian tersebut. Fakta ini didemonstrasikan oleh ayat-ayat seperti di bawah ini: Dan ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu, maka bertobatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." (2:54)
Dalam ayat 2:54, adalah Musa yang dikutip sebagai bagian dari qur’an. Jadi jikalau sang bacaan itu abadi serta tidak berawal maupun berakhir, maka kaum sektarian mengimplikasikan bahwa perkataan Musa jugalah abadi dan tidak berawal maupun berakhir, karena apa yang beliau katakan dikutip sebagai bagian dari ayat sang bacaan. Sebelum kaum sektarian mulai berpikir bahwa Musa itu istimewa, karena bagaimanapun beliau adalah seorang rasul, mereka sebaiknya membaca ayat setelah ayat di atas, yaitu 2:55: Dan kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang," karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. (2:55)
Nah sekarang, kaum kafir dari keturunan Israel jugalah dikutip dalam ayat yang merupakan bagian dari al-qur’an. Jadi sekarang menurut doktrin kaum sektarian, perkataan mereka jugalah abadi dan tidak berawal maupun berakhir. Bagaimana dengan perkataan dalam ayat di bawah ini, yang juga merupakan bagian dari al-qur’an: Dia [iblis] menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan membayangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. (7:16)
Saya harap para pembaca dapat melihat kekonyolan dari kepercayan kaum sektarian. Meskipun nampak jelas kesalahan logika seperti itu, dan fakta bahwa sang bacaan secara jelas mengindikasikan bahwa kita memiliki kebebasan memilih, banyak sektarian yang menentang nalar pemberian Allah dan terus saja menganut kepercayaan tak masuk akal seperti itu. Tidak dapat dipungkiri bahwa sekte-sekte semacam itu pada akhirnya mengabdi kepada nama-nama yang mereka ciptaan bukannya Allah semata. Sebagai contoh, beberapa menggantungkan ayat-ayat dari sang bacaan/al-qur’an pada dinding-dinding rumah mereka untuk mengusir kejahatan dan melantunkan surah-surah tertentu untuk menyembuhkan yang sakit meskipun sebenarnya mengetahui bahwa Allah hanyalah satu-satunya Pelindung. Mereka juga telah menjadikan kegiatan membaca sang buku menjadi urusan keupacaraan dan telah merestriksi pemahaman mengenai apa yang dibaca kepada lingkungan eksklusif dari para ahli dari barisan ulama. Sang bacaan/al-qur’an adalah sesuai namanya sehingga ia haruslah dibaca dan dimengerti oleh semua orang sesuai taraf pemahaman mereka yang maksimal. Sayang sekali, mereka yang berniat baik pun telah membuat kesalahan yang fatal. Sebagai contoh, beberapa berpendapat bahwa sang bacaan dan sang buku mendenotasikan dua kelompok ayat berbeda yang terpisah. Yang akhirnya timbul dari sini adalah permainan tebak-tebakan ayat mana masuk ke dalam kelompok apa. Seperti dalam ayat 53:21, saat nama-nama kepemilikan yang tidak pernah diizinkan diberikan kepada suatu konsep, orang-orang mulai membagi hal-hal secara tidak teratur. Oleh karena itu, diusulkanlah bahwa kita mungkin hanya diperlukan untuk menjunjung tinggi apa yang dikenal dengan "Buku" tapi tidak dengan apa yang dikenal dengan "Qur’an." Saya seringkali menyebutkan sang bacaan/al-qur’an sebagai "Qur’an." Hal yang penting sekarang adalah bertobat dan membenarkan begitu kebenaran tersebut telah tampak jelas. Saya berharap artikel ini dapat memberikan kontribusi kepada pembenahan diri saya sendiri. "Al-masjid al-haram" dan "al-masjid al-aqsa" Ekspresi dalam bahasa Arab yaitu "al-masjid al-haram" dan "al-masjid al-aqsa" telah secara tradisi ditafsirkan dan diterjemahkan sebagai nama-nama kepemilikan. Namun, tafsiran semacam itu mengandung permasalahan yang amat besar bagi kaum sektarian. Sebagai contoh, lokasi dari "Al-Masjid Al-Aqsa" digunakan sebagai tempat pembuangan sampang selama hampir 600 tahun sampai Umar bin Al-Khattab dikatakan membangun suatu bangunan kayu di situ. Para arkeolog berpendapat bahwa pada masa Kekhalifahan Umayyad, Abd al Malik ibn Marwan pada 691 AD memulai pembangunan dari "Dome of the Rock" dan Al-Walid (berkuasa dari 705-715 AD) membangun apa yang kita kenal sekarang sebagai "Al-Masjid Al-Aqsa." Karena diwahyukannya sang bacaan lebih dulu daripada kedua peristiwa tersebut, ini menimbulkan suatu kesulitan tertentu bagi kaum sektarian untuk mensahkan bahwa "Al-Masjid Al-Aqsa" yang dikenal saat ini sebagai bangunan batu yang "suci." Belum terlalu lama ini, beberapa sektarian telah mencoba kesulitan tersebut dengan menafsirkan kata "masjid" dalam makna umum (yaitu, tempat sujud secara fisik) dan bukannya nama kepemilikan post-defacto yang dikenal saat ini. Namun, di dalam keterburu-buruan mereka untuk mensahkan bangunan batu suci mereka, mereka melupakan bahwa jikalau mereka menafsirkan setengah ekspresi tersebut (yaitu "al-masjid") dalam makna umum, mereka juga harus menafsirkan paruh kedua ekspresi tersebut (yaitu "al-aqsa") dalam makna umum pula. Sebagai deskripsi umum, "al-aqsa" (dibandingkan dengan "Al-Aqsa") berarti "terjauh," yang merupakan deksripsi yang tidak sesuai untuk lokasi tersebut dengan tolok ukur apa pun. Kata "masjid" berasal dari akar "SJD" dan terdapat banyak ayat di dalam sang buku dimana turunan-turunannya seperti "sujud" digunakan. Sekali lagi dan sayang sekali untuk kaum sektarian, penggunaan isitilah "sujud" di dalam ayat-ayat tersebut hanyalah menambahkan permasalahan mereka. Bagaimana mungkin cara kaum sektarian melakukan "sujud" mereka tidak dapat ditemukan di dalam sang buku yang terperinci? Untuk menyelesaikan dilemma ini, beberapa sektarian berargumentasi bahwa, ketika disebutkan di dalam sang bacaan, "sujud" digunakan sebagai nama kepemilikan untuk mendenotasikan sesuatu yang oleh mereka dimana bacaan tersebut ditujukan (mereka bilang orang-orang Mekah) telah mengetahuinya. Sehingga, beberapa sektarian menyimpulkan bahwa kita harus menurut kepada mereka yang lantas dikenal sebagai "Sahabat" (nama kepemilikan lain yang diciptakan oleh kaum sektarian) mengenai metode "Sujud" yang dikenal seperti saat ini. Ayat berikut mengilustrasikan beberapa permasalahan logika serius yang dihadapi kaum sektarian: Katakanlah: "Beriman kamu kepadanya atau tidak, orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila ia dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas dagu mereka ‘sujadan’." (17:107)
Kata-kata benda kepemilikan tidaklah digunakan sebagai idiom. Sehingga, jika kaum sektarian bersikeras dengan asumsi bahwa mereka dimana bacaan itu ditujukan mengetahui apa makna dari kata benda kepemilikan "Sujud" tersebut, maka mereka harus membuang pemahaman idiomatis dari 17:107 dan ayat tersebut harus dipahami secara literal. Jika "sujud" ditafsirkan secara literal yaitu "sujud secara fisik," maka menurut ayat 17:107 dagulah dan bukannya dahi yang harus menempel ke tanah. Ini bukanlah cara sujud kaum sektarian. Jika, di lain pihak, kaum sektarian mencoba untuk menafsirkan 17:107 secara idiomatis, maka mereka harus membuang argument kata benda kepemilikan dan hasil langsungnya adalah tidak bisanya diasumsikan bahwa mereka dimana bacaan ini ditujukan telah mengetahui apa "sujud" itu sebenarnya. Di dalam kasus ini, "sujud" ditafsirkan sebagai non-fisik dan ini juga bukanlah yang dilakukan oleh kaum sektarian. Satu hal yang pasti, cara kaum sektarian melakukan "sujud" mereka salah bagaimanapun juga. Untuk memahami apa "sujud" itu, mari kita lihat beberapa ayat lain dimana kata tersebut muncul. Sebagai contoh, mirip dengan 17:107, ayat 32:15 berbicara mengenai "jatuh ‘sujudan’": Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya, mereka "jatuh sujadan" dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri. (32:15)
Mereka yang beriman dan diingatkan oleh wahyu Allah juga disebutkan dalam ayat 25:73: Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. (25:73)
Saat kita menghubungkan 32:15 dan 25:73 bersama, kita dapat secara jelas memahami bahwa "tidak jatuh tuli dan buta" itu sama dengan "jatuh ‘sujadan’." Sekarang kontraskan reaksi "tidak jatuh tuli dan buta/jatuh ‘sujadan’" dari mereka yang beriman dengan reaksi dari mereka yang tidak beriman: Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih. (31:7) Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka dari memahaminya, dan sumbatan di telinga mereka. Dan kendati pun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya. (18:57)
Ketulian secara alegori (bukan pendengaran) tampaknya menjadi ciri umum mereka yang tidak jatuh "sujadan." Contoh dari keturunan Israel mengilustrasikan bahwa "sujud" merupakan non-fisik dan menjelaskan makna sebenarnya: Dan ketika Kami berfirman: "Masuklah kamu ke kota ini, dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya ‘sujadan’, dan katakanlah: ‘Bebaskanlah kami dari dosa’, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah kepada orang-orang yang berbuat baik." Namun orang-orang yang lalim mengganti apa yang dikatakan kepada mereka dengan perkataan yang lain, oleh sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang lalim itu siksa dari langit, karena mereka melampaui batas. (2:58-59) Dan dikatakan kepada mereka: "Diamlah di kota ini saja dan makanlah darinya di mana saja kamu kehendaki.." Dan katakanlah: "Bebaskanlah kami dari dosa kami," dan masukilah pintu gerbangnya ‘sujadan’, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan akan Kami tambahkan kepada orang-orang yang berbuat baik. Maka orang-orang yang lalim di antara mereka itu mengganti apa yang dikatakan kepada mereka dengan perkataan yang lain, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kelaliman mereka. (7:161-162)
Perhatikanlah bagaimana keturunan Israel melakukan hal yang merupakan lawan dari "sujud" dengan mengubah apa yang diutarakan kepada mereka, bukannya malah mendengarkan dan betul-betul melaksanakannya (yaitu menaatinya). Contoh lain dari mereka yang mengubah apa yang diutarakan kepada mereka diberikan lagi dalam 4:46: Di antara orang-orang Yahudi, ada sebagian yang mengeluarkan kata-kata dari konteksnya, dan mereka berkata: "Kami mendengar dan kami tidak taat, dan dengarlah, tapi jangan biarkan yang lain mendengarkan, dan gembalakanlah kami," dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: "Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami," tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis. (4:46)
Kita dapat melihat dari menghubungkan 4:46 dengan 2:58-59 dan 7:161-162 bahwa "sujud" sama dengan "mendengar dan menaati ." Ayat 4:101-103 menjelaskan mengakhiri "shalat" dengan "sujud." Ayat 5:6-7 juga menjelaskan "shalat" dan komponennya, serta diakhiri dengan "mendengar dan menaati." Sekali lagi, kita dapat melihat bahwa "mendengar dan menaati" tampak sama dengan "sujud." Mimpi Yusuf dan terwujudnya memberikan konfirmasi bahwa "sujud" bersifat non-fisik dan mengindikasikan bahwa ia bermakna "mendengar dan menaati." Matahari, bulan dan planet-planet tidak bisa melakukan sujud secara fisik atau bahkan menunjukkan kesahajaan. Namun, mereka dapat dalam mimpi Yusuf mendengar beliau dan menaati beliau, mungkin dengan cara mengubah lintasan mereka menuruti perintah beliau. Ketika beliau menaikkan orang tua beliau di atas singgasana, mereka, beliau, dan saudara-saudara beliau jatuh "sujadan." Bagaimana mungkin orang tua beliau "dinaikkan" ke singgasana dan pada saat yang bersamaan "jatuh" melakukan sujud secara fisik? Sekali lagi, makna kata ini dikonfirmasikan sebagai "mendengar dan menaati" Yusuf dan bukan secara fisik jatuh ke lantai untuk bersujud. Ayat 12:100 sekarang telah dapat dipahami secara lebih baik: Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka menjadi dalam keadaan mendengar dan menaati kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: "Wahai ayahku, inilah takbir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah setan menempatkan keretakan antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (12:100)
Sekarang setelah kita memahami makna "sujud" berdasarkan sang bacaan sebagai "mendengar dan menaati," semuanya menjadi jelas. Kata "al-masjid" dapat secara mudah ditafsirkan sebagai "institusi/implementasi dari mendengar dan menaati." Dengan membuang nama kepemilikan yang diciptakan manusia seperti "Al-Masjid Al-Haram" dan kembali kepada bentuk umum "al-masjid al-haram," maknanya secara tiba-tiba menjadi jelas. Kata "al-masjid" berarti "institusi/implementasi dari mendengar dan menaati" dan "al-haram" berarti "yang terlarang." Menggabungkan keduanya, kita dapatkan: "institusi/implementasi dari mendengar dan menaati yang terlarang." Dengan kata lain, itu adalah suatu sistem yang diterapkan untuk mengimplementasikan mendengarkan apa yang terlarang dan betul-betul menaati apa yang didengar dan merefleksikannya dalam tindakan-tindakan kita. Sebenarnya, merupakan hal yang umum dalam bahasa Arab untuk menggunakan "masjid" untuk bermaksud sebagai institusi dari ketaatan dan bukannya bangunan fisik. Oleh karena itu, kita mendengar tentang "al-masjid Al-Azhar" mengeluarkan sebuah "fatwa." Tentu saja tidak seorangpun berpikir bahwa bangunan fisik Al-Azhar mampu untuk mengeluarkan sebuah "fatwa" atau keputusan apapun yang harus ditaati. Seperti yang dapat kita lihat, meskipun terdapat korupsi luar biasa oleh kaum sektarian, kata "masjid" masih digunakan saat ini untuk mendenotasikan institusi ketaatan dan bukannya bangunan fisik. Berikut adalah ayat lain yang memberikan konfirmasi bahwa "masjid" bukanlah bangunan fisik: Dan demikianlah, Kami membuat mereka ditemukan, agar mereka itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, mereka berkata: "Dirikanlah sebuah bangunan di atas mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka." Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: "Sesungguhnya kami akan mengambil sebuah institusi dari mendengar dan menaati atas mereka." (18:21)
Perhatikan bahwa di dalam 18:21, mereka yang berargumentasi mengatakan: "dirikanlah bangunan fisik di atas mereka." Di lain pihak, mereka yang menang berkata bahwa mereka akan mengambil suatu "masjid" yang kontras terhadap bangunan fisik. Ayat semacam 7:31 tidak akan masuk akal jika berbicara mengenai bangunan fisik. Hai turunan "adam," ambillah barang-barang kalian yang indah di setiap institusi mendengar dan menaati, dan makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (7:31)
Apakah anda berhenti pada SETIAP Masjid dan mengambil beberapa barang yang indah? Jika tidak dan "masjid" berarti bangunan fisik suatu Masjid, maka anda tidak menaati Allah menurut 7:31. ayat 7:31 dapat dimengerti dengan bantuan 7:32. Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan barang-barang yang indah dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus bagi mereka di hari kiamat." Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (7:32)
Ayat 7:32 menanyakan pertanyaan retorik mengenai mereka yang mengharamkan benda-benda indah yang diciptakan Allah. Tentu saja, kita tidak seharusnya menaati mereka dan seharusnya kita menaati Allah dan institusi ketaatan kita haruslah mendukung dan memungkinkan banyak hal yang indah yang Allah ciptakan (ambilah barang-barang yang indah pada setiap "masjid"). Sekarang, marilah kita mendengarkan beberapa ayat yang memberitahukan kita mengenai yang terlarang: Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: - janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia,
- berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa,
- dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka;
- dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi,
- dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah melainkan dengan sesuatu yang benar." Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami.
- "Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.
- Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya.
- Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendati pun dia adalah kerabat (mu),
- dan penuhilah janji Allah.
Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat." Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan, sehingga jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu sadar. (6:153)
Ayat seperti 7:33 memberikan masukan tambahan: Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, dan mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan otorisasi untuk itu dan mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." (7:33)
Ayat lain seperti 5:3 mendaftarkan makanan-makanan yang terlarang. Sekarang setelah kita memahami bahwa "sujud" berarti "mendengar dan menaati," apakah kita akan mendengarkan dan menaati apa yang Allah larang dalam ayat-ayat di atas atau apakah kita akan menolaknya seperti mereka yang dideskripsikan di dalam ayat 84:21: Dan apabila Al Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka tidak mendengar dan menaati. (84:21)
Ekspresi "al-masjid al-aqsa" dapat ditafsirkan sebagai "pendengaran dan ketaatan yang tertinggi." Oleh karena itu, ayat 17:1 dapat ditafsirkan sebagai berikut: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari institusi mendengar dan menaati yang terlarang kepada institusi pendengaran dan ketaatan yang tertinggi yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (17:1)
Keadaan dari pendengaran dan ketaatan yang tertinggi/puncak dideskripsikan dalam ayat 7:206 dengan istilah yang berbeda: Sesungguhnya yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan mengabdi kepada Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya lah mereka mendengar dan menaati. (7:206)
Ayat-ayat 53:1-18 dan 81:15-23 berbicara mengenai tanda pada 17:1. Menurut ayat-ayat tersebut, keadaan "pendengaran dan ketaatan yang tertinggi" adalah keadaan yang di luar persepsi sempit kita. Untuk lebih dekat kepada keadaan tersebut, kita haruslah melewati tahap mendengar dan menaati yang terlarang ("al-masjid al-haram") dan kita harus tidak boleh terlalu bangga untuk mengabdi kepada Allah dan meninggikan Allah. Bila berhasil melaksanakan hal tersebut, barulah kita dapat berharap dapat dekat dengan Allah dalam keadaan pendengaran dan ketaatan yang tertinggi di dalam kebun: Di dekatnya ada kebun/surga tempat berlindung. (53:15)
Di lain pihak, siapapun yang buta terhadap tanda-tanda Allah dalam kehidupan ini, maka akan lebih buta lagi di akhirat (sebagai contoh, baca 17:72). Bagaimana dengan "ruku"? ...ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu jatuh "raki’an"... (38:24) Seseorang tidak bisa jatuh untuk membungkukan badannya. Namun, seseorang bisa jatuh pada lututnya. Oleh karena itu, jika seseorang menafsirkan "ruku" dalam 38:24 sebagai kegiatan fisik, maka berat jatuh pada lutut dan bukannya membungkukan badan seperti yang dilakukan kaum sektarian. Jika di lain pihak, seseorang menafsirkan ayat tersebut secara idiomatis dan "ruku" sebagai non-fisik (yakni kerendah-hatian), maka ini juga bukanlah yang dilakukan kaum sektarian karena mereka melakukannya secara fisik. Oleh karena itu, biar bagaimanapun penafsiran ayat 38:24, cara kaum sektarian melakukan "ruku" mereka salah. Dengan penelitian yang lebih seksama dari ayat-ayat lain di dalam sang bacaan, terlihat jelas bahwa "ruku" berarti kerendah-hatian. Pemahaman ini dikonfirmasikan oleh ayat 77:46-48, yang membicarakan mengenai para penjahat yang tidak melakukan "ruku": Makanlah dan bersenang-senanglah kamu sedikit; sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa. Kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mendustakan. Dan apabila dikatakan kepada mereka: "irka’u" (berendah hati), "la yarka’un" (mereka tidaklah berendah hati). (77:46-48)
Mirip dengan hal di atas, ayat 37:34-35 berbicara mengenai para penjahat: Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka bahwa tiada tuhan selain Allah, "yastakbirun" (mereka menyombongkan diri). (37:34-35)
Menghubungkan ayat-ayat tersebut, kita dapat melihat bahwa "menjadi angkuh" sama dengan "la yarka'un." Oleh karena itu, saya yakin bahwa "ruku" menandakan kerendah-hatian. Seperti "ruku" yang seringkali disebut bersamaan dengan "sujud," tidak menjadi angkuh "la yastakbirun" juga disebutkan dengan "sujud" dalam ayat 32:15. Lebih jauh lagi, bangsa Israel dan Maryam diperintahkan untuk "yarka'u" dalam ayat-ayat 2:43 dan 3:43 dengan orang-orangyang lain. Siapakah orang-orang yang lain tersebut? Mereka adalah setiap makhluk di langit dan bumi seperti yang dapat kita baca dalam 16:49, 7:206, dan 21:19. Ayat-ayat tersebut berbicara mengenai makhluk-makhluk lainnya "tidak bersikap angkuh" (yaitu kerendah-hatian). Institusi mendengar dan menaati yang terlarang mencakup suatu medium komunikasi ("bayt") dimana orang-orang dapat secara aman dan dalam ketenangan mendengarkan apa yang terlarang sehingga mereka dapat menaatinya. Kendaraan komunikasi tersebut boleh berupa bangunan fisik dimana orang-orang dapat berkumpul secara aman untuk mendengar apa yang terlarang dan (semoga) menaatinya. Meskipun begitu, tujuan utamabukanlah tempat fisik itu sendiri. Tempat fisik hanyalah alat untuk mendengarkan (yaitu komunikasi) apa yang terlarang bagi orang-orang. Sang rumah/"al-bayt" Kata "masjid" dan kata "bayt" bukanlah hal yang sama. Akibat dari memberikan konsep-konsep seperti "al-masjid al-haram" dan "al-bayt" nama-nama kepemilikan yang tidak diizinkan oleh Allah, kedua konsep tersebut telah digunakan secara bergantian oleh kaum sektarian. Dan jika anda bertanya kepada mereka, mereka tidak akan tahu perbedaan antara dua konsep yang berbeda tersebut. Konsep "bayt" (rumah) adalah cara bagaimana orang-orang mendengar apa yang terlarang. Rumah dari yang terlarang dapat dicerna sebagai kendaraan komunikasi dari institusi dari mendengar dan menaati yang terlarang. Dengan makna ini, hal tersebut bisa di mana saja yang orang-orang bisa berkumpul dengan aman untuk mendengarkan dan menaati apa yang terlarang, dan tidak dibatasi terhadap suatu lokasi fisik tertentu: Dan ketika Kami memerintahkan kepada Ibrahim di tempat rumah bahwa jangan menyekutukan Aku dengan apapun, dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang melewatinya, dan orang-orang yang tinggal, dan orang-orang yang mendengar dan menaati secara berendah hati. (22:26)
Dalam ayat 22:26, mohon diperhatikan bahwa tempat rumah adalah di mana saja perintah dalam ayat 6:151 (tidak menyekutukan apapun dengan Allah) didengar dan ditaati dan bukanlah suatu lokasi fisik tertentu. Dengan makna ini, bahkan suatu situs web virtual dimana tidak ada sesuatu apapun yang disekutukan dengan Allah dan di mana orang-orang dapat secara aman mengunjungi untuk mendengar dan menaati yang terlarang, dapat dianggap pula sebagai "al-bayt al-haram." Menurut ayat 27:91-92, bahkan bisa berupa seluruh kota dimana orang-orang dapat secara aman berkomunikasi dan menaati yang terlarang. Lokasi pertama untuk komunikasi seperti itu adalah suatu tempat yang dikenal dengan "Bakka": Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, ialah rumah yang di Bakkah, yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi dunia. (3:96)
Suatu rumah dan berupa "suatu petunjuk" hanya ketika salah satu fungsi utamanya adalah mengkomunikasikan petunjuk. Jadi sekali lagi kita dapat melihat bahwa yang penting bukanlah aspek fisik dari rumah tersebut. Selain itu, dari al-qur’an, tidak terdapat indikasi bahwa rumah pertama adalah satu-satunya rumah. Malahan, dengan menujukan perhatian kepada "Bakka" hanya sebagai lokasi rumah pertama, ayat tersebut mengindikasikan bahwa terdapat rumah-rumah setelah itu dimana orang-orang datang untuk mendengar apa yang terlarang dan (semoga) menaatinya. Contoh yang diberikan dalam ayat 29:41 menyediakan masukan terhadap makna "bayt," tetapi hanya bagi mereka yang memiliki ilmu pengetahuan: Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. (29:41)
Bahan yang membuat jaring laba-laba sebetulnya cukup kuat, jadi dalam aspek apa rumah si laba-laba tersebut dianggap lemah? Untuk mengerti ayat 29:41, kita harus mengerti dulu tujuan dari rumah ("bayt") yang bentuk jamaknya ada dalam ayat 29:41, yaitu "biyut" (rumah-rumah): Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai ketentraman bagimu, dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah dari kulit binatang ternak, yang kamu ringan membawanya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim; dan dari bulu mereka, bulu mereka, dan rambut mereka, kenyamanan dan kemudahan sampai waktu yang terbatas. (16:80)
Tujuan utama dari rumah-rumah adalah mereka memberikan ketentraman bagi kita. Sekarang, marilah kita lihat seberapa bagus rumah laba-laba dalam menjalankan fungsi utama ini. Laba-laba tidaklah menggunakan rumahnya untuk ketentraman dan istirahat, melainkan untuk berburu. Laba-laba merupakan pemburu di malam hari (di kegelapan). Menarik untuk diketahui, seperti rumah kita, waktu malam dideskripsikan sebagai ketentraman ("sakan") bagi kita di dalam ayat-ayat seperti 6:96 dan 10:67. Setelah semalam berburu, jaring laba-laba secara mudah menjadi aus. Jikalau jaring tersebut robek atau rusak, maka si laba-laba akan memakannya. Layaknya rumah kita, pasangan kita pun dideskripsikan sebagai ketentraman ("sakan") bagi kita: Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa tentram bersamanya. Maka setelah dicampurinya, pasangannya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan. Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami kebaikan, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur." (7:189)
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (30:21)
Menariknya, kebiasaan kawin dari laba-laba jauh sekali dari ketenangan. Sebagai contoh, laba-laba gurun pasir betina sering memakan pasangannya akibat kesalahan komunikasi (sebagai contoh, lihatlah: http://www.americanscientist.org/template/AssetDetail/assetid/14675). Jadi "al-bayt" merupakan tempat ketentraman dan kendaraan untuk secara aman mengkomunikasikan petunjuk. Oleh karena itu, ekspresi "al-bayt al-haram" dalam ayat 5:2 dan 5:97 dapat ditafsirkan sebagai "tempat ketentraman yang berfungsi untuk mengkomunikasikan secara aman apa yang terlarang." Ia merupakan tempat dimana orang-orang bisa datang untuk mendengar secara aman mengenai hal yang terlarang dan menerima tantangan dari rumah ("hajj al-bayt") tanpa takut akan penindasan. Dan Kami menjadikan rumah itu tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman, dan jadikanlah dari kegigihan Ibrahim sebuah pembelajaran yang menghubungkan [shalat]; dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail untuk membersihkan rumah-Ku untuk orang-orang yang melewatinya, yang tinggal, dan yang mendengar dan menaati secara berendah hati. (2:125)
Ini menjelaskan mengapa "al-bayt" (sang rumah) adalah untuk semua orang sedangkan "al-masjid al-haram" (institusi dari mendengar dan menaati yang terlarang) hanya tumbuh subur pada mereka yang tidak menyekutukan apapun dengan Allah. Dan serulah kepada manusia mengenai debat/tantangan. Mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan dengan segala macam kendaraan yang kurus. Mereka akan datang melalui setiap jalan yang tidak terhalangi. (22:27)
Ayat 22:26-27 membuat hal ini jelas bahwa ia harus dideklarasikan untuk semua orang, termasuk mereka yang menyekutukan Allah, utnuk datang pada "bayt" dan secara aman berdebat dan menantang pemahaman-pemahaman yang telah tertanam sebelumnya sehingga pemahaman kita mengenai yang terlarang dan bagaimana cara menaatinya dapat menjadi semakin baik. Di pihak lain, ayat-ayat seperti 9:17-18 dan 9:28 membuat jelas bahwa institusi mendengar dan menaati Allah hanyalah tumbuh subur pada mereka yang tidak menyekutukan apapun dengan Allah. Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan institusi-institusi mendengar dan menaati Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. (9:17)
Hanyalah yang memakmurkan institusi-institusi mendengar dan menaati Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta gigih dalam "shalat," dan menyediakan pemurnian ("zakat") dan tidak takut selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (9:18)
Menurut ayat 9:19, mereka yang menyekutukan Allah sebelumnya terlibat dalam institusi/implementasi dari mendengar dan menaati yang terlarang. Namun, ayat 9:28 menjelaskan bahwa mereka yang menyekutukan Allah tidak sepatutnya berpartisipasi lagi dalam institusi mendengar dan menaati yang terlarang: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu polusi, maka janganlah mereka mendekati institusi mendengar dan menaati yang terlarang sesudah tahun kepunyaan mereka yang ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (9:28)
Kaum kafir yang menyekutukan Allah memalingkan yang lain dari mendengar dan menaati yang terlarang. Sebagai contoh, mereka ingin yang lain menjadi seperti mereka dan melanggar perintah pertama dari ayat 6:151 dengan menyekutukan sesuatu dengan Allah. Kenapa Allah tidak mengazab mereka padahal mereka menghalangi orang dari institusi mendengar dan menaati yang terlarang, dan mereka tidaklah pernah menjadi penjaganya. Para penjaganya hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (8:34)
Seperti yang telah kita lihat sebelumnya, tujuan rumah dari yang terlarang ("al-bayt al-haram") adalah agar orang-orang dapat berkumpul dalam keamanan dan ketenangan untuk mendengar dan menaati yang terlarang. Apakah itu berupa rumah fisik maupun non-fisik seperti situs web, ia haruslah dibangun dengan dasar yang sama yaitu atas dasar yang dibangun oelh Ibrahim dan Ismail. Apakah dasar-dasar tersebut? Dalam ayat 2:127, dasar-dasar ("alqawa’id") adalah apa yang mencegah bangunan agar tidak ambruk: Dan Ibrahim meninggikan dasar-dasar dari rumah bersama Ismail: "Ya Tuhan kami terimalah ini dari kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (2:127)
Dalam ayat 16:26, kata yang persis sama yaitu "alqawa’id" muncul ketika kita diberitakan mengenai "bangunan yang runtuh ": Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan taktik, maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atapnya jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari. (16:26)
Ayat 16:26 memberikan hubungan antara ayat 2:127 di atas dengan ayat 9:109-110. Ayat 9:109 memberitahukan kita bahwa dasar-dasar ("alqawa’id") dari bangunan-bangunan kita haruslah ketakwaan kita kepada Allah dan ridha Allah: Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan-Nya itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang akan runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam api neraka? Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang lalim. Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (9:109-110)
Sekarang setelah kita telah mendapatkan pemahaman dasar mengenai "bayt," "masjid," dan "al-masjid al-haram" yang tidak didasari oleh nama-nama kepemilikan yang tidak diizinkan Allah, marilah kita mencoba untuk menghubungkan pemahaman ini kepada konsep-konsep lainnya yang berhubungan dengan institusi dari mendengar dan menaati yang terlarang. Target/"qibla" Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menaungi lagi Maha Mengetahui. (2:115)
Seperti yang jelas dari ayat 2:115, Allah berada di segala penjuru dan segala arah fisik adalah milik Allah. Ayat tersebut menyebutkan "timur dan barat" untuk mendenotasikan arah fisik. Menghadap ke arah fisik tertentu tidaklah mendatangkan hasil yang banyak seperti yang jelas terbaca dalam ayat 2:177: Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, mereka yang diberikan kendali, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang yang sedang dalam perjalanan, dan orang-orang yang meminta-minta; dan yang memperjuangkan kebebasan, teguh dalam "shalat," dan melakukan pemurnian; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (2:177)
Seperti yang terbaca jelas dari ayat 2:177, menghadap ke arah fisik adalah hal yang tidak relevan terhadap ketakwaan seseorang. Seperti ayat-ayat 2:115 dan 2:177, ayat 2:142 juga mengacu kepada "timur dan barat" dan oleh karena itu "qibla"/sasaran/target yang disebutkan di dalamnya merupakan sesuatu yang fisik: Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka dari targetnya (yang berupa bangunan fisik) yang dahulu mereka telah bertarget kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. (2:142)
Dalam ayat 2:142, orang-orang yang bodoh seperti mereka yang, sebagai contoh, tidak beriman sepenuhnya kepada keberadaan Allah yang terletak dimana-mana dan bersikeras untuk menghadap ke suatu arah fisik tertentu untuk berdo’a kepada Allah merasa heran mengenai apa yang menyebabkan meraka yang beriman tidak lagi menghadap "qibla"/target fisik yang dulunya mereka biasa hadap. Dan demikian Kami telah menjadikan kamu umat yang seimbang agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar rasul menjadi saksi atas kamu. Dan Kami tidak menetapkan target (yang berupa bangunan fisik) yang dulu melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh ia (yaitu: target fisik) terasa amat besar, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (2:143)
Layaknya ayat 6:112 dimana Allah "membuat" musuh-musuh setiap nabi mengada-adakan kebohongan agar diketahui siapa yang mengikuti kebohongan tersebut, kata "ja'al" dalam ayat 2:143 dapat dipahami dengan cara yang sama. Sebelum ayat ini diwahyukan, sang rasul, seperti orang-orang di sekitar beliau mungkin dulunya mempunyai target fisik ("qibla") dan Allah tetap mengizinkan ini terus berlangsung pada mulanya agar diketahui nantinya bahwa saat target tersebut diubah di waktu mendatang kepada arah yang sebenarnya, siapa yang mengikuti rasul dan siapa yang merasa terlalu keberatan meninggalkan target fisik tersebut. Malahan, arah fisik merupakan masalah yang amat besar bagi mereka sehingga mereka mengada-adakan perkataan-perkataan yang konyol seperti di bawah ini dan mengatasnamakan perkataan-perkataan tersebut kepada sang nabi: Bukhari, Volume 1, Book 8, Number 388: Narrated Ali bin Abdullah from Sufyan from Alzuhri from Ata bin Yazid from Abu Aiyub Al-Ansari: The Prophet is reported to have said, "While defecating, neither face nor turn your back to the Qibla but face either east or west." Narasi oleh Ali bin Abdullah from Sufyan dari Alzuhri dari Ata bin Yazid dari Abu Aiyub Al-Ansari: Nabi dilaporkan bersabda, "Kala buang air besar, janganlah kau menghadap ataupun memunggungi Qibla, tapi menghadaplah ke timur atau barat."
Tentu saja sang nabi tidak akan mungkin pernah mengutarakan hal tidak masuk akal tersebut. Seperti yang terbaca jelas dari 2:144, rasul tidaklah puas dengan target fisik, sehingga arah beliau dikatakan berputar tanpa arah di langit, dengan kata lain, tanpa arah fisik. Sungguh Kami melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke target yang kamu sukai. Palingkanlah arahmu kepada institusi mendengar dan menaati yang dilarang. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah arahmu ke sana. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi sang buku (al-kitab) memang mengetahui, bahwa itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (2:144)
Ayat 2:144 membuat jelas bahwa target kita dalam situasi apapun haruslah mengimplementasikan institusi mendengar dan menaati yang terlarang. Seperti yang jelas terbaca dari bagian akhir ayat 2:144, satu-satunya syarat dari "qibla"/target yang sebenarnya adalah diberikannya buku dari Tuhan kita. Tidak ada suatu syarat untuk mempunyai kompas atau harus berkonsultasi dengan peta untuk mengetahui "qibla"/target sebenarnya dari Tuhan kita. Oleh karena itu, ayat 2:145 sekarang menjadi masuk akal sepenuhnya: Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang yang diberi sang buku (al-kitab), semua tanda, mereka tidak akan mengikuti targetmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti target mereka, dan sebahagian mereka pun tidak akan mengikuti target sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang lalim. (2:145)
Mereka yang diberikan sang buku ("al-kitab") mengikuti target-target non-fisik lainnya. Sebagai contoh, kaum Nazareth mengakui bahwa Yesus akan menyelamatkan mereka dan target untuk kebanyakan dari mereka adalah untuk menerima Yesus sebagai juru selamat sehingga beliau menerma mereka di dalam surga! Namun meskipun beberapa dari mereka yang diberikan al-kitab yang mengadopsi target fisik, seperti mereka yang telah diberikan sang bacaan namun lalu membuangnya, mereka tidaklah mengikuti target antara satu dengan yang lain. Merupakan fakta tak terbantahkan bahwa karena kelengkungan bumi, bahwa bangunan fisik yang berukuran lebar 35 kaki, panjang 40 kaki, dan tinggi 50 kaki (bahkan bukan merupakan kubus) yaitu bangunan batu di Mekkah terletak di bawah horizon, sehingga sangatlah sulit untuk menghadapnya. Untuk secara fisik menghadapnya, seseorang harus memetakan garis lurus antara mukanya dengan bangunan batu tersebut yang akan menembus bumi (yaitu dia akan melihat ke arah bawah atau tembus bumi). Sehingga, kebanyakan kaum sektarian sebenarnya menghadap ke luar angkasa. Dengan fakta bahwa sedikit perbedaan sudut akan menjadi perbedaan yang besar ketika diproyeksikan pada jarak yang amat jauh, masing-masing kaum sektarian kemungkinan secara fisik menghadap ke arah wilayah acak yang berbeda-beda di luar angkasa sana. Dalam ayat 2:150, seperti sang nabi, kita tanpa ragu diperintahkan untuk menghadapkan arah kita kepada "al-masjid al-haram" dimanapun kita berada (yakni secara permanen) dan bukannya hanya saat melakukan ritual tertentu. Kebenaran ini bersinar terang meskipun dari terjemahan kaum Sunni yaitu Yusuf Ali dari ayat yang sama di bawah ini: Yusufali: So from whencesoever thou startest forth, turn thy face in the direction of the sacred Mosque; and wheresoever ye are, turn your face thither: That there be no ground of dispute against you among the people. Except those of them that a bent on wickedness; so fear them not, but fear Me; and that I may complete my favours on you, and ye May (consent to) be guided. (2:150) Dan dari mana saja kamu mulai, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjid suci. Dan di mana saja kamu berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya. Agar tidak ada dasar perselisihan bagi manusia atas kamu. Kecuali orang-orang yang condong kepada kekejian di antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka, namun takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu (rela) untuk diberikan petunjuk. (2:150 - DepAg)
Seperti yang dapat kita lihat, Allah membuat hal tersebut mustahil secara logika bahwa seseorang dapat menyatakan berdasarkan sang bacaan bahwa "wajah" adalah wajah fisik dan "qibla" secara spesifik berhubungan dengan "shalat" atau bahwa "qibla" adalah arah fisik. Meskipun terdapat bukti dari sang bacaan yang mereka tahu betul dan bukti logika sederhana, kaum sektarian bersikeras untuk berfantasi bahwa mereka menghadap kepada bangunan batu pujaan mereka saat mereka melakukan apa yang mereka sebut sebagai "shalat" dan mebesar-besarkan permasalahan target fisik tersebut. Namun demikian, mereka tidaklah dapat mengubah kebenaran yang termuat dalam sang bacaan. Mereka yang telah Kami beri al-kitab mengenalnya seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (2:146-147)
Menariknya, ayat 2:145 mempunyai banyak kesamaan dengan ayat 2:120: Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang yang diberi sang buku (al-kitab), semua tanda, mereka tidak akan mengikuti targetmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti target mereka, dan sebahagian mereka pun tidak akan mengikuti target sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang lalim. (2:145)
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti ajaran mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah sang petunjuk." Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (2:120)
Jika kita menukar "ajaran" dan "target," maka kita akan mendapatkan hasil yang sama. Dalam konteks ayat-ayat tersebut, mereka hampir terlihat sebagai sinonim. Kedua ayat diakhiri dengan peringatan yang persis sama terhadap mengikuti fantasi mereka yang telah diberikan al-kitab setelah mendapatkan pengetahuan. Jadi ini membawa kita ke pertanyaan berikutnya: Apakah hubungan antara ("qibla"), ajaran ("milat"), dan obligasi ("diin")?
<< Start < Prev 1 2 Next > End >> |