SihirOleh Ayman (e-mail:
This email address is being protected from spam bots, you need Javascript enabled to view it
) Terjemahan Tata (
This email address is being protected from spam bots, you need Javascript enabled to view it
) Judul asli: Magic
Banyak orang dari agama yang berbeda, termasuk paham Sunni, mempercayai sihir. Beberapa diantaranya bahkan mengatakan bahwa ada sihir baik dan sihir jahat dan mereka percaya bahwa sihir "baik" akan menguntungkan mereka. Berikut ini sebuah contoh Hadits Bukhari yang dijadikan dasar pandangan kaum Sunni tersebut:
Kitab Bukhari, Jilid 7: #671: Diceritakan oleh Saad: "Barangsiapa memakan tujuh kurma 'Ajwa di pagi hari maka tidak akan mempan sihir atau pun racun pada hari itu."
Hadits di atas sering diulang-ulang dalam berbagai bentuk yang sedikit berbeda baik dalam kitab Bukhari mau pun Muslim dan karenanya dianggap termasuk hadits yang sahih (Sebagai contoh, lihat Kitab Bukhari, Jilid 7: #356 - Kitab Bukhari, Jilid 7: #663 - Kitab Bukhari, Jilid 7: #664 - Kitab Muslim, Buku 023: #5081).
Ketika seseorang berusaha membongkar kepalsuan yang nyata dari Hadits semacam ini, jawaban populer dari kaum Sunni adalah mereka percaya terhadap sihir karena hal itu terdapat dalam Al-Qur'an dan mereka mengutip surat 2 ayat 102 untuk mendukung pandangannya itu. Bahkan ada pula yang mengatakan bahwa sihir itu semacam teknologi bagi orang primitive. Sebelum menerima pandangan Sunni mengenai sihir, sebaiknya siapa pun memeriksa terlebih dahulu apa yang dikatakan Al-Qur'an mengenai hal itu.
Berikut ini terjemahan dari surat 2 ayat 102: Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Sulaiman tidak kafir, melainkan setan-setan itulah yang kafir dengan mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua raja yaitu Harut dan Marut di Babilonia. Mereka tidak mengajarkan kepada seorang pun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan, maka janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari mereka apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seseorang dengan pasangannya, dan mereka tidak menyakiti siapa pun dengan sihirnya kecuali atas izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang menyakiti mereka dan tidak memberi manfaat, dan mereka telah mengetahui bahwa barang siapa yang menukarnya dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, jika saja mereka mengetahui. (2:102)
Surat 2 ayat 102 tidak menegaskan apa itu sihir. Ayat itu hanya mengatakan bahwa setan (yang bisa berupa manusia atau jin) mengajarkan kepada manusia dua hal: Sihir dan apa yang diturunkan kepada dua raja Babilonia. Dari ayat ini, tidak mungkin untuk mengatakan yang mana (sihir atau yang diturunkan kepada dua raja itu) yang digunakan untuk mencoba memisahkan pasangan itu. Meski demikian, seperti dijelaskan dalam ayat tadi, kedua hal yang mereka pelajari tidak memberi manfaat bagi orang yang mempelajarinya. Jadi, adakah ayat lain di dalam Al-Qur'an yang bisa membantu kita memahami definisi sihir?
Ia berkata: "Lemparkanlah." Maka ketika mereka melemparkan, mereka menyulap/menipu mata/pandangan orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan). (7:116)
Jika Tuhan mengatakan sihir di dalam surat 7 ayat 116 sebagai "menakjubkan" maka hal itu pasti sesuatu yang luar biasa dilihat dari standar mana pun. Meski demikian, berdasarkan surat 7 ayat 116 tetap saja sihir yang "menakjubkan" itu bukan apa-apa melainkan tipuan terhadap pandangan orang, atau dengan kata lain bukan sesuatu yang nyata.
Surat 20 ayat 66 menegaskan bahwa berbeda dengan teknologi, sihir itu tidak nyata, hanya ilusi penglihatan:
Dia berkata: "Silakan kamu sekalian melemparkan". Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, memberi ilusi kepadanya seakan-akan mereka bergerak, disebabkan oleh sihir mereka. (20:66)
Bahkan kaum kafir pun sesungguhnya mengetahui bahwa sihir itu hanya tipuan dan tidak nyata, sehingga mereka menolak perintah Tuhan karena mereka menyangka bahwa itu hanya tipuan:
Tentulah mereka berkata: "Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang-orang yang kena sihir" (15:15)
Hati/pikiran mereka dalam keadaan lalai dan mereka diam-diam bersekongkol, mereka yang menyebabkan ketidakadilan/penindasan (berkata): "Bukankah orang itu hanyalah seorang manusia seperti kamu? Apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya?" (21:3)
Maka tatkala Musa datang kepada mereka dengan mukjizat-mukjizat/bukti-bukti Kami yang nyata, mereka berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang dibuat-buat dan kami belum pernah mendengar hal seperti ini pada nenek moyang kami dahulu". (28:36)
Jadi Tuhan membuktikan kesalahan kaum kafir di hari pembalasan dengan cara memberitahu mereka bahwa apa yang mereka lihat adalah kenyataan dan bukan sihir:
Maka apakah ini sihir? Ataukah kamu tidak melihat? (52:15)
Teknologi berhasil merubah kehidupan manusia dan menjadikannya lebih baik. Sebaliknya, karena sihir itu hanya ilusi visual yang menipu pandangan, sihir tidak berhasil merubah apa pun pada kenyataannya. Oleh sebab itu, anak kecil pun tahu bahwa pesulap sirkus tidak benar-benar membuat saputangan hilang dari alam raya ini.
Musa berkata: "Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran waktu ia datang kepadamu, sihirkah ini?" padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan". (10:77)
‘Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang'. (20:69)
Tentu saja, beberapa aspek teknologi menggunakan "tipuan mata" seperti sihir. Misalnya, rangkaian gambar pada TV mengandalkan tipuan mata hingga kita berpikir bahwa gambar-gambar tersebut merupakan rangkaian yang terus menerus. Mirip dengan itu, kacamata 3 dimensi memperdaya kita seakan-akan kita melihat objek 3 dimensi. Namun demikian, dalam kasus tadi, teknologinya sendiri (TV dan kacamata 3 dimensi) adalah sesuatu yang nyata dan bukan sihir.
Sebagai akibat dari tahayul atas Hadits Bukhari dan hadits-hadits lainnya itu, banyak orang Sunni yang percaya berbagai keajaiban sihir bisa dilakukan oleh orang suci (aulia). Mereka menggunakan Qur'an untuk ritual-ritual tahayul dan membacakan beberapa ayat atau surat dalam hitungan tertentu seraya berpikir bahwa hal itu bisa menangkal sihir atau membantu mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Upacara-upacara yang tidak masuk akal semacam mengusir roh jahat dan "ruqyah" dilakukan untuk menyembuhkan penyakit atau mengusir setan (untuk contoh, lihat Kitab Bukhari, Jilid 7, #633).
Memang, sebagaimana disebutkan dalam surat 2 ayat 102, banyak cendekiawan jahat Sunni yang telah menjual buku-buku dan rekaman yang mengajarkan penyembuhan sihir jahat dan mengajarkan apa disebut sebagai sihir baik ("alsihr alhalal") dan itu semua laku keras di kalangan Sunni. Akibatnya, banyak kaum Sunni yang percaya bahwa mantera (a'amal) bisa membantu atau juga menyakiti mereka dan karenanya mereka menghabiskan banyak uang dan upaya untuk menukarnya dengan mantera dan mantera penolak.
...sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa barang siapa yang menukarnya dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, jika saja mereka mengetahui. (2:102) Seungguhnya, amat jahatlah perbuatan mereka!
KESIMPULANSebagai kesimpulan, menurut Al-Qur'an, sihir memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
- Sihir itu tidak nyata.
- Sihir hanyalah tipuan/kebohongan yang dibuat-buat untuk menipu penglihatan.
- Sihir tidak membawa manfaat bagi yang menerimanya dan mempercayai manfaatnya.
- Sihir merugikan orang yang mempercayainya dan berpikir bahwa hal itu bermanfaat bagi dirinya.
- Sihir tidak bisa merubah apa pun dalam kenyataan.
- Barangsiapa yang menganggap bahwa sihir bermanfaat bagi dirinya maka celakalah dia di hari kemudian.
Setelah memperoleh pemahaman dari Al-Qur'an, mari kita telaah kembali hadits Bukhari yang dikutip pada bagian terdahulu:
Kitab Bukhari, Jilid 7: #671: Diceritakan oleh Saad: "Barangsiapa memakan tujuh kurma 'Ajwa di pagi hari maka tidak akan mempan sihir atau pun racun pada hari itu."
Bagaimana sifat dari hadits Bukhari dan hadits lain yang seperti ini?
- Ini tidak masuk akal karena seseorang yang makan tujuh butir kurma 'Ajwa' di pagi hari lalu minum sianida pasti akan mati.
- Ini hanya kebohongan yang dibuat-buat untuk menipu orang-orang dan menentang Nabi.
- Tidak ada manfaat bagi orang yang menerima dan mempercayai manfaatnya.
- Adalah berbahaya bagi orang yang menerima hal itu dan dengan sembrono mendekati ular setelah memakan tujuh butir kurma.
- Ini tidak akan berhasil merubah apa pun pada kenyataannya karena ular tetap saja beracun.
- Barangsiapa yang menerima hal ini ke dalam agamanya maka celakalah dia di hari kemudian.
Sesungguhnya mereka yang menciptakan kebohongan/kepalsuan adalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.. (16:105)
|