Author Topic: Selamatan Orang yang sudah meninggal.  (Read 1099 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline bennydestosetiawan

  • Glamhoth
  • Posts: 18
    • View Profile
    • TJILALOENG
Selamatan Orang yang sudah meninggal.
« on: September 30, 2012, 06:05:14 PM »
Salaam Alaikum,

Di Indonesia itu kalau orang meninggal kebanyakan ada selamatannya (mungkin biar slamet), 7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1000 hari.

Padahal tetangga saya yang nasrani tapi asli jogja, juga melakukan selamatan seperti itu untuk orang yang sudah meninggal.

Setahu saya itu tradisi jawa yang dulu beragama hindu, nah di kitab wedha nya hindu bab kataman, ada perintah untuk melakukan selamatan seperti diatas apabila keluarga yang ditinggalkan tidak dapat melakukan upacara pembakaran mayat (ngaben), maka pada hari2 tersebut digantikan dengan acara selamatan.

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk."  (QS. Al-An'aam: 82)

"Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan antara yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui."  (QS. Ali-'Imran: 71)

Analoginya seperti ini, kita memasak gulai kambing yang disembelih dengan menyebut nama Allah, ini jelas halal, tapi kemudian kedalam gulainya kita campurkan daging babi, langsung gulai tersebut menjadi haram meskipun kadar babinya sedikit.

Kalau kita mencampurkan ibadah Islam dengan sedikit ibadah agama lain yang jelas-jelas agama lain itu mempersekutukan Allah, apakah tidak menjadi haram ?

Silahkan direnungkan.

Wassalam

Offline Gibor

  • Peredhil
  • ***
  • Posts: 454
    • View Profile
Re: Selamatan Orang yang sudah meninggal.
« Reply #1 on: October 01, 2012, 11:07:21 AM »
Salaam Alaikum,

Di Indonesia itu kalau orang meninggal kebanyakan ada selamatannya (mungkin biar slamet), 7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1000 hari.

Padahal tetangga saya yang nasrani tapi asli jogja, juga melakukan selamatan seperti itu untuk orang yang sudah meninggal.

Setahu saya itu tradisi jawa yang dulu beragama hindu, nah di kitab wedha nya hindu bab kataman, ada perintah untuk melakukan selamatan seperti diatas apabila keluarga yang ditinggalkan tidak dapat melakukan upacara pembakaran mayat (ngaben), maka pada hari2 tersebut digantikan dengan acara selamatan.

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk."  (QS. Al-An'aam: 82)

"Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan antara yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui."  (QS. Ali-'Imran: 71)

Analoginya seperti ini, kita memasak gulai kambing yang disembelih dengan menyebut nama Allah, ini jelas halal, tapi kemudian kedalam gulainya kita campurkan daging babi, langsung gulai tersebut menjadi haram meskipun kadar babinya sedikit.

Kalau kita mencampurkan ibadah Islam dengan sedikit ibadah agama lain yang jelas-jelas agama lain itu mempersekutukan Allah, apakah tidak menjadi haram ?

Silahkan direnungkan.

Wassalam

Jawaban saya, Tidak sama sekali, mengapa?

yang dilarang itu mencampur adukkan yang bathil dengan yang haq, pertama definisi anda mengenai bathil dan haq itu apa?
yang di kritik Allah itu objek sesembahan mereka atau cara menyembah mereka? setahu saya objek sesembahan mereka.

tahlilan berapa harian itu menurut saya tidak masalah selama masih dianggap TRADISI belaka, apakah tradisi itu bagus? saya belum tahu bagaimana pandangan Quran mengenai mendoakan orang yang sudah mati, namun setahu saya tahlilan itu diawali dengan mengaji surat Yasin, yang mana sebenarnya itu sangat bagus jika para pembaca mengerti bacaan itu, jadi saya kira yang harus dirubah adalah, sang pengikut tahlilan itu wajib mengerti apa yang mereka lakukan.

analogi agan juga saya kira tidak tepat, Babi & kambing itu benar-benar bisa dilihat perbedaannya, namun selamatan itu tidak seterang itu, melainkan tafsiran atau interpretasi orang itu saja sehingga tidak absolut seperti Babi & Kambing