Author Topic: Quran&Hadis..  (Read 3485 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline sayang

  • Elandili
  • ****
  • Posts: 590
    • View Profile
Quran&Hadis..
« on: January 10, 2009, 10:08:14 AM »
Qaran & Hadis ..
sentuh quran
kutip di sini :
http://myquran.org/forum/index.php/topic,48062.0.html
pindi berkata :

asalamunalaikum warahmatullahi wabarakatuh ..

saya ingin tanya :
apakah boleh kita sentuh quran tanpa wuduk ?

sekian terimakasih
--------------

wisdom berkata::

boleh, tapi ahsannya wudhu dulu ...
(saya pernah buat tulisan tentang hukum wanita haid membaca Al Quran atau berdiam di mesjid, secara esensi hampir sama dengan yang antum tanya, bedanya: pertanyaan antum ndak menjelaskan kondisinya, apakah sedang berhadats atau tidak, hadats kecil atau besar?, tapi gakpapa .... mohon maaf saya tidak mengedit tulsian ini ... capek ..)

Masalah ini adalah masalah khilafiyah, yang sudah lama menjadi bahan silang pendapat di antara ulama. Secara garis besar mereka terbagi menjadi dua kelompok, ada yang mengharamkan wanita haid berdiam di mesjid (kecuali sekedar lewat), ada pula yang mengatakan boleh dan tak ada larangan. Namun demikian Allah Ta?ala berfirman:

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An Nisa (4): 59)

Kita akan lihat dalil masing-masing kelompok, sebagai berikut:

1. Alasan yang Mengharamkan kecuali sekedar lewat saja

Kelompok ini yakni madzhab Abu Hanifah, Malik, dan Asy Syafi?i, memiliki beberapa dalil untuk menguatkan pendapat mereka. Yaitu:

A. Firman Allah Ta?ala:

?Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula bagi yang sedang dalam keadaan junub, terkecuali sekedar lewat saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.?

Tentang ayat di atas, Imam Ibnu Katsir berkata: ?Allah Ta?ala melarang hambanya orang-orang beriman melakukan shalat dalam keadan mabuk, yang membuatnya selagi shalat tidak memahami apa yang sedang diucapkan, begitu pula dilarang mendekati tempat shalat ?yakni mesjid- kecuali sekedar melintas saja, dari pintu menuju pintu, bukan untuk berdiam.? (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur?an Al ?Azhim, Juz. 2, Hal. 308. Darut Thayyibah linnasyr wa Tauzi?. Cet. 2, 1999M/1420H. tahqiq: Sami bin Muhamamd Salamah. Al Maktabah Asy Syamilah)

Berkata Ibnu ?Abbas tentang firman Allah Ta?ala ?Dan jangan pula bagi yang sedang dalam keadaan junub, kecuali sekedar lewat saja,? yaitu jangan kamu masuk ke mesjid dalam keadaan junub, kecuali hanya sekedar lewat saja. Dia berkata: sekali lewat saja tidak duduk. Ini juga diriwayatkan dari Abdullah bin Mas?ud, Anas, Abu Ubaidah, Said bin al Musayyab, Abu adh Dhuha, Atha?, Masruq. Mujahid, ?Ikrimah, Ibrahim an Nakha?i, Ibnu Syihab, Zaid bin Aslam, Abu Malik, Amru bin Dinar, Al Hakam bin Utaibah, Yahya bin Said, Qatadah, dan lain-lain. (Imam Ibnu Katsir, Ibid, Juz. 2, Hal. 311)

Imam Ibnu Katsir berkata, ?Dari ayat ini, para imam berhujjah bahwa diharamkannya orang yang junub berdiam di mesjid, kecuali sekedar melewati, begitu pula bagi wanita haid dan nifas, secara esensi sama.? (Ibid, Juz. 2, hal. 311)

Sebagian ulama salaf menafsiri bahwa maksud kalimat,?Dan jangan pula bagi yang sedang dalam keadaan junub, kecuali sekedar lewat saja,? adalah kecuali sekedar lewat untuk keluar darinya (mesjid).

Dari Abu Ubaidah bin Abdullah, dari ayahnya (yakni Ibnu Mas?ud), dia berkata: ?yaitu lewat di mesjid.?

Dari Qatadah, dari Sa?id, tentang orang junub: ?yaitu sekedar lewat di mesjid hanya berdiri, tidak duduk, dan bukan dengan berwudhu.?

Dari Ibnu Abbas: ?Tidak mengapa bagi orang yang junub dan haid untuk melewati saja, selama dia tidak duduk di dalamnya (mesjid).?

Dari Abu az Zubeir, dia berkata: ?Salah seorang di antara kami ada yang junub lalu dia melewati mesjid.?

Dari Al Hasan, dia berkata: ?Orang junub melewati mesjid, tanpa duduk di dalamnya.?

Dari Ibrahim, dia berkata: ?Jika dia tidak menemukan jalan lain, kecuali mesjid, maka hendaknya dia sekedar lewat di dalamnya.? Dari dia juga, ?Jika seorang junub, tidak mengapa dia melewati mesjid, jika memang tidak ada jalan lain.?

Dari Said bin Jubeir, dia berkata: ?Orang junub hanya melewati mesjid, tidak boleh duduk di dalamnya.? Dan yang serupa juga diriwayatkan oleh Ikrimah, Ibnu Syihab Az Zuhri, dan lan-lain. (Imam Abu Ja?far Ibnu Jarir Ath Thabari, Jami?ul Bayan fi Ta?wilil Qur?an, Juz. 8, Hal. 382-384. Cet. 1, 2000M/1420H. Mu?asasah ar Risalah. Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam Ibnu Jarir dan Imam Ibnu Katsir juga mendukung pendapat ini.

FirmanNya: ?hingga kalian mandi,? merupakan dalil bagi tiga Imam, yakni Abu Hanifah, Malik dan Syafi?i bahwa haram bagi seorang yang junub berdiam di mesjid, sampi dia mandi atau tayamum, jika tidak ditemukan air. Jika tidak maka cukup untuk melewati saja. Sedangkan madzhab Imam Ahmad, baginya jika seorang junub berwudhu maka baginya boleh diam dimesjid, sebagaimana riwayat dari Said bin Manshur dalam Sunannya dengan sanad yang shahih bahwa para sahabat nabi melakukan hal tersebut. (Tafsir Al Qur?an Al Azhim, Juz. 2, hal. 313)

B. Hadits-Hadits Rasulullah Shallallahu ?Alaihi wa Sallam

Hadits pertama:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ

قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاوِلِينِي الْخُمْرَةَ مِنْ الْمَسْجِدِ قَالَتْ فَقُلْتُ إِنِّي حَائِضٌ فَقَالَ إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِي يَدِكِ

Dari ?Aisyah, dia berkata: Berkata kepadaku Rasulullah Shallallahu ?alaihi wa Sallam: ?Ambilkan untukku khumrah (kain penutup kepala) dari mesjid.? ?Aisyah berkata, ?Aku menjawab: ?Sesungguhnya aku sedang haid.? Beliau bersabda: ?Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu.? (HR. Jami?ush Shahih, Imam Muslim, Juz. 2, Hal. 162, No hadits. 450, di hadits no 452, bukannya khumrah tetapi tsaub (baju). Sunan Abu Daud, Juz 1, Hal. 332, No hadits. 28. Sunan At Tirmidzi, Juz. 1, Hal. 227, No hadits. 124. Sunan An Nasa?i, Juz. 1, Hal. 445, No hadits. 270, riwayat ini juga disebut tsaub. Sunan Ibnu Majah, Juz. 2, Hal. 293, No hadits. 624. Musnad Ahmad, Juz. 11, Hal. 162, No hadits. 5126. Al Maktabah Asy Syamilah)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa jika sekedar lewat, yakni mengambil barang saja tanpa duduk atau berdiam, tidaklah mengapa. Penegasan ?Aisyah, ?Sesungguhnya aku sedang haid.? Merupakan dalil yang menunjukkan kelaziman saat itu bahwa wanita haid tidak boleh masuk mesjid. Jika boleh, tentu ?Aisyah langsung mengambil khumrah tersebut, tanpa harus memberitahu Rasulullah Shallallahu ?Alaihi wa Sallam bahwa beliau sedang haid.

Hadits kedua:

Dari ?Aisyah bahwa Rasulullah Shallalalhu ?Alaihi wa Sallam bersabda:

إني لا أحلّ المسجد لحائض ولا جنبٍ

?Sesungguhnya aku, tidak halalkan mesjid untuk wanita haid dan orang junub.? (HR. Sunan Abu Daud, Juz. 1, Hal. 294, No hadits. 201. As Sunan Al Kubra Lil Baihaqi, Juz. 2, Hal. 442. Shahih Ibnu Khuzaimah, Juz. 5, Hal. 136, No hadits. 1263. Ma?rifatus Sunan wa Atsar Lil Baihaqi, Juz. 4, Hal. 126, No hadits. 1376. Al Maktabah Asy Syamilah)

Dishahihkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah (Lihat Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Hal. 29, Bab al Ghusli wa Hukmi al Junubi, No hadits 104. Cet.1, 2004M/1425H. Darul Kutub al Islamiyah. Tahqiq: Syaikh ?Idrus bin Al ?Idrus dan ?Ali bin Abi Bakar as Saqqaf).

Hadits di atas sangat tegas pelarangannya.

Hadits ketiga:

عن أبي سعيد الخُدري قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يا علي، لا يحل لأحد أن يُجْنب في هذا المسجد غيري وغيرك

Dari Abu Said al Khudri, dia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ?Alaihi wa Sallam bersabda: ?Wahai Ali, tidak dihalalkan bagi seseorang yang junub terhadap mesjid ini, selainku dan selainmu.?(HR. Sunan At Tirmidzi, Juz. 12, Hal. 190. No hadits. 3661. Kata Imam At Tirmidzi hadits ini hasan gharib, tidak dikenal jalurnya kecuali dari jalan ini. As Sunan Al Kubra Lil Baihaqi, Juz. 7, Hal. 66)

Demikianlah dalil-dalil yang digunakan oleh kelompok imam madzhab yang mengharamkan wanita haid (juga nifas dan orang junub) berdiam di mesjid, kecuali sekedar lewat saja.

 

2. Alasan Kelompok yang Membolehkannya (asalkan dia berwudhu)

Ini adalah pendapat dari Imam Ahmad bin Hambal, Imam Ibnu Hazm, dan sebagian para sahabat nabi, dan ulama salaf. Mereka beralasan:

A. Firman Allah Ta?ala

Mereka beralasan dengan ayat yang sama dengan kelompok yang mengharamkan (QS.An Nisa (4): 43). Bagi mereka ayat tersebut tidak ada kaitannya dengan mesjid, melainkan tentang orang yang safar (bepergian) yang sedang mengalami junub dan tidak mendapatkan air. Faktanya, secara lahiriyah, ayat tersebut memang tidak menyebut-nyebut mesjid. Silahkan lihat ayat tersebut dan terjemahannya.

Dari Ali bin Abi Thalib dia berkata tentang ayat, ?Dan jangan pula bagi yang sedang dalam keadaan junub, kecuali sekedar lewat saja,? artinya janganlah dia mendekati shalat, kecuali jika dia musafir yang mengalami janabah, dia tidak menemukan air, maka shalatlah ketika sudah menemukan air (untuk mandi).? (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur?an Al Azhim, Juz. 2, Hal. 312)

Imam Abu Ja?far Ibnu Jarir ath Thabari telah memaparkan dalam tafsirnya, keterangan dari para salaf bahwa maksud ayat itu adalah tentang safar dan musafir, yang tidak menemukan air, maka boleh baginya tayamum. Contohnya:

Dari Ibnu Abbas tentang firmanNya ?Dan jangan pula bagi yang sedang dalam keadaan junub, kecuali sekedar lewat saja,? dia berkata: ?Musafir.? Ibnu Al Mutsanna berkata: ?tentang safar.?

Dari Ali bin Abi Thalib: ?Jika kalian musafir, dan tidak menemukan air, maka tayamumlah.?

Dari Said bin Jubair: ?Musafir.?

Dari Mujahid: ?Musafir, jika dia tidak menemukan air, maka dia bertayamum dan shalat ketika tiba waktunya.?

Dari Hasan bin Muslim: ?Jika ia musafir, dan tidak menemukan air, maka tayamumlah.?

Dari Al Hakam: ?Musafir yang mengalami junub, jika ia tidak menemukan air maka hendaknya dia tayamum.?

Dari Abdullah bin Katsir: ?Dahulu kami mendengar bahwa ayat itu tentang safar.?

Dari Ibnu Zaid: ?Itu adalah musafir yang tidak menemukan air, maka wajib baginya bertayamum dan shalat.? Dia berkata: ?Ayahku juga berkata demikian.? (Imam Abu Ja?far Ibnu Jarir Ath Thabari, Jami?ul Bayan fi Ta?wilil Qur?an, Juz. 8, hal. 380-382. Cet. 1, 2000M/1420H. Mu?assah ar Risalah. Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir. Al Maktabah Asy Syamilah)

 

B. Dalil dari Hadits-Hadits Rasulullah Shallallahu ?Alaihi wa Sallam

Kelompok yang membolehkan juga menggunakan dalil yang digunakan kelompok yang mengharamkan.

Hadits pertama:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ

قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاوِلِينِي الْخُمْرَةَ مِنْ الْمَسْجِدِ قَالَتْ فَقُلْتُ إِنِّي حَائِضٌ فَقَالَ إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِي يَدِكِ

Dari ?Aisyah, dia berkata: Berkata kepadaku Rasulullah Shallallahu ?alaihi wa Sallam: ?Ambilkan untukku khumrah (kain penutup kepala) dari mesjid.? ?Aisyah berkata, ?Aku menjawab: ?Sesungguhnya aku sedang haid.? Beliau bersabda: ?Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu.? (HR. Jami?ush Shahih, Imam Muslim, Juz. 2, Hal. 162, No hadits. 450, di hadits no 452, bukannya khumrah tetapi tsaub (baju). Sunan Abu Daud, Juz 1, Hal. 332, No hadits. 28. Sunan At Tirmidzi, Juz. 1, Hal. 227, No hadits. 124. Sunan An Nasa?i, Juz. 1, Hal. 445, No hadits. 270, riwayat ini juga disebut tsaub. Sunan Ibnu Majah, Juz. 2, Hal. 293, No hadits. 624. Musnad Ahmad, Juz. 11, Hal. 162, No hadits. 5126. Al Maktabah Asy Syamilah)

Menurut kelompok ini, hadits ini jelas-jelas membolehkan seseorang yang haid untuk masuk ke mesjid, bahkan Rasulullah sendiri yang memerintahkan, sebagai bantahan bagi kekhawatiran ?Aisyah yang terkesan enggan ke mesjid karena haid. Adapun, alasan kelompok yang mengharamkan, bahwa hadits ini hanya membolehkan sekedar lewat saja, adalah tidak benar. Sebab, saat itu memang keperluannya hanya untuk mengambil khumrah yang tidak membutuhkan waktu lama. Tidak berarti hal itu, bermakna jika lebih lama dari itu atau berdiam di dalamnya adalah haram. Sebab memang dilakukan sesuai keperluan saja. Wallahu A?lam

Hadits kedua:

Dari ?Aisyah bahwa Rasulullah Shallalalhu ?Alaihi wa Sallam bersabda:

إني لا أحلّ المسجد لحائض ولا جنبٍ

?Sesungguhnya aku, tidak halalkan mesjid untuk wanita haid dan orang junub.? (HR. Sunan Abu Daud, Juz. 1, Hal. 294, No hadits. 201. As Sunan Al Kubra Lil Baihaqi, Juz. 2, Hal. 442. Shahih Ibnu Khuzaimah, Juz. 5, Hal. 136, No hadits. 1263. Ma?rifatus Sunan wa Atsar Lil Baihaqi, Juz. 4, Hal. 126, No hadits. 1376. Al Maktabah Asy Syamilah)

Dishahihkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah (Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Hal. 29, Bab al Ghusli wa Hukmi al Junubi, No hadits 104. Cet.1, 2004M/1425H. Darul Kutub al Islamiyah. Tahqiq: Syaikh ?Idrus bin Al ?Idrus dan ?Ali bin Abi Bakar as Saqqaf).

Menurut kelompok yang membolehkan, hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah, sebab dhaif (lemah).

Imam Abu Muslim al Khathabi berkata: ?Jamaah (Ahli hadits) mendhaifkan hadits ini.? Mereka berkata: Aflat (salah seorang rawi) adalah majhul (tidak dikenal).? (Tafsir Al Qur?an Al Azhim, Juz. 2, Hal. 312)

Hadits ketiga:

عن أبي سعيد الخُدري قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يا علي، لا يحل لأحد أن يُجْنب في هذا المسجد غيري وغيرك

Dari Abu Said al Khudri, dia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ?Alaihi wa Sallam bersabda: ?Wahai Ali, tidak dihalalkan bagi seseorang yang junub terhadap mesjid ini, selainku dan selainmu.?(HR. Sunan At Tirmidzi, Juz. 12, Hal. 190. No hadits. 3661. Kata Imam At Tirmidzi hadits ini hasan gharib, tidak dikenal jalurnya kecuali dari jalan ini. As Sunan Al Kubra Lil Baihaqi, Juz. 7, Hal. 66)

Menurut kelompok yang membolehkan, hadits ini juga tidak bisa dijadikan dalil sebab kedhaifannya. Berkata Imam Ibnu Katsir: ?Ini hadits dhaif, tidak kuat. Karena Salim (bin Abi Hafshah, perawi hadits ini) adalah seorang yang matruk (ditinggalkan haditsnya). Sedangkan gurunya, yakni ?Athiyah, juga dhaif. Wallahu A?lam. (Tafsir Al Qur?anu Al Azhim, Ibid)

Hadits keempat:

Banyak riwayat yang menyebutkan bahwa para sahabat ketika masih muda, mereka tidur di mesjid, bahkan ada beberapa sahabat memang tinggal di emperan mesjid. Mereka disebut Ash habus Shuffah atau Ahlus Shuffah. Padahal jika mereka tidur di dalam mesjid, dan bertempat tinggal di sana , maka hari-hari junub mereka karena mimpi basah, pasti mereka alami di dalam mesjid. Jikalau memang haram, pasti mereka sudah di minta keluar atau kesadarn mereka sendiri. Namun, tidak ada riwayat tentang hal itu.

Dari Ibnu Umar, dia berkata: ?Pada zaman Rasulullah Shallallahu ?Alaihi wa Sallam, kami

Tidur di mesjid. Saat itu kami masih muda.? (HR. Sunan Ibnu Majah, Juz. 2, Hal. 461, No hadits. 743. Musnad Ahmad, Juz. 9, Hal. 414, No hadits. 4378.)

Syaikh Sayyid Sabiq berkata, ?Berkata Imam An Nawawi, ?Dari sini jelaslah, bahwa Ash Habus Shufah, para sahabat yang tinggal di mesjid, Ali, Shafwan bin Umayyah, dan segolongan sahabat nabi yang lainnya, mereka pernah tidur di dalam mesjid. Bahkan Tsumamah sebelum masuk Islam juga pernah tidur di mesjid. Semua itu terjadi di masa Rasulullah Shallallahu ?Alaihi wa Sallam.?

Dalam Al Umm, Imam Asy Syafi?i berkata: ?Jika orang musyrik saja diperkenankan tidur di dalam mesjid, apa lagi seorang muslim.?

Di dalam kitab Al Muhktashar dijelaskan, ?Tidak apa-apa orang musyrik tidur di mesjid manapun, kecuali Masjidil Haram.? (Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Jilid. 1, Hal. 213. Cet.5, 1971M/1391H. Darul Fikr. Beirut )

Nah, orang musyrik, mereka tidak akan pernah mandi wajib, wudhu, atau tayamum, artinya mereka tidak pernah lepas dari junub. Ternyata mereka boleh masuk ke masjid, tentunya seorang muslim lebih boleh lagi ke mesjid walau haid atau junub.

 

3. Dalil Perilaku Para Sahabat dan Fakta Sejarah

Diriwayatkan oleh Said bin Manshur dalam Sunannya dengan sanad yang shahih, bahwa para sahabat berdiam mesjid walau junub tetapi mereka berwudhu dulu. (Tafsir Al Qur?an Al Azhim, Juz. 2, Hal. 313)

?Atha bin Yasar berkata: ?Aku melihat para laki-laki dari sahabat Rasulullah Shallallahu ?Alaihi wa Sallam, Jika mereka wudhu seperti wudhu shalat mereka duduk-duduk di mesjid padahal mereka sedang keadaan junub.? Sanadnya shahih sesuai syarat Imam Muslim. (Ibid)

Imam Bukhari juga meriwayatkan tentang seorang wanita yang diberi tempat tinggal oleh Rasulullah berupa kemah di dalam mesjidnya, ia tinggal di sana hingga wafatnya. Tentunya wanita tersebut ketika haid, akan melewati hari-hari haidnya di dalam mesjid sebab ia tinggal di sana . Ini adalah dalil yang sangat kuat bagi mereka yang meyakini kebolehannya. Ibnu Ishaq dalam Sirahnya menceritakan bahwa utusan Bani Najran ?beragama Nasrani- datang menemui Rasulullah Shallallahu ?Alaihi wa Sallan di mesjid setelah shalat Ashar. Maka tibalah waktu ibadah mereka, lantas mereka sembahyang di mesjid rasulullah. Manusia hendak menecegahnya, tetapi Rasulullah bersabda; ?Biarkanlah mereka!? Lantas mereka menghadap Timur dan memulai ibadah mereka.

Imam Ibnul Qayyim mengomentari dalam Zaadul Ma?ad-nya, bahwa dibolehkan Ahli kitab masuk ke masjid kaum muslimin ?. Dan mereka bisa beribadah di dalamnya, jika terjadi tidak direncanakan dan bukan kebiasaan.?

Kita tahu bahwa Ahli Kitab tidak mungkin suci, karena mereka tidak pernah mandi junub. Penerimaan Rasulullah terhadap mereka di mesjid merupakan bukti kuat kebolehannya. Jika mereka saja dibolehkan, maka apalagi bagi umat Islam, walau sedang haid dan junub. Dilihat di sisi keadilan Islam pun, tidak adil jika seorang muslimah dilarang masuk ke mesjid hanya karena haid, sementara orang kafir boleh. Demikian argumen kelompok ini.

Demikianlah, dua kelompok ini dengan argumen masing-masing. Semoga bisa diambil pelajaran, dan pembaca bisa menyimpulkannya.

Wallahu A?lam
« Last Edit: January 10, 2009, 04:17:11 PM by sayang »

Offline sayang

  • Elandili
  • ****
  • Posts: 590
    • View Profile
Re: Quran&Hadis..
« Reply #1 on: January 10, 2009, 10:09:18 AM »
faried berkata :

Sangat panjang pembahasan dan perbedaan pendapat yang didasarkan atas Riwayat tentang berbagai larangan atas wanita haid. Padahal jika menggunakan Alquran sebagai petunjuk, maka sama sekali tidak ada larangan atas wanita yang sedang haid.
-------------
[4:43]?Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula bagi yang sedang dalam keadaan junub, terkecuali sekedar lewat saja, hingga kamu mandi?..

Perkataan janabah bahasa Arab , bahasa melayunya menjauhkan diri lihat kamus marbawi 110 .

Perkataan junub quran ada 6 kali pada 4 ayat , 4:43 , 5:6 , 4:36 dan 28:11 .
Dalam hal ini saya setuju pendapat faried yang mengatakan ,:

bahwa ? dalam 4:43 dan 5:6 du unggap hubungan Solat dan Junub . kami memahami Solat sebagai peruses pemahaman Quran . Junub kami ma?nai sama pada 4:36 dan 28:11 .yaitu yang jauh

ketika sedang mengkaji Quran , sedang fikiran berada di tempat yang jauh/junuban , maka fikiran perlu di bersihkan/di jerihkan pathah haruu ?

Kalau kita paham bahwa dalam 4:43 , dan 5:6 , kita artikan junub/bersetubuh , apakah pada 4:36 dan 28:11 di artikan junub/bersetubuh juga karena di dua ayat tersebut ada perkataan yang sama yaitu junub juga yang asalnya daripada huruf  j - n - b sebagaimana di ayat 4:43 dan 5:6 ?
 -------

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An Nisa (4): 59)

Bagi saya ayat tersebut di atas , saya paham bagini :
[4:59] Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (yang menyampaikan ayat quran ), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Dan bagitu juga ayat di bawah ini :
[3:103]. Dan berpegangteguhlah kamu pada tali Allah ( hanya Quran) , semuanya, dan janganlah kamu berpecah belah, ..
--------------------

Faried berkata :
Potongan ayat yang bro Sayang kutib tersebut sering digunakan oleh ASWJ sebagai dasar keharusan untuk menerima Hadis/Sunnah. Padahal ayat 59.7 tersebut sama sekali tidak berhubungan dengan ajaran, petunjuk, kitab ataupun Alquran. Ayat tersebut adalah mengenai harta rampasan, sehingga yang dimaksud dengan yang dibawa ataupun yang dilarang adalah berhubungan dengan harta rampasan perang.

[59:7] Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang dalam perjalana, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumann-Nya (Depag RI)
-----------------------

Memang benar , ustaz-ustaz dan guru-guru agama yang mempertahankan untuk mewajibkan berpegang hadis nabi maksudnya hadis bukari , hadis muslim dll tetapi hadis nabi yang sebenarnya iyalah Quran lalu mareka gunakan surah 59 ayat 7 yang tersbut di atas ..
[59:7] ..apa-apa yang di berikan rasul kepada mu mak terimalah dia . dan apa-apa yang di larangnya bagi mu maka tinggalkanlah ..

Kamadian di kuatkan pula dengan hadis abu daud ini memang jelas bukan hadis nabi tapi hadis abu daud bunyinya bagini :

? sebda nabi : hampir tiba sesuatu di mana saorang lelaki yang sedang duduk bersandar di atas katilnya , lalu di sampaikan orang sebuah hadis dari pada ku maka ia berkata : pegangan kami dan kamu hanyalah kitab allah (quran) saja . apa yang di halalkan oleh quran kami halalkan dan apa yang ia haramkan kami haramkan , pada hal , apa-apa yang di haramkan oleh rasulullah samalah hukumnya dengan apa yang di haramkan oleh allah ( quran) ?

Lalu mareka membuat contuh : kalau kita hanya berpegang quran saja , maka dalam quran mengharamkan makan binatang hanya satu saja , yaitu babi , sedang benatang lain halal kesemuanya , seperti harimau , kera dll .

Tetapi nabi lah pula mengharamkan makan kedai nageri , berdasarkan hadis bukari , dan mengharamkan mamakan benatang buas yang bertaring tajam seperti harimau dll yang saumpama dengannya , berdasarkan hadis muslim , dan mengharamkan makan benatang yang memakan najis , berdasarkan hadis termizi ..dan banyak lagi hadis-hadis dari orang lain dan ulamak-ulamak yang mengharamkan memakan sesuatu , seprti hanafi mengharamkan memakan kerang dll , syik daud mengharamkan makan ketam sawah . dan banyak lagi ulamak-ulamak yang mengharamkan memakan sesuatu , termasuk juga yang di haramkan mengikut orang banyak , seperti di daerah saya , kebanyakan orang mengharamkan makan burung yang bersarang dalam lubang , makan tupai dll .dan benda-benda makanan atau minuman-minuman yang di haramkan oleh ketua majlis agama adaerah
 
Jadi mareka mengharamkan makan makanan itu memang banyak buah kitab yang wajib di turuti , seperti contuh di atas tadi , 1 quran , 2 hadis bukari 3 hadis muslim , 4 hadis termizi , 5 hadis lain-lain dan orang banyak ..memang jelas menurut quran , jika ikut kebanyak orang tentu menyesatkan kita ?

Memang banyak kitab-kitab Ulamak Agama mareka ini yang mengharamkan memakan benatang yang di jadikan tuhan untuk kita memakankannya , di haramkan pula oleh Ulamak-Ulamak Agama mareka ??

Apakah , Ulamak-Ulamak Agama ini tidak pernah membaca yata-ayat di bawah ini :
[5:87]. Wahai orang-orang yang percaya, janganlah mengharamkan benda-benda yang baik yang Allah menghalalkan bagi kamu, dan jangan mencabul; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang mencabul.

10:59. Katakanlah, "Adakah kamu memikirkan rezeki yang Allah menurunkan untuk kamu, dan kamu membuat sebahagiannya haram, dan sebahagiannya halal?" Katakanlah, "Adakah Allah memberi izin kepada kamu, atau kamu mengada-adakan terhadap Allah?"

16:116. Dan janganlah mengatakan apa yang lidah kamu menyifatkan dengan dusta, "Ini halal, dan ini haram," supaya kamu mengada-adakan dusta terhadap Allah; sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah tidak akan beruntung.

Sedang Nabi sendiri Tuhan larang mengharamkan sesuatu yang telah di halal oleh Allah :

[66:1]. Wahai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkan bagi kamu, untuk mencari kepuasan hati isteri-isteri kamu? Dan Allah Pengampun, Pengasih.


dan mareka mareka berkata lagi : kita tidak boleh hanya berpegan quran semata-mata dan menolak hadis , lalu mareka berdasarkan hadis imam malik ( mauta?) pula dengan katanya :

? sebda nabi : aku tinggal dalam kalangan kamu dua perkara yang kamu tidak sekali-sekali sesat selagi kamu berpegang teguh kepada kedua-duanya , yaitu kitab llah ( quran) dan sunnah rasulullah (hadis) ?
Tetapi yang sebenarnya bukan dua saja , tapi banyak sekali ..

Mareka berkata , kalau hanya semata-mata berpegang quran saja , banyak hukum yang tidak di jelaskan dalam quran , jadi quran tidak sempurna kalau tidak di bantu oleh hadis-hadis , ulamak-ulamak , karena hadis-hadis dan ulamak-ulamaklah yang menyempurnakan quran , seperti hukum DADAH

Perkataan memang jelas berlawanan dengan quran karena quran berkata quran telah sempurna mareka berkata tidak . ..

Ada pun tentang DADAH yaitu hukum yang tidak di jelaskan dalam quran kata mareka . pada hal quran telah jelaskan dalam surah 2 ayat 219 :

[2:219]. Mereka menanyai kamu mengenai arak dan judi. Katakanlah, "Pada keduanya dosa besar, dan beberapa manfaat kepada manusia, tetapi dosanya adalah lebih besar daripada manfaatnya."

Dalam ayat ini dapat membuat sesuatu hukum dengan hukum haram terhadap sesuatu keputusan , perbuatan dll , yang apabila di jadikan akan membawa kemudaratan yang lebih besar jika di bangdingkan dengan kemenafaatnya dan kegunaanya . jadi , dalam ayat tersebut allah telah meletakkan dasar hukum yang boleh di pakai untuk masaalah-masaalah baru yang mucul kemadian yang tidak jelas ada dalam quran dengan terang manakan yang lebih besar , menafaatkah atau medarat ? . apabila medarat lebih besar jika di bandingkan dengan menafaatnya , maka dapat di jatuhkan hukum haram dan jika sebaliknya maka di jatuhkan hukum halal .. di makianlah keterangan Yassarnal-Quran .
.
Jadi , kita pun tahulah apakah hukum DADAH itu . kalau besar medarat di hukum haram dan jika ada menafaat di hukum halal .

contuh : ubat bakuk kalu kita minum mengikut sukatan yang di tentukan ada menafaatnya untuk menghilangkan batuk di hukum halal dan kalau di minum banyak mendarat di hukum haram

[16:67]. Dan daripada buah-buahan palma dan anggur, kamu mengambil daripadanya minuman yang memabukkan, dan rezeki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah satu ayat bagi kaum yang memahami.

Contuhnya : ubat batuk tadi , kalau di minum banyak-banyak akan memabukkan , jadi mendaratkan diri kita , di hukum haram tetapi kalau di minum sedikit mengikut sukatan yang di tentukannya , di hukum halal yang menjadi razki yang baik yaitu menghilangkan penyakit batuknya . dan bagitulah yang lain termasuk Arak.karena hukum arak itu tuhan menghukum dengan kata pusus haramnya hanya sebagai contuh hukum-hukum kepada benda-banda atau perbutan-perbuatan yang seumpama dengannya .

Ada pun tentang babi haram di makan bardasarkan quran 6:145 , 16:115 , 5:3 dan 2:173 , tuhan mengharamkan makan daging babi ini tidak jelas , karena di sebut daging babi saja , berarti perut , lemak dan lainnya selain daging di halal kan ..

Tetapi selepas di sebut daging babi di sebut pula najis/kutur/cemar/berbau busuk yang menyebabkan datang kemedaratan bagi pemakannya . jadi bukanlah semata-mata daging babi saja yang di haramkannya , karena daging lain pun haram juga di makan , kalau daging itu kutur/cemar/berbau busuk yang menyembabkan datang kemedaratan bagi pemakannya , maka haram juga di makannya ?

Tetapi kalau daging itu kita cuci sebersih-bersihnya dan di masak dengan sebaik-baiknya dan pula sedap di makannya , maka di watu itu halal pula di makan , termasuk daging babi ?
« Last Edit: January 12, 2009, 12:29:29 PM by sayang »

Offline sayang

  • Elandili
  • ****
  • Posts: 590
    • View Profile
Re: Quran&Hadis..
« Reply #2 on: January 10, 2009, 10:11:52 AM »
Hikmah ? sunnah rasulullah
Saya kutib di sini :
http://e-bacaan.com/artikel_debu.htm
Hikmah
Ulama Mohd. Nakhaie memulakan karangannya dengan huraian mengenai kata Allah "hikmah" yang tercatat di dalam Al-Qur'an. Dikemukakannya sebuah ayat (2:129) yang berbunyi "Wahai Tuhan kami, dan utuslah kepada mereka seorang Rasul ..... mengajar mereka kitab dan hikmah dan membersihkan mereka" (muka 1). Kemudian beliau mengajukan pendapat ikutan agungnya, al-Syafi'i, yang mentafsirkan perkataan tersebut (hikmah) sebagai sunnah Rasulullah.

Pendapat Imam al-Syafi'i itu disahihkan dengan suatu disiplin ilmu dalam bahasa Arab yang dinamakan "ataf". Menurutnya, ataf berfungsi sebagai suatu perkara lain yang berikutan dengan perkara yang disebutkan terdahulu. Maka, menurut ilmu ulama ini, kata kitab dan hikmah di dalam ayat tersebut adalah dua perkara yang berlainan, iaitu Al-Qur'an dan sunnah Rasul.

Akan tetapi, pembaca yang celik akan menanyakan tentang perkara ketiga yang disebut di dalam ayat itu, iaitu kata membersihkan ("mengajar mereka kitab dan hikmah dan membersihkan mereka"). Sekiranya yang pertama (kitab) itu Al-Qur'an, dan yang kedua (hikmah) sebagai sunnah Rasul, maka apakah ia yang ketiga (membersihkan) yang telah disebut tadi?

Andaikata ataf (ilmu yang diada-adakan itu) dibuang, maka dapat difahamkan bahawa ketiga-tiga perkara itu adalah satu. Dengan ini ayat itu bermaksud iaitu Rasul mengajar mereka kitab, yang mengandungi hikmah, yang juga membersihkan mereka.
Oleh yang demikian (dan beberapa sebab yang lain), suruhan al-Syafi'i agar ajaran sunnah Rasul disuntik ke dalam Islam, untuk menjadi suatu yang diimani, adalah ditolak.

Imam al-Syafi'i didapati pula, bukan sahaja mengatakan hikmah itu sunnah Rasul, setelah didengarnya orang lain berkata, bahkan beliau selanjutnya menyatakan bahawa sunnah Rasul itu adalah seperti perkataan Allah sendiri! Katanya, "saya telah mendengar daripada mereka yang mahir dalam al-Qur'an, mereka yang saya persetujui, menyatakan bahawa hikmah itu ialah sunnah Rasulullah s.a.w.. Ini samalah seperti perkataan Tuhan sendiri" (muka 9).

Dakwaan seperti ini adalah sungguh berat kerana Allah telah mengingatkan tentang larangannya di dalam sebuah ayat yang berbunyi "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang menulis kitab dengan tangan-tangan mereka, kemudian mereka berkata, 'Ini daripada Allah,'" (2:79). Di dalam dakwaannya juga terbongkar rahsia iaitu dia (Imam al-Syafi'i) tidak mahir dalam Al-Qur'an

Perkataan sunnah dan hadith memang wujud di dalam Al-Qur'an. Akan tetapi, pengertiannya (yang datang daripada Allah) adalah berbeza daripada pengertian ulama, seperti Imam al-Syafi'i. Ulama Mohd. Nakhaie mengaku ini adalah benar. Katanya, "Tidak dinafikan penggunaan perkataan sunnah di dalam al-Qur'an merujuk kepada suatu perjalanan alam, adat resam dan lain-lain. Demikian juga perkataan hadith di dalam al-Qur'an dimaksudkan bicara pada umumnya," (muka 14).

Mengapa pula tidak diikuti pengertian daripada Allah yang mencipta bahasa Arab itu sendiri? Dari manakah datang pengertian yang baru itu, yang akhirnya melahirkan ajaran Sunnah Rasul atau Hadith Nabi? Mengapa pula manusia diberhalakan dalam agama?
Penulis Bacaan
1996
« Last Edit: January 11, 2009, 06:55:28 AM by sayang »

Offline sayang

  • Elandili
  • ****
  • Posts: 590
    • View Profile
Re: Quran&Hadis..
« Reply #3 on: January 10, 2009, 10:13:00 AM »
Taat Kepada Allah dan Rasul ?Satu penilaian
Oleh Azahidi
 Saya kutib di sini
http://e-bacaan.com/artikel_taat.htm
Seringkali kita mendengar orang-orang yang mengaku Islam berkata, ?simpan janggut itu sunat, dapat pahala?. Malah meniru semua perbuatan nabi Muhammad, apa saja sehingga cara buang air besar pun sunat, dapat pahala. Konsep sunat ialah, buat dapat pahala, tak buat tak apa, kata setengah Mazhab. Setengah Ahli sufi pula mengatakan sunat bagi mazhab Shafei itu wajib bagi mereka, kena buat. Hakikatnya ialah, pahala hak Allah, hak Allah sahaja. Ianya bukan hak manusia untuk menentukan yang mana dapat pahala, yang mana tidak, kecuali apa yang jelas dalam Quran.

Persoalannya, apakah perkara-perkara yang termasuk dalam konsep taat kepada Allah dan taat kepada rasul. Adakah ianya termasuk juga perbuatan seumpama makan dengan menggunakan tiga jari, tidur sambil mengiring, berus gigi pakai kayu sugi dari Saudi dan sebagainya?
Ayat-ayat Allah yang berikut menyuruh kita taat kepada Allah dan rasulnya.

Katakanlah, "Taatlah kepada Allah, dan rasul." Tetapi jika mereka berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang tidak percaya (3:32)

Dan taatlah kepada Allah dan rasul supaya kamu dikasihani. (3:132)
Wahai orang-orang yang percaya, taatlah kepada Allah, dan taatlah kepada rasul, ??   (4:59)
 
Wahai orang-orang yang percaya, taatlah kepada Allah dan rasul-Nya, dan janganlah berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar. (8:20)
Terdapat banyak lagi ayat-ayat yang berkaitan dengan subjek taat kepada Allah dan taat kepada rasul.

Perhatikan di sini, dalam semua ayat-ayat yang berkaitan dengan ?taat? , Allah pilih untuk menggunakan perkataan ?rasul? tidak ?Muhammad?.
Allah, pencipta dan pemelihara Quran, memberitahu kita bahawa kesemua dalam cakrawala adalah dalam penguasaanNya, termasuk Quran. Surah-surah, ayat-ayat, perkataan, nombor, susunan, pemilihan sifat-sifat kata, nama-nama, kisah-kisah, panjang pendeknya ayat dan surah..? kesemuanya adalah dibuat dan dipilih oleh Allah, dengan sengaja dan dengan tujuan khusus.

?... Kami tidak mengalpakan sesuatu di dalam al-Kitab; ?.. (6:38)

Pembaca, pemerhati dan yang percaya kepada Quran sudah tentu memahami, dengan izin Allah bahawa Allah yang mengajar kita Quran, dan bukannya hadith-hadith susunan manusia.

Yang Pemurah, Mengajar al-Qur'an. (55:1-2)
Maka, dalam percubaan untuk memahami sesuatu subjek dalam Quran, kita perlulah rujuk kepada Quran itu sendiri. Oleh kerana Allah mengatakan Dia yang mengajar Quran, dan dia tidak berkomunikasi terus dengan kita, maka Quran sajalah yang kita boleh buat bahan rujukan untuk memahami Quran.
Kita perhatikan bahawa Allah secara konsisten sebut dalam ayat-ayatNya ?taat kepada Allah?.? dan diikuti dengan perkataan ?rasul? dan tidak ?Muhammad?.

Dalam Quran Allah menyebut nama ?Muhammad? hanya pada empat ayat (3:144, 33:40, 47:2 dan 48:29), dan tiada satu pun berkaitan secara langsung dengan subjek taat. Lebih dari 25 kali Allah menyuruh kita taat kepada rasul, tidak sekali pun Allah menyebut ?taat kepada Muhammad?
Adakah ini secara kebetulan sahaja? Atu adakah ianya suruhan yang disengajakan?

Hanya ?orang-orang yang percaya? percaya bahawa semua dalam dunia Allah ini adalah disengajakan dengan keinginan Allah. Tiada suatu pun dengan secara kebetulah saja. Ayat-ayat yang digunakan pun adalah secara sengaja dengan tujuan, tidak secara kebetulan.
Katakanlah, "Sekiranya laut adalah dakwat untuk Kata-Kata Pemeliharaku, tentulah laut itu habis sebelum Kata-Kata Pemeliharaku habis, walaupun Kami mendatangkan pengisian semula yang serupa dengan itu." (18:109)

Sekarang, cuba kita fahami apa Allah mengajari kita berkenaan nabi Muhammad.
Katakanlah, "Aku hanyalah seorang manusia yang serupa dengan kamu; diwahyukan kepadaku bahawa Tuhan kamu hanyalah Tuhan Yang Satu?..(18:110)

Allah yang Maha Mengetahui, tahu bahawa nabi Muhammad, sebagai manusia menjalani kehidupan hariannya sebagaimana manusia lain. Dia makan dan minum, tidur, berkeinginan, bernafsu, berkeluarga, buat kesilapan, berperasaan takut, rungsing, sakit, dsbnya. Muhammad adalah rasul hanya kerana mesej yang diberikan melaluinya, yaitu Quran. Begitu juga rasul-rasul lain yang diberikan kitab-kitab. Muhammad tanpa Quran adalah seorang manusia biasa macam kita semua.

Wahai rasul, sampaikanlah apa-apa yang diturunkan kepada kamu daripada Pemelihara kamu kerana, jika kamu tidak buat, tidaklah kamu menyampaikan Mesej-Nya. Allah melindungi kamu daripada manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang tidak percaya. (5:67)

Allah, bila menggunakan perkataan ?rasul? mahukan subjek taat menjadi jelas, yaitu supaya manusia mentaati seseorang yang mempunyai mesejNya, bukan mentaati peribadi atau mentaati Muhammad atas perkara-perkara lain.
Taati rasul adalah bergantung kepada adanya mesej, yaitu Quran. Taati rasul oleh sebab mesej yang dia diberi, yaitu Quran. Taati rasul bermaksud ikuti mesej yang diberi kepadanya, yaitu Quran.

Menyimpan janggut, pakai jubah singkat atas buku lali, jilat jari selepas makan, memakai serban dan sebagainya tidak termasuk dalam konsep taati rasul, kerana semua itu tidak dijelaskan dalam Quran.

Nabi Muhammad tanpa Quran adalah manusia biasa. Walau pun dalam status rasul, dia masih mempunyai perwatakan, perangai dan nafsu manusia biasa. Sebagai contoh, Allah mencerikan dalam Quran yang dia bermasam muka dengan seorang buta (80:1-11) sehingga Allah menegurnya, ada ketika dia takutkan manusia sedangkan dia sepatutnya takut kepada Allah (33:37) dan dia pernah mengharamkan apa yang tidak sepatutnya (66:1).
Itulah sebab tiada tiada satu pun suruhan atau arahan supaya kita mentaati Muhammad. Kalaulah kita ambil konsep ?taat kepada rasul? sebagai taati Muhammad sebagai manusia, sudah tentu kita juga mesti bermasam muka kepada yang buta dan miskin. Kita mesti melakukan lain-lain kesalahan yang dilakukan oleh Muhammad sebagai manusia biasa. Sudah tentu tidak begitu. Kita disuruh mentaati rasul sebab mesej yang dibawanya, Quran mewajibkan kita mentaati rasul. Mentaati mesej ialah mentaati rasul.

Satu contoh perbezaan di antara mentaati rasul (oleh sebab dia membawa Quran) dan mentaati manusia ialah dua ayat berikut :
Wahai isteri-isteri Nabi, sesiapa antara kamu yang melakukan kesumbangan yang nyata, baginya azab akan digandakan dengan dua kali ganda; itu, bagi Allah, mudah. (33:30)

Tetapi sesiapa antara kamu yang patuh kepada Allah, dan rasul-Nya, dan membuat kerja-kerja kebaikan, Kami akan memberikan upahnya dua kali; Kami menyediakan untuknya rezeki yang mulia. (33:31)

Perhatikan di sini, arahan kepada isteri-isteri nabi ialah supaya patuh kepada allah dan rasul, bukannya kepada suami atau pun Muhammad. Sekiranya Allah menyuruh mereka patuh kepada suami (perkataan suami digunakan), sudah tentu ianya menjadi satu arahan mutlak supaya isteri-isteri patuh kepada suami, tanpa syarat atau kelonggaran. Kita mesti ingat Allah tidak kekeringan atau kesuntukan perkataan (18:109). Disebaliknya Allah mahukan mereka, isteri-isteri nabi patuh kepada rasul dengan mesej yang ada padanya.

Sebagai manusia, Muhammad telah diberi penghormatan besar apabila dipilih untuk menjadi rasul Allah yang terakhir untuk menyampaikan mesej yang terakhir, yaitu Quran. Budi pekertinya dijelaskan sebagai berikut,

Sesungguhnya kamu adalah di atas budi pekerti yang besar. (68:4)

Pun begitu, kita mesti ingat supaya tidak membezakan Muhammad sebagai rasul dengan rasul-rasul Alah yang lain (2:285).  Yang perlu kita memahami dan membezakan ialah di antara :

mentaatinya dengan tunduk patuh kepada mesej (Quran)
denganmentaatinya dengan meniru apa yang dia buat sebagai manusia biasa.

Yang sedihnya, ramai orang yang menganggap Islam itu akan lebih sempurna dengan memberi penekanan silap dan lebih kepada meniru cara hidup harian nabi Muhammad dan ulamak-ulamak pada masa lampau. Pakai jubah, pakai serban, berus gigi pakai kayu sugi, makan sambil berlutut dan bermacam-macam lagi, tapi unta tak nak naik, nak naik Honda Accord. Itu semua adalah hak individu. Tetapi untuk mengatakan pakai jubah dan simpan janggut dapat pahala adalah memandai-mandai lebih dari Allah. Allah ada sebut janggut dalam Quran, tapi pasal Musa memegang janggut Harun, tidak pasal galakan atau pahala menyimpan janggut.

Tidak boleh dinafikan, kita mesti mentaati rasul. Bagi mereka yang menerima Quran, mereka menerima arahan daripada Allah untuk ?mentaati rasul? dengan mengikuti mesejnya, Quran. Hanya Quran. Bila nabi Muhammad meninggal dunia, dia meninggalkan kepada kita hanya satu kitab yaitu Quran.
Bila Allah memberitahu nabi Muhammad dalam Quran, Pada hari ini, Aku menyempurnakan agama kamu untuk kamu, dan Aku mencukupkan rahmat-Ku ke atas kamu, dan Aku merelakan Islam sebagai agama untuk kamu. ?. (5:3) Muhammad ada hanya ada satu kitab yaitu Quran. Dia memberikan kita satu definasi islam, yaitu yang ada hanya dalam Quran, bukannya campuran-campuran palsu hasil dari ciptaan-ciptaan manusia sebgaimana yang banyak terdapat sekarang ini.

Dalam menyuruh manusia mentaati Allah dan rasul, Allah tahu bahawa manusia akan mengabaikan Quran dan sebaliknya memberi tumpuan lebih kepada tulisan-tulisan ciptaan manusia.

Rasul berkata, "Wahai Pemeliharaku, sesungguhnya kaumku mengambil al-Qur'an ini sebagai suatu yang tidak dipedulikan." (25:30)
Azahidi
16 Mei 2005
« Last Edit: January 11, 2009, 07:01:40 AM by sayang »

Offline sayang

  • Elandili
  • ****
  • Posts: 590
    • View Profile
Re: Quran&Hadis..
« Reply #4 on: January 10, 2009, 10:14:07 AM »
Bukhari tanpa kelemahan
saya kutip di sini :
http://www.e-bacaan.com/emailb19.htm
Seorang yang tersinggung apabila Imam Bukhari dikritik, menulis:

From: "julia" <albasanain_81@hotmail.com>
Subject: peringatan penting...harap balas
Date: Tuesday, September 09, 2003 11:27 AM

assalamualaikum.saudara pengarang..saya terpanggil untuk bertanya tentang kekeliruan yang timbul drp artikel yg terdapat di dalam laman web ini.tajuk artikel:Al-Quran vs Bukhari et al.apakah yg dimaksudkan dgn maksud pengarang tersebut?seolah-olah mengenepikan hadis dgn menyebut kelemahan yg ada(yg tidak patut ada) pada hadis Bukhari?sepatutnya hadis adalah antara pegangan org muslim selepas Al-Quran.tidak sepatutnya pengarang mengenepikan hadis sehingga memburukkannya.harap sangat mendapat respon balik drp pihak saudara,jika ia tidak disedari adalah dimaafkan,ttp jika sebaliknya harap diperbetulkan kerana ia bertentangan dgn syariat dan boleh mengelirukan pengguna yg lain.harap dpt jawapan balik.wassalam.sama-samalah tegakkan kalimah tauhid di bumi Allah ini.

 Salamun alaikum adalah kalam Allah, dan Assalamualaikum pula, kalam Imam Bukhari. Manakah antara dua salam hormat itu dipakai oleh Nabi Muhammad?

Sebelum menjawab soalan itu, kami ajukan soalan seterusnya, berbunyi "Di manakah terletak kalam Allah yang berikut di dalam kitab Sahih Bukhari?"

"Satu penurunan (al-Qur'an) daripada Pemelihara semua alam. Sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan terhadap Kami sebarang ucapan, Tentu Kami mengambilnya dengan tangan kanan, Kemudian pasti Kami memotong urat jantungnya, Dan tiadalah seseorang daripada kamu yang dapat menghalangi dia (daripada hukuman tersebut)." (69:43-47)

Percayakah beliau bahawa kalam Allah itu telah keluar dari mulut Nabi?

Apa pendapat beliau, setelah Nabi Muhammad difahamkan ayat-ayat di atas, mahukah baginda menambah barang sesuatu pada kalam Allah? Atau mengata sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ditetapkan-Nya?

Bagaimana pula penerimaan beliau terhadap ayat selanjut, berbunyi, "'Ketahuilah bahawa atas Rasul Kami hanyalah untuk menyampaikan yang jelas (al-Qur'an),' (5:92 dan 24:54)"? Adakah beliau tidak mempercayainya?

Al-Qur'an yang disampaikan Rasul Allah memang jelas. Makna sesetengah perkataan pun dapat dijelaskan dengan merujuk kepada kegunaannya di dalam ayat-ayat Kitab tersebut. Contoh, perkataan ummiy. 

Mengapa pula Bukhari terjemahkan perkataan itu kepada buta huruf (Jilid 8, Hadis 194 diriwayatkan oleh 'Abdullah bin 'Umar) lalu Nabi Muhammad disangka tidak tahu menulis dan membaca? Adakah beliau merujuk kepada al-Qur'an untuk mencari makna bagi perkataan itu? (Sila rujuk artikel Nabi pandai menulis, membaca.)

Kekeliruan yang dilakukan oleh Imam Bukhari ditambah lagi dengan beliau menyelitkan perkara kepercayaan kepada takdir ke dalam Rukun Iman. Rukun Iman yang lima dijadikannya enam pula (sila rujuk artikel Percaya kepada Takdir).

Dan, membuat orang percaya bahawa Nabi Muhammad mempunyai kuasa syafaat pada hari akhirat. Terdapat beberapa hadisnya atas dakwaan tersebut dan satu daripadanya adalah di Jilid 1, Hadis 331, diriwayatkan Jabir ibn Abdullah. Walhal, Tuhan mengajar hanya Dia yang mempunyai kuasa syafaat (sila rujuk artikel Syafaat - ada atau tiada?).

Cukup sampai di situ sahaja untuk menunjukkan perbezaan antara ajaran Bukhari dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Perbezaannya bukan kecil.

Tidak dinafikan bahawa pengaruh Imam Bukhari adalah amat besar dalam dunia Islam. Syariat yang diajarnya diterima pakai walaupun didapati bertentangan dengan syariat yang terkandung di dalam al-Qur'an, iaitu syariat agama Allah dan Rasul-Nya yang sebenar.

Sungguh besar pengaruhnya sehingga ada yang menyangka beliau tidak mempunyai sebarang kelemahan, seperti yang disangka oleh penulis surat di atas. Benarkah tulisan Bukhari tanpa kelemahan, dan patut diterima bulat-bulat sambil membelakangkan ajaran Allah dan Rasul-Nya yang terkandung di dalam al-Qur'an?

Oleh sebab kitab Bukhari mengandungi kelemahan maka ia berbahaya untuk diikuti. Pertama, kerana ia bukan datang dari sisi Allah lantas terdapat banyak perselisihan di dalamnya. Kedua, kerana beliau mensyariatkan agama di dalamnya, yang selain daripada Allah, lalu beliau boleh dikategorikan sebagai sekutu Allah. Dan ketiga, kerana beliau didahulukan di atas Allah maka beliau diangkat naik seperti tuhan, yang selain daripada Allah. Ketiga-tiga sebab itu terkandung di dalam tiga ayat Allah di bawah, yang kami anggap penting untuk diperingatkan:

"Apa, tidakkah mereka merenungkan al-Qur'an? Jika ia daripada selain Allah, tentu mereka mendapati di dalamnya banyak perselisihan." (4:82)

"adakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang mensyariatkan untuk mereka sebagai agama, yang dengannya Allah tidak mengizinkan?" (42:21)

"Mereka mengambil habr (ulama agama) mereka, dan rahib-rahib mereka, sebagai pemelihara-pemelihara (tuhan-tuhan) selain daripada Allah" (9:31).

Namun, kami bersetuju dengan penulis surat apabila beliau menyarankan supaya kita bersama-sama menegakkan kalimat tauhid di bumi Allah ini. Cuma caranya agak berbeza. Kami pilih untuk mentauhidkan Allah, dalam erti kata sebenar, dengan memegang al-Qur'an sebagai satu-satunya kitab dalam kemusliman kami.

Bacaan selanjut:
Bukhari ditolak
Ajaran baru?
« Last Edit: January 10, 2009, 11:01:48 AM by sayang »

Offline sayang

  • Elandili
  • ****
  • Posts: 590
    • View Profile
Re: Quran&Hadis..
« Reply #5 on: January 10, 2009, 10:24:25 AM »
Percaya kepada Taqdir
Saya kutip di sini:
http://e-bacaan.com/artikel_takdir.htm
Percaya kepada Taqdir
Prof. Dr. H. Mahmud Yunus telah menulis di dalam kitabnya "Tafsir Quran Karim" mengenai iman, atau apa yang dikatakan Rukun Iman. Beliau menyatakan seperti berikut:
"Iman (percaya) yaitu:
  Beriman kepada:
1.  Allah, 
2.  Rasul-rasulNya,   
3.  Malaekat-malaekatNya,   
4.  Kitab-kitabNya   
5.  Hari yang kemudian atau kiamat, surat Albaqarah ayat 285 ......   
6.  Percaya kepada taqdir (dalam hadits Nabi s.a.w.)" *
Sebelum diteruskan tulisan di sini, ingin dimaklumkan iaitu rukun yang kelima seperti yang dicatat itu, tidak pula didapati tercatat di dalam ayat Albaqarah tersebut. Ini tentu tidak disengajakan, kerana memang ada ayatnya, iaitu 4:136.
Maka, lima daripada enam rukun iman itu telah diajar oleh Allah. Dan, yang keenam, yang terakhir, diajar oleh "hadits Nabi s.a.w." Justeru, rukun yang keenam, Percaya kepada taqdir, adalah tambahan kepada ajaran Allah.

Takdir, menurut Kamus Dewan (1994), adalah " = ~ Allah, = takdirullah sesuatu yang ditentukan oleh Allah terlebih dahulu, penentuan drpd Allah, qadak: suratan ~ di tangan Tuhan." Dengan itu, percaya kepada takdir bermaksud percaya bahawa segala-galanya sudah ditentukan oleh Allah terlebih dahulu.

Ajaran Percaya kepada taqdir telah mengelirukan sesetengah umat Islam. Sehingga ada yang percaya seperti, jika mereka dimasukkan ke dalam neraka, itu adalah kerana Allah sudah takdirkan baginya - atau, Allah sudah tentukan, terlebih dahulu, neraka baginya di akhirat kelak. Seolah-olah mempercayai Tuhan itu zalim. Kepercayaan tersebut adalah amat berat dalam Islam, kerana bertentangan dengan sifat dan ajaran Allah yang sebenar. Firman-Nya,
"Allah tidak menzalimi mereka, tetapi diri-diri mereka sendiri mereka menzalimkan." (16:33)

Tetapi diri-diri mereka sendiri mereka menzalimkan!
Memang benar kata orang-orang yang percaya kepada takdir iaitu semuanya datang dari Allah, atau, setelah diizinkan-Nya. Yang baik, mahupun yang buruk. Namun, Dia tidak mencipta segala sesuatu seperti bermain-main (21:16, 23:115) tanpa menurut ukuran tertentu (54:49).
Dia mencipta manusia dan jin untuk menyembah-Nya (51:56). Di samping itu, manusia diberi kuasa memilih, sama ada mahu menyembah-Nya atau tidak.

Percaya
Kuasa memilih itu agak jelas ditunjukkan apabila Dia menurunkan yang benar, dan kemudian, memberi kebebasan kepada manusia untuk percaya kepadanya, atau memilih untuk tidak percaya kepadanya. Firman-Nya,
"Katakanlah, 'Yang benar adalah daripada Pemelihara kamu; maka hendaklah sesiapa yang menghendaki, percaya; dan hendaklah sesiapa yang menghendaki, tidak percaya.'" (18:29)

Adakah itu menunjukkan Allah telah menentukan terlebih dahulu siapa yang percaya, dan siapa yang tidak percaya, kepada al-Qur'an?
Minuman

Contoh kedua ialah pada buah-buahan palma dan anggur yang Dia rezekikan. Daripada mereka diizinkan-Nya membuat minuman yang baik dan yang memabukkan. Firman-Nya,
"Dan daripada buah-buahan palma dan anggur, kamu mengambil daripadanya minuman yang memabukkan, dan rezeki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah satu ayat bagi kaum yang memahami." (16:67)

Bolehkah orang yang mabuk daripada itu berkata kemudian bahawa dia menjadi seorang pemabuk kerana Allah telah menentukan ke atasnya terlebih dahulu? Walhal, dia telah diberi pilihan untuk mengambil "rezeki yang baik" daripada buah-buahan tersebut!
Ayat itu juga menyebut mengenai kaum yang memahami, atau yang menggunakan akal fikiran, yang juga merupakan satu daripada fakulti yang dikurniakan Allah kepada manusia untuk dipakai semasa menggunakan kuasa memilih tersebut. Fakulti lain adalah penglihatan dan pendengaran. Firman-Nya,
"Kami menciptakan untuk Jahanam banyak jin dan manusia; mereka mempunyai hati (otak), tetapi tidak memahami dengannya; mereka mempunyai mata, tetapi tidak melihat dengannya; mereka mempunyai telinga, tetapi tidak mendengar dengannya. Mereka adalah seperti binatang ternak; tidak, tetapi mereka lebih jauh sesat" (7:179).

Mereka yang tidak menggunakan ketiga-tiga fakulti itu akan dimasukkan ke dalam Jahanam. Di Jahanam nanti, mereka tidak boleh beralasan dengan mengatakan bahawa Allah telah terlebih dahulu menetapkan Jahanam bagi mereka.
Iblis

Bukti terakhir untuk menunjukkan bahawa Allah tidak menentukan terlebih dahulu apa yang akan terjadi kepada seseorang, seperti yang diajar oleh hadis, ialah kejadian yang berlaku dari awal lagi, sejurus setelah manusia yang pertama dicipta. Tetapi, cerita diringkaskan sedikit di sini, yang bermula dari perintah Allah supaya sujud kepada Adam. Firman-Nya,

"Dan apabila Kami berkata kepada para malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam', lalu mereka sujud kecuali Iblis. Ia enggan, dan ia sombong, dan ia menjadi antara orang-orang yang tidak percaya (kafir).'" (2:34)

Semua malaikat sujud, kecuali Iblis. Itulah keingkaran yang pertama dalam kerajaan Allah. Adakah keingkaran itu telah ditentukan terlebih dahulu oleh Allah ke atas Iblis? Sila lihat kepada sebab Iblis enggan sujud kepada Adam:
"Berkatalah Dia, 'Apakah yang menghalangi kamu daripada bersujud ketika Aku memerintahkan kamu?' Berkata, 'Aku lebih baik daripada dia. Engkau cipta aku daripada api, dan dia Engkau cipta daripada tanah liat.'" (7:12)

Iblis bersikap sombong dan tidak takut kepada Allah. Adakah sifat sombong dan tidak takut itu sifat yang telah ditentukan Allah ke atasnya terlebih dahulu?
Selepas itu, ia diusir. Firman-Nya,
"Berkata, 'Turunlah kamu, keluar darinya; tiada bagi kamu untuk menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah; sesungguhnya kamu adalah di kalangan orang-orang yang direndahkan.'" (7:13)

Timbul satu lagi pertanyaan di sini - mengapa pula Iblis tidak meminta ampun dan bertaubat kepada Allah? Sebaliknya, ia minta ditangguhkan supaya dapat menarik seberapa ramai yang boleh untuk menjadi kuncu-kuncunya yang mengingkari Allah, atau untuk tidak berterima kasih kepada-Nya. Firman-Nya,

"Berkata (Iblis), 'Tangguhkanlah aku hingga hari mereka dibangkitkan.' Berkata, 'Kamu adalah antara orang-orang yang ditangguhkan. Berkata, "Oleh kerana Engkau telah menyalahkan aku, maka sungguh, aku akan duduk memerangkap mereka di jalan Engkau yang lurus, Kemudian aku datang kepada mereka, dari hadapan mereka, dan dari belakang mereka, dan dari kanan mereka, dan dari kiri mereka; Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka berterima kasih.'" (7:14-17)

Lalu Jahanam disebut buat pertama kali. Mungkin untuk menakutkannya atau menyedarkannya. Firman-Nya,
"Berkata, 'Keluarlah kamu darinya, terhina dan terbuang. Orang-orang antara mereka yang mengikuti kamu - sungguh Aku akan memenuhi Jahanam dengan kamu semua.'" (7:18)

Ia masih tidak takut, tidak percaya (kafir). Dan tidak meminta ampun dan bertaubat. Lalu ia meneruskan rancangannya yang jahat. Kini ia dipanggil "syaitan" pula (dan syaitan itu adalah daripada golongan jin dan manusia). Mangsanya yang pertama ialah Adam dan isteri.
Adam
Adam dan isterinya telah dapat diperdayakannya, sehingga mereka berdua melanggar perintah Allah. Akan tetapi, mereka berdua, kemudiannya, meminta ampun serta bertaubat kepada Allah. Firman-Nya,
"Mereka berkata, 'Wahai Pemelihara kami, kami telah menzalimi diri-diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihani kami, tentu kami menjadi antara orang-orang yang rugi.'" (7:23)

"Lalu Adam menerima kata-kata tertentu daripada Pemeliharanya, dan Dia menerima taubatnya; sesungguhnya Dialah Yang Menerima Taubat, Yang Pengasih." (2:37)

Tentu tidak kelihatan seperti Allah telah menentukan terlebih dahulu bahawa Adam dan isteri akan makan daripada pokok tertentu, setelah Dia didapati melarang mereka daripada mendekatinya jua, dan memberitahu mereka bahawa syaitan bercadang untuk mengeluarkan mereka dari Taman, dan syaitan itu adalah musuh bagi mereka? (Sila rujuk karangan Adam dan Isteri: daripada al-Qur'an dan Bible dan Kalimat Adam di dalam al-Qur'an)
Adakah orang yang akan mengatakan bahawa kesemua itu hanyalah lakonan belaka? Atau dia mengatakan Adam bertindak atas kuasa memilih yang ada padanya?

Dikasihani
Sesungguhnya, Allah tidak mencipta manusia untuk dizalimi. Sebaliknya, Dia mencipta manusia untuk dikasihani. Firman-Nya,
"Kecuali orang-orang yang kepada mereka Pemelihara kamu mengasihani. Untuk itulah Dia mencipta mereka" (11:119)
Dengan bersifat demikian, bolehkah Allah dituduh sudah menentukan neraka terlebih dahulu bagi sesetengah hamba-Nya setelah Dia mencipta mereka untuk dikasihani?

Keburukan
Memang benar juga kata mereka yang percaya kepada takdir bahawa Allah mengetahui segala-galanya. Akan tetapi, mengetahui dan menentukan sesuatu adalah dua perkara yang jauh berbeza. Dia mengetahui bahawa seseorang itu akan ditimpa keburukan, tetapi keburukan yang menimpa orang itu adalah daripada dirinya (usahanya) sendiri. Firman-Nya,
"apa sahaja keburukan yang menimpa kamu adalah daripada diri kamu sendiri." (4:79)

Sama seperti ayat yang pertama diturunkan di halaman ini berbunyi "Allah tidak menzalimi mereka, tetapi diri-diri mereka sendiri mereka menzalimkan." (16:33)

Petunjuk
Benar juga kata mereka kalau Allah hendak memberi petunjuk kepada semua manusia tentu Dia boleh. Namun, Dia menghendaki pula untuk tidak memberi petunjuk kepada orang-orang seperti berikut:
1. Mereka yang menyekutukan-Nya.
Firman-Nya bermaksud:
"Itulah petunjuk Allah; Dia memberi petunjuk dengannya kepada siapa yang Dia mengkehendaki daripada hamba-hamba-Nya; sekiranya mereka orang-orang yang mempersekutukan, nescaya sia-sialah bagi mereka apa yang mereka telah buat." (6:88)

2. Mereka yang mengambil syaitan sebagai sahabat dan menyangka dapat petunjuk.
Firman-Nya:
"Segolongan Dia memberi petunjuk, dan segolongan wajar dengan kesesatan; mereka mengambil syaitan-syaitan sebagai wali-wali (sahabat-sahabat), selain daripada Allah, dan mereka menyangka bahawa mereka mendapat petunjuk." (7:30)

3. Mereka yang tidak percaya kepada al-Qur'an.
Firman-Nya:
"Sekiranya sebuah Qur'an di mana gunung-gunung diperjalankan, atau bumi dibelah dengannya, atau orang-orang yang mati yang kepada mereka dapat berkata-kata - tidak, tetapi kepunyaan Allah urusan kesemuanya. Tidakkah orang-orang yang percaya mengetahui bahawa, jika Allah menghendaki, tentu Dia memberi petunjuk kepada manusia kesemuanya? Dan orang-orang yang tidak percaya tidak berhenti-henti ditimpa dengan suatu yang mengetukkan kerana apa yang mereka mengerjakan, atau ia turun dekat dengan tempat tinggal mereka, sehingga janji Allah datang" (13:31)

Sebaliknya, Dia hanya memberi petunjuk kepada orang-orang yang berkesesalan, dan yang percaya dan membuat kerja-kerja kebaikan. Firman-Nya,
"Allah memilih kepadanya sesiapa yang Dia mengkehendaki, dan Dia memberi petunjuk kepadanya orang yang berkesesalan." (42:13)
"Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang percaya dan membuat kerja-kerja kebaikan ke taman-taman yang di bawahnya mengalir sungai-sungai .... Dan mereka diberi petunjuk pada ucapan yang baik, dan mereka diberi petunjuk pada jalan Yang Terpuji." (22:23-24)
Oleh yang demikian, ajaran Percaya kepada takdir memang tidak dianjurkan Allah. Malah, ia didapati bertentangan dengan kehendak-Nya pula.
Hadis
Ajaran yang bertentangan dengan ajaran Allah itu datang dari hadis, seperti yang telah dinyatakan oleh Prof. Dr. Mahmud Yunus. Di dalam kitab-kitab hadis terdapat beberapa buah hadis, yang kononnya telah disabdakan oleh Nabi junjungan, mengenai kepercayaan tersebut. Hadis-hadis itu dilampirkan bersama karangan ini.

Antaranya didapati, dalam SAHIH MUSLIM, Abdullah ibn Umar ibn al-Khattab, telah meriwayatkan bahawa kepercayaan tersebut terkandung dalam rukun iman. Itu telah disahkan oleh Jibril tatkala ia datang kepada Nabi untuk mengajarnya agama serta disaksikan oleh para sahabat.
Di dalam al-Qur'an pula, didapati cerita mengenai Jibril agak jauh berbeza dengan cerita SAHIH MUSLIM tersebut. Daripadanya difahamkan bahawa ia datang hanya dengan membawa ayat-ayat Allah, atau al-Qur'an, sahaja. Pertemuannya dengan Nabi pula, adalah di tempat yang terpencil pada waktu sunyi yang tiada dihadiri manusia lain.

Tidak mungkin Muslim itu begitu tinggi darjatnya sehingga berkuasa membuat cerita yang berlainan dengan al-Qur'an. Sedangkan Nabi sendiri tidak diberi kuasa seperti itu.

Bukhari
SAHIH AL-BUKHARI pula telah menyatakan iaitu AbuHurayrah meriwayatkan tentang Adam dan Nabi Musa yang bertelagah atas penyingkiran (Adam) dari syurga. Adam kononnya telah menyatakan bahawa penyingkiran itu adalah bukan kesilapannya sendiri tetapi sudah ditentukan Allah 40 tahun sebelum dia dicipta.
Nabi tidak mungkin membawa cerita yang, pada pandangan berdasarkan al-Qur'an, adalah karut belaka, kerana tidak berasas.

Muslim
Hadis seterusnya diriwayatkan oleh Umm Mubashshir. Ia didapati dalam SAHIH MUSLIM dan menyebut dua ayat al-Qur'an untuk mengesahkan kepercayaan kepada takdir. Akan tetapi, ayat-ayat tersebut telah diputarkannya (atau oleh Muslim sendiri) yang berbunyi seperti berikut:
"And there is none amongst you but shall have to pass over that (narrow Bridge)" (19:71) atau, "Dan tiada seorang pun antara kamu melainkan akan melintasi itu (Jambatan sempit)"

"We would rescue those persons who are God-conscious and we would leave the tyrants to their fate there" (19:72) atau, "Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan kami akan meninggalkan orang-orang yang zalim kepada takdir mereka di sana"
Adjektif "narrow Bridge" bukan konteksnya di situ. Konteksnya ialah "Jahanam" (lihat 19:68, iaitu tiga ayat sebelum). Sementara perkataan "fate" atau "takdir" di ayat yang kedua, mungkin telah diterjemahkan daripada kalimat al-Qur'an, "yitsiyyan", yang sebenarnya bermakna "berlutut".
Terjemahan kepada ayat-ayat tersebut sewajarnya berbunyi seperti berikut:

"Tiada seorang pun daripada kamu, melainkan dia akan turun kepadanya (Jahanam)" (19:71)

"Kemudian Kami menyelamatkan orang-orang yang bertakwa; dan orang-orang yang zalim, Kami meninggalkan di dalamnya, sambil melutut." (19:72)

Memutar
Contoh hadis yang memutar maksud ayat al-Qur'an untuk mensahihkan ajaran percaya kepada takdir terdapat lagi di dalam kitab SAHIH MUSLIM. Hadis itu adalah yang terakhir diturunkan di sini. Menurutnya, Imran ibn Husayn telah menyebut sebuah ayat al-Qur'an yang membenarkan rukun iman yang berkenaan, berbunyi,

"Consider the soul and Him Who made it perfect, then breathed into it its sin and its piety." (91:8) Atau, "Pertimbangkanlah roh (jiwa) dan Dia Yang membuatnya sempurna, kemudian dihembuskan ke dalamnya dosanya dan ketakwaannya."
Yang ketara di situ ialah frasa "breathed into it" atau "dihembuskan ke dalamnya". Perbuatan menghembus adalah tidak sama, sama sekali, dengan perbuatan "mengilhamkan" iaitu maksud sebenar bagi kalimat "alhamahaa" di situ. Menghembus membawa pengertian menentukan, sementara mengilhamkan membawa pengertian diberi kuasa memilih.

Ayat tersebut sebenarnya bermaksud (diturunkan dengan konteksnya sekali, iaitu dari ayat 7 hingga ayat 10 surah Matahari atau Syamsi dalam loghat al-Qur'an):
"Demi jiwa dan Yang membentukkannya, Dan mengilhamkannya kepada kejahatan dan ketakwaan! Beruntunglah orang yang menyucikannya, Dan kecewalah orang yang mengotorinya." (91:7-10)

Jiwa manusia diilhamkan dengan yang jahat dan yang baik. Terpulanglah kepada manusia untuk menyucikannya (dengan menuruti yang baik lalu menjadi takwa) atau mengotorinya (dengan menuruti yang jahat). Allah tidak menentukan sesuatu terlebih dahulu ke atasnya. Yang menentukan suratan takdirnya ialah manusia itu sendiri.

Ditolak
Haruslah disedari bahawa perbuatan memutar atau membelit-belitkkan maksud ayat-ayat al-Qur'an untuk menjadikan maksudnya suatu rukun dalam agama adalah perbuatan jenayah yang amat berat di sisi Allah. Ditambah lagi dengan perbuatan itu dilakukan atas nama Nabi atau Rasul-Nya!
Maka, hadis-hadis (Nabi?) yang kononnya sahih lagi kuat daripada al-Bukhari dan Muslim mengenai rukun iman yang keenam itu didapati, setelah diuji dengan ayat-ayat al-Qur'an, mereka menjadi lemah, dicurigai, dan seterusnya palsu, untuk diterima pakai dalam Islam sebenar.

Lantaran itu, Percaya kepada Takdir bukanlah rukun iman dalam Islam. Kerana itu, wajarlah ia ditolak dan mengambil hanya yang termaktub dalam ayat 4:136 yang telah disebut lebih awal lagi. Dengan menolaknya, serta mengambil hanya daripada Allah, bermakna umat memilih untuk menyembah Tuhan satu-satunya, dan tidak lagi menyekutukan-Nya dengan mana-mana ulama palsu. Mereka menambah kepada ajaran asal daripada Allah, sekali gus menjadikan jalan-Nya yang lurus kepada bengkok.

* Prof. Dr. H. Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim, cetakan ke-19 (1979), penerbit Basheer Ahamed (Singapura), bahagian "Kesimpulan Isi Quran", halaman III, di bawah tajuk BEBERAPA SURUHAN YANG WAJIB (termasuk akhlak yang baik)
Penulis Bacaan
Ramadan / November 2002
« Last Edit: January 11, 2009, 07:19:24 AM by sayang »

Offline sayang

  • Elandili
  • ****
  • Posts: 590
    • View Profile
Re: Quran&Hadis..
« Reply #6 on: January 10, 2009, 10:25:21 AM »
lllll
« Last Edit: January 13, 2009, 06:41:52 PM by sayang »

Offline Faried

  • Mith'quessir
  • *****
  • Posts: 1173
    • View Profile
Re: Quran&Hadis..
« Reply #7 on: January 12, 2009, 07:00:27 AM »
Makna perkataan al-Qur'an ummiy telah dikelirukan oleh para ulama palsu Islam zaman dahulu. Mereka mengertikan kalimat tersebut kepada buta huruf. Lalu Nabi Muhammad, "Nabi yang ummiy" (7:157-158), dikatakannya tidak pandai membaca dan menulis. Ajaran mereka diterima tanpa ragu oleh hampir seluruh umat Islam sejak dari zaman dahulu hingga ke hari ini.

Ummiy diplesetkan dan dilencengkan artinya menjadi buta huruf karena bacaannya mirip dengan buta (umyun), misalnya pada Q. 2.18.

Ummiy adalah bentuk tunggal yang berarti berinduk satu atau berinduk kepada yang satu, dan lawannya adalah ummiyyina/ummiyuna (2.78,3.20 dan 3.75) yang berarti berinduk banyak atau berinduk kepada yang banyak. Selengkapnya dapat dibaca pada:
http://allah-semata.org/index.php?option=com_content&task=view&id=57&Itemid=26

Offline sayang

  • Elandili
  • ****
  • Posts: 590
    • View Profile
Re: Quran&Hadis..
« Reply #8 on: January 12, 2009, 01:30:10 PM »
llll
« Last Edit: January 13, 2009, 06:39:51 PM by sayang »

Offline sayang

  • Elandili
  • ****
  • Posts: 590
    • View Profile
Re: Quran&Hadis..
« Reply #9 on: January 12, 2009, 01:31:08 PM »
Kutip di sini :
http://allah-semata.org/index.php?option=com_content&task=view&id=57&Itemid=26
Nabi Yang Ummi
Oleh Faried ( moslemqoran@yahoo.co.id )

Buta huruf merupakan parameter dan indikator keterbelakangan dan kebodohan. Pemerintah Indonesia sejak banyak tahun yang lalu telah mendeklarasikan penduduknya bebas buta huruf. Meskipun pada kenyataannya penduduk Indonesia masih ada yang buta huruf, Indonesia tidak mau mengakui mereka buta huruf, tetapi lupa huruf. Keanehan justru terjadi pada umat Islam, mereka sangat bangga memiliki Nabi yang ummi, yang dipahami sebagai buta huruf. Jika ada orang yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad dapat membaca dan menulis, maka akan mendapat reaksi dan tantangan keras. Padahal pernyataan bahwa Nabi Muhammad dapat membaca dan menulis didasarkan pada Al-Qur'an yang diyakini bersama kebenarannya. Berbagai alasan dikemukakan untuk menolak argumen Al-Qur'an bahwa Nabi Muhammad dapat membaca dan menulis, dari mereka minta kesaksian pihak ketiga hingga bukti sejarah dan ilmiah.

Persepsi yang telah terbentuk dalam kalangan umat Islam bahwa Nabi Muhammad buta huruf dapat dimengerti karena senantiasa ditanamkan oleh para ulama yang didukung terjemahan Al-Qur'an yang didasarkan atas Riwayat:
Dan mereka berkata: "Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang." (25:5)

Membaca terjemahan di atas terkesan kuat bahwa Nabi Muhammad tidak dapat menulis dan hanya menghafal saja. Kesan sebaliknya akan diperoleh ketika membaca terjemahan yang didasarkan atas nahwu-sorof dalam Yassarnal Qur'an atas ayat tersebut:
Dan mereka telah mengatakan, "Dongengan-dongengannya orang-orang yang dahulu, dia/Muhammad telah menulis (iktatabaha) dongengan-dongengan itu, lantas dongengan-dongengan itu didiktekan (tumla) atas dia pagi hari dan sore hari. (25:5)

Berdasarkan terjemahan tersebut jelas bahwa Nabi Muhammad dapat menulis, dan orang yang dapat menulis, tentulah dapat pula membaca. Hal tersebut dikuatkan oleh ayat:
Dan bacakanlah (watlu) apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al-Qur'an). Tidak ada (seorangpun) yang dapat merobah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain daripada-Nya. (18:27)

Dan bacakanlah (watlu) kepada mereka kisah Ibrahim. (26:69)

Bacalah (utlu) apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur'an). (29:45)
 
Bacalah (iqra')dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. (96:1)

Cukup banyak ayat Al-Qur'an yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad dapat membaca dan menulis. Bertentangan dengan penjelasan tersebut terdapat banyak kata ummi dalam Al-Qur'an yang diterjemahkan/dipahami sebagai buta huruf. Dalam tabel berikut disajikan kutipan beberapa ayat yang berkaitan dengan kata ummi terjemahan Departemen Agama dan Ahmad Hariadi (2004) dalam YassarnAl-Qur'an.

Terjemahan ayat Al-Qur'an yang berhubungan dengan kata ummi oleh Departemen Agama dan Ahmad Hariadi
 
Departemen Agama RI   Ahmad Hariadi
(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (al-ummiyya) yang (namanya) mereka dapati tertulis dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma?ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur?an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (7:157)   (adapun) Orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (al-ummiyya) yang mereka mendapati dia ditulis (di) sisi mereka di dalam Taurat dan Injil (yang) dia akan memerintahkan mereka dengan yang ma?ruf dan dia akan mencegah mereka dari kemungkaran dan dia akan menghalalkan untuk mereka berbagai yang baik dan dia akan mengharamkan atas mereka berbagai yang jelek, dan dia akan menghilangkan dari mereka beban mereka dan berbagai belenggu yang telah ada atas mereka. Maka orang-orang yang mereka telah memercayakan pada dia dan mereka telah memuliakan dia dan mereka telah menolong dia dan mereka telah mengikuti cahaya yang telah diturunkan bersama dia, mereka-mereka itu (adalah) orang-orang yang memenangkan. (7:157)
Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: "Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi (ummiyyina). Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (3:75)   Dan dari Ahli Kitab siapa yang engkau mempercayai dia dengan (sesuatu) (harta) kumpulan, (niscaya) dia kan menunaikan dia kepada engkau, dan dari mereka siapa yang engkau mempercayai dia dengan (sesuatu) dinar, (niscaya) tidak dia akan menunaikan kepada engkau kecuali selama engkau atas dia/dinar itu orang yang kukuh. Itu (adalah) disebabkan sesungguhnya mereka telah mengatakan, "Bukanlah atas kami di dalam orang-orang yang ummi (ummiyyina) itu (sesuatu) jalan (untuk memenuhi kewajiban)". Dan mereka mengatakan atas (nama) Allah kedustaan padahal mereka mengetahui. (3:75)
Dan di antara mereka ada yang buta huruf (ummiyyuna), tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. (2:78)   Dan dari mereka ummiyyuun, tiadalah mereka mengetahui kitab itu kecuali berbagai angan-angan, dan tiadalah mereka kecuali mereka menyangka. (2:78)
Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku". Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi (ummyyina): "Apakah kamu (mau) masuk Islam". Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat) Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya. (3:20)   Maka jika mereka telah menghujat engkau, maka hendaklah engkau mengatakan, "Aku telah menyerahkan perhatianku terhadap Allah dan (juga) siapa yang telah mengikutiku". Dan hendaklah engkau mengatakan terhadap orang-orang yang mereka telah didatangkan Alkitab itu dan (terhadap) orang-orang yang ummi (ummyyina), "Apakah kamu telah menyerahkan perhatian kamu terhadap Allah?" Maka jika mereka telah menyerahkan, maka benar-benar mereka telah tertunjuki, dan jika mereka telah berpaling, maka sesungguhnya hanyasanya atas engkau menyampaikan. Dan Allah Yang Maha Pemandang pada abdi-abdiNya. (3:20)
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf (ummiyyina) seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan (yatlu)  ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (62:2)   Dia yang telah membangkitkan di tengah-tengah kaum Ummi (ummiyyina) (seseorang) Rasul dari (antara) mereka (yang) dia membacakan (yatlu) atas mereka ayat-ayat Dia dan dia menyucikan mereka dan dia mengajarkan mereka Alkitab dan alhikmah yang banyak. Dan sesungguhnya mereka telah ada dari sebelum(nya) sungguh  dalam kesesatan yang menerangkan. (62:2)

Ummi dapat berarti ibu atau induk, tergantung kata yang mengikutinya. Dalam YassarnAl-Qur'an diartikan induk Alkitab/ummulkitabi/fi ummi (3:7, 43:4), ibu negeri/fi ummiha/ummal qura (28:59, 42:7), dan ibu atau bunda/ummi (28:7,10,13). Induk/ibu (ummi) memiliki fungsi dan peran yang banyak dan luas, yang perlu dipikirkan dan direnungkan, kemudian diaplikasikan pada kata ummi pada tabel di atas. Terhadap ibu, orang meminta petunjuk, menunjukkan ketaatan, dan memuliakannya. Nabi yang ummi yang disebut pada QS 7:157 adalah Nabi yang memiliki pengindukan yang satu, yaitu Al-Qur'an. Dengan menginduk kepada Al-Qur'an Nabi Muhammad menyuruh mengerjakan yang ma'ruf dan melarang dari mengerjakan yang mungkar, menghalalkan segala yang baik dan mengharamkan segala yang buruk, dan membuang beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), sehingga mereka tergolong orang-orang yang beruntung yang dapat menundukkan musuh-musuh mereka dan memperoleh kejayaan. Pengindukan yang satu, Al-Qur'an semata, dari Nabi Muhammad dijelaskan pada ayat berikut:
Sesungguhnya millah kamu (adalah) pengindukan/ummatukum (selaku) pengindukan/ummatan yang satu, dan Aku (adalah) Rabb kamu, maka hendaklah kamu mengabdi (pada)ku. (21:92)

Dan sesungguhnya millah kamu (adalah) pengindukan/ummatukum (untuk) kamu (selaku) pengindukan/ummatan yang satu dan Aku (adalah) Rabb kamu, maka hendaklah kamu bertakwa (pada)ku. (23:52)

Nabi yang ummi, yaitu Nabi yang berinduk kepada yang satu (Al-Qur'an) diutus kepada umat yang berinduk kepada yang banyak dan beragam. Misi Nabi yang ummi adalah mengajak umat agar berinduk kepada yang satu, Al-Qur'an semata. Jika Nabi yang ummi diartikan Nabi yang buta huruf yang diutus kepada kaum yang buta huruf, maka Nabi yang buta huruf tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kemajuan kaum yang buta huruf, karena sama-sama tidak berdaya.
Sesungguhnya pada (diri) Rasulullah itu adalah teladan yang baik bagimu. (33:21)

Buta huruf tidak patut diteladani dan sama sekali jangan diteladani, tetapi Nabi yang ummi yaitu Nabi yang menginduk kepada yang satu, Al-Qur'an semata, hendaknya diteladani.
« Last Edit: January 12, 2009, 01:36:37 PM by sayang »

Offline sayang

  • Elandili
  • ****
  • Posts: 590
    • View Profile
Re: Quran&Hadis..
« Reply #10 on: January 12, 2009, 01:31:53 PM »
Kutip di sini :
http://allah-semata.org/index.php?option=com_content&task=view&id=46&Itemid=26
Syafa'at Nabi Muhammad
Ditulis untuk Allah.Semata.Org


Syafa'at maknanya adalah perantaraan, atau lebih jelasnya "bantuan untuk memohonkan pertolongan kepada Allah." Syafa'at Nabi maksudnya mengharapkan Nabi Muhammad untuk menjadi perantara kita untuk memohonkan kebaikan (atau memohonkan untuk meringankan dosa-dosa kita) bagi kita kepada Allah di hari pengadilan nanti.

Banyak sekali hadits-hadits dari Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Malik Muwata, yang menuliskan tentang syafa'at Nabi Muhammad di hari pengadilan nanti. Syafa'at ini juga sering dikaitkan dengan Shalawat kepada Nabi Muhammad yang telah dibahas sebelumnya. Salah satu hadi yang paling terkenal menyatakan bahwa Nabi mengatakan bahwa siapapun yang tidak mau melakukan 'Yussallii ala al Nabi' (shalawat kepada Nabi, yang dimaknai dengan salah tersebut) tidak akan memperoleh syafa'at dari Nabi Muhammad di hari pengadilan nanti.

Namun faktanya konsep shalawat dan syafa'at ini memang sangat dipercayai secara umum dimayoritas masyarakat muslim. Sudah umum sekali pada khutbah sembahyang Jumat, khotib dengan bersemangat membahas syafa'at Nabi Muhammad ini ? tanpa ada protes atau keberatan sama sekali dari mayoritas umat, hasilnya memang jadi menyesatkan, memimpin ke jalan yang salah!

Hadits-hadits lain mengindikasikan bahwa Nabi menekankan harapannya bahwa orang-orang yang beriman harus mengucapkan kata-kata shalawat kepadanya. Bukankah seharusnya kita berpikir dan merenungkan:
Benarkah Nabi Betul-Betul Meminta Shalawat Untuknya Kepada Orang-Orang Yang Beriman?
Bukankah ini sama juga bahwa Nabi minta diagung-agungkan, apakah Nabi seperti ini?

Logika sederhana mengatakan, tidak mungkin orang semulia Nabi minta kepada umatnya untuk mengagung-agungkan namanya.

Namun bagaimanapun juga kita harus selalu memeriksa kebenaran hal-hal seperti ini kepada Al-Qur'an! Apakah memang konsep syafa'at ini sesuai dengan ayat-ayat Qur'ani?

Jawaban dari Al-Qur'an yang insya Allah bukti kuat bahwa Nabi tidak mungkin meminta umatnya untuk (1) meng-agung2kannya kepadanya atau (2) meminta upah (kebaikan bagi dirinya) dari umatnya adalah:
Maa kaana libasyarin an yu/tiyahu Allaahu alkitaaba walHukma wannubuwwata tsumma yaquula linnaasi kuunuu 'ibaadan lii min duuni Allaahi walaakin kuunuu rabbaaniyyiina bimaa kuntum tu'allimuuna alkitaaba wabimaa kuntum tadrusuuna. (3:79)
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah. " Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi pemyembah Allah, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (3:79)

Wamaa tas-aluhum 'alayhi min ajrin in huwa illaa dzikrun lil'alamiina. (12:104)
Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam. (12:104)

Fa-in tawallaytum famaa sa-altukum min ajrin in ajriya illaa 'alaa Allaahi wa umirtu an akuuna mina almuslimiina. (10:72)
"Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku datang dari Allah. Aku diperintahkan untuk menjadi orang yang berserah diri (kepada-Nya)." (10:72)

Qul maa as-alukum 'alayhi min ajrin wamaa anaa mina almutakallifiina. (38:86)
Katakanlah (hai Muhammad): "Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku; Dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan. (38:86)

Ayat 3:79 di atas insya Allah, memberikan pengertian kepada kita bahwa Nabi Allah, siapapun beliau, dan tentu juga Nabi Muhammad, tidak mungkin meminta orang-orang beriman memuja-mujanya, beribadah kepadanya. Sedangkan ayat 12:104, 10:72 dan 38:86, membuktikan bahwa NABI TIDAK PERNAH MEMINTA KEPADA ORANG-ORANG YANG BERIMAN apapun sebagai upah untuknya, sebagi upah baginya dalam menyampaikan pesan-pesan (ayat-ayat) Allah kepada mereka. Bukankah sangat terhormat dan sangat menghormati Nabi bila kita berpikir bahwa Nabi itu memang manusia pilihan Allah, yang tidak mungkin pergi kesana kemari mengatakan: "Lakukan ini bagiku" , atau "lakukan itu bagiku" atau "jika kamu tidak mengunjungi makamku aku tidak akan menjadi perantara kamu" atau kalau kamu tidak "shalawat kepadaku" aku tidak akan memberi syafa'at kepadamu.
Syafa'at ? Ada atau Tidak Ada?
Percaya kepada syafa'at menimbulkan angan-angan. Bahwa Nabi, Rasul, Imam, atau orang yang dianggap suci bisa memberi syafa'at kepada umat Islam. Menurut Al-Qur'an, syafa'at hanya berlaku di akhirat. Manusia telah diperingatkan semenjak dari awal bahwa tidak ada syafa'at yang akan diterima dan juga tidak bermanfaat di hari pengadilan nanti, berikut ayat-Nya:
Wattaquu yawman laa tajzii nafsun 'an nafsin syai-an walaa yuqbalu minhaa syafaa'atun walaa yu/khatsu minhaa 'adlun walaa hum yunsharuuna. (2:48)
Dan jagalah dirimu dari (`azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikit pun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa`at dan tebusan daripadanya, dan tidaklah mereka akan ditolong. (2:48)

Wattaquu yawman laa tajzii nafsun 'an nafsin syai-an walaa yuqbalu minhaa 'adlun walaa tanfa'uhaa syafaa'atun walaa hum yunsharuuna. (2:123)
Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafa'at kepadanya dan tidak ada seorangpun akan ditolong. (2:123)

Dari kedua ayat di atas, bisa diambil pengertian bahwa makna syafa'at adalah suatu pembelaan atau pertolongan kepada seseorang pada suatu hari (hari pengadilan). Namun jelas juga pada ayat 2:48 dikatakan bahwa "seseorang tidak dapat membela orang lain" ditekankan lagi pada 2:123 bahwa syafa'at tidak akan memberi manfaat kepada seseorang! Jelas kan! Bahwa Nabi juga hanya manusia biasa, bukan dewa, jadi beliaupun termasuk di dalam makna "seseorang tidak dapat membela orang lain."
Tidak Ada Syafa'at, Kalau Ada Hanya Akan Bikin Malas!
Syafa'at tidak diterima dan tidak bermanfaat karena pada hari itu tidak akan ada syafa'at, tidak ada jual beli, dan tidak ada persahabatan, untuk menolong. Tidak ada pertolongan langsung dari pihak manapun. Sebagaimana dinyatakan ayat berikut:
Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa`at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang lalim. (2:254)

Bukankah Allah Maha Benar? Dia Maha Tahu, umat muslim akan menjadi pemalas, kerjanya hanya berdoa memohon syafa'at Nabi saja BILA syafa'at Nabi atau siapapun ADA! Namun setan memang telah sangat berhasil menjerumuskan mayoritas muslim sehingga lebih mengimani Hadits yang hanya mengada-adakan kebohongan yang disandangkan kepada Nabi. Perhatikan kembali ayat 254 dari surat Al-Baqarah ini dibuka dengan peringatan Allah, perintah-Nya, kemudian ditutup dengan "tidak ada syafa'at." Tidakkah kita renungkan bahwa Allah menghendaki kita untuk bertakwa kepada-Nya, untuk takut kepada-Nya, patuh kepada perintah-Nya, dan dengan baiknya Dia memperingatkan kita bahwa di hari nanti tidak akan ada syafa'at.
Wa andzir bihi alladziina yakhaafuuna an yuHsyaruu ilaa rabbihim laysa lahum min duunihi waliyyun walaa syafii'un la'allahum yattaquuna. (6:51)
Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa'at pun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa. (6:51)

Di Surat 6:51, Allah memberi instruksi untuk memberi peringatan dengan apa yang diwahyukan kepada Nabi (=Al-Qur'an) kepada orang-orang yang takut (takwa kepada Allah), dan kembali menekankan bahwa syafa'at itu hanya kepunyaan Allah, ditutup dengan kalimat "agar mereka bertakwa." Semua kalimat-Nya ini jelas dan tegas, harfiah dan tidak ada kebengkokan sama sekali!
Perantara Yang Diperkirakan Bisa Memberikan Syafa'at
Ada tiga golongan yang disebut di dalam Al-Qur'an yang dikira umat bisa memberikan syafa'at:
Yang disembah/diabdi selain Allah
Waya'buduuna min duuni Allaahi maa laa yadhurruhum walaa yanfa'uhum wayaquuluuna haa-ulaa-i syufa'a-unaa 'inda Allaahi qul atunabbi-uuna Allaaha bimaa laa ya'lamu fii assamaawaati walaa fii al-ardhi subHaanahu wata'alaa 'ammaa yushrikuuna. (10:18)
Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan (kerugian) kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah." Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu). (10:18)

Dengan menolak ajaran Allah dan mengambil ajaran lain diluar Al-Qur'an, seseorang terjerumus ke dalam kancah menyembah selain dari Allah. Jelasnya dia menyekutukan Allah yang sama dengan syirik atau musyrik. Mereka yang disembah itu dengan jelas tidak diberi kuasa untuk memberikan syafa'at sedikitpun oleh Allah. Ingat syirik, atau menduakan Allah dengan yang lain, adalah rajanya daripada segala dosa! Jadi tolonglah berhenti mempercayai fantasi bahwa Nabi Muhammad diberi kekuasaan untuk memberikan syafa'at. Renungkan juga dengan mempercayai Nabi Muhammad sebagai pemberi syafa'at sama saja dengan menuhankan beliau disisi Allah!
Tuhan-tuhan lain
Aattakhidzu min duunihi aalihatan in yuridni arraHmaanu bidhurrin laa tughni 'annii syafaa'atuhum syai-an walaa yunqidzuuni. (36:23)
Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya, jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? (36:23)

Siapa atau apa saja yang diambil oleh seseorang sebagai mempunyai kuasa seperti Tuhan, dia dikategorikan sebagai orang yang mengambil tuhan selain daripada Dia. Siapapun, tuhan manapun selain Allah tidak akan mampu untuk membatalkan keputusan Allah.
Orang-orang (alim) yang disangka sekutu bagi Allah
Walaqad ji/tumuunaa furaadaa kamaa khalaqnaakum awwala marratin wataraktum maa khawwalnaakum waraa-a dzuhuurikum wamaa naraa ma'akum syufa'aakumu alladziina za'amtum annahum fiikum syurakaa-u laqad taqath-tha'a baynakum wadhalla 'ankum maa kuntum taz'umuuna. (6:94)
Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami kurniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa'at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah). (6:94)

Di Surat Al-An'am (QS 6) ayat 94 di atas jelas dinyatakan bahwa di hari pengadilan nanti kita akan mempertanggung-jawabkan semua amal perbuatan kita sendiri-sendiri, tidak ada pemberi syafa'at yang kita angankan akan ada menemani kita di hadapan Allah, tidak ada yang membela kita selain semua amalan kebaikan kita sendiri.
Hanya Allah-lah Pemberi Syafa'at
Syafa'at adalah kepunyaan Allah semata, kuasa-Nya. Semua selain Dia, apakah itu Malaikat, Nabi, atau Rasul, tidak mempunyai kekuasaan langsung untuk memberikan syafa'at, sesuai firman-Nya:
Allaahu alladzii khalaqa assamaawaati wal-ardha wamaa baynahumaa fii sittati ayyaamin tsumma istawaa 'alaa al'arsyi maa lakum min duunihi min waliyyin walaa syafii'in afalaa tatadzakkaruuna. (32:4)
Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa`at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (32:4)
 
Qul lillaahi asy-syafaa'atu jamii'an lahu mulku assamaawaati wal-ardhi tsumma ilayhi turja'uuna. Wa-idzaa dzukira Allaahu waHdahu isyma-azzat quluubu alladziina laa yu/minuuna bil-aakhirati wa-idzaa dzukira alladziina min duunihi idzaa hum yastabsyiruuna. (39:44-45)
Katakanlah: "Hanya kepunyaan Allah syafa'at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan". Dan apabila HANYA NAMA ALLAH saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati. (39:44-45)

Perhatikan di (39:44) syafa'at itu SEMUANYA (jamii'an) kepunyaan Allah, sama sekali tidak disisakan untuk Nabi, Malaikat, dan siapapun. Yang menarik di ayat berikutnya Allah menekankan bahwa kalau HANYA NAMA ALLAH saja yang disebut, kebanyakan manusia jadi kesal, manusia-manusia seperti ini disebut sebagai orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat!! Mudah2an kita tidak termasuk kepada golongan ini, insya Allah, caranya mudah: "Berhentilah mempercayai fantasi bahwa Nabi atau siapapun akan memberi syafa'at" atau lebih prinsipnya "berhenti mempersekutukan Allah."
Syafa'at Kalaupun Ada Dari Selain Allah, Pasti Melalui Izin-NYA
Ada ayat Al-Qur'an, surat Yunus (QS 10) ayat 3 dan surat An-Najm (QS 53) ayat 26, yang menyatakan bahwa bisa saja Allah memberi kuasa syafa'at kepada yang lain, namun harus betul-betul dimaknai sebagai berikut: Hal ini hanya atas seizin-Nya, HANYA ATAS SE-IZIN ALLAH.

Berlaku umum, tidak terbatas hanya kepada Nabi, Malaikat, bisa kepada siapa saja, karena memang tidak disebut secara khusus izin-Nya kepada siapa, cukup adil kalau kita memaknai bahwa izin-Nya bisa saja kepada Nabi-Nabi-Nya (tidak terbatas kepada Nabi Muhammad) atau bahkan kepada orang biasa (tentu saja orang yang diridhoi-Nya dengan kualitas sesuai dengan kualifikasi yang memenuhi persyaratan sebagai orang yang saleh dengan kriteria Al-Qur'an dari Allah), sekali lagi ini pendapat saya yang bisa saja salah.
Inna rabbakumu Allaahu alladzii khalaqa assamaawaati wal-ardha fii sittati ayyaamin tsumma istawaa 'alaa al'arsyi yudabbiru al-amra maa min syafii'in illaa min ba'di idznihi dzaalikumu Allaahu rabbukum fa'buduuhu afalaa tadzakkaruuna. (10:3)
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Zat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (10:3)
 
Wakam min malakin fii assamaawaati laa tughnii syafaa'atuhum syai-an illaa min ba'di an ya/dzana Allaahu liman yasyaa-u wayardhaa. (53:26)
Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa'at mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridai (Nya). (53:26)
 
Syafa'at Yang Sebenarnya!
Syafa'at sebenar-benarnya adalah dari diri sendiri, dari amalan perbuatan kita sendiri, masing-masing! Manusia yang berbuat banyak amalan baik otomatis amalan baiknya itulah yang menjadi syafa'atnya, sedang manusia yang berbuat banyak amalan buruk, syafa'atnya otomatis buruk pula hasilnya! Coba renungkan ayat berikut.
Man yasyfa' syafaa'atan Hasanatan yakun lahu nashiibun minhaa waman yasyfa' syafaa'atan sayyi-atan yakun lahu kiflun minhaa wakaana Allaahu 'alaa kulli syay-in muqiitan. (4:85)
Barang siapa yang memberikan syafa`at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barang siapa yang memberi syafa`at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (4:85)

Jelas dari An-Nisa (QS 4) ayat 85 tersebut bahwa syafa'at yang sebenar-sebenarnya adalah dari diri kita MASING-MASING, dari amalan perbuatan setiap individu sendiri, catatan perbuatan atau tindakan nyata, bukan hanya doa-doa dan ritual tapi perbuatan nyata.

Mudahnya seperti pada Surat Al-A'raf (QS 7) ayat 8 dan 9 di bawah, bahwa di hari pengadilan nanti yang jadi pertimbangan utama adalah yang DIUKUR dengan DITIMBANG atau DIBANDINGKAN adalah AMALAN KEBAIKAN lawan AMALAN KEBURUKAN setiap individu. Ditekankan diakhir ayat 9 surat 7 ini bahwa salah sendiri kalau timbangan kebaikannya ringan (sedikit) itu karena orang tersebut selalu mengingkari ayat-ayat Allah, ayat-ayat dari Al-Qur'an, bukan dari buku-buku yang lain kan?
Walwaznu yawma-idzini alHaqqu faman thaqulat mawaaziinuhu fa ulaa-ika humu almufliHuuna. Waman khaffat mawaaziinuhu fa ulaa-ika alladziina khasiruu anfusahum bimaa kaanuu bi-aayaatinaa yadzlimuuna. (7:8-9)
Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barang siapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. (7:8-9)

Contoh dari ayat-ayat bagi syafa'at yang baik adalah sebagaimana di bawah ini:
Mengambil perjanjian dengan Tuhan
Dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahanam dalam keadaan dahaga. Mereka tidak berhak mendapat syafa'at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah. (19:86-87)

Orang-orang yang berdosa tidak ada hak untuk mendapat syafa'at!!!
Allah meridhoi perkataannya
Yawma-idzin laa tanfa'u asy-syafaa'atu illaa man adzina lahu arraHmaanu waradhiya lahu qawlaan. (20:109)

Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridai perkataannya. (20:109)
 
Walaa tanfa'u asy-syafaa'atu 'indahu illaa liman adzina lahu Hattaa idzaa fuzzi'a 'an quluubihim qaaluu maadzaa qaala rabbukum qaaluu alHaqqa wahuwa al'aliyyu alkabiiru. (34:23)
Dan tiadalah berguna syafa'at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa'at itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata: "Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?" Mereka menjawab: "(Perkataan) yang benar", dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (34:23)
 
Takut kepada-Nya
Ya'lamu maa bayna aydiihim wamaa khalfahum walaa yasyfa'uuna illaa limani irtadhaa wahum min khasy-yatihi musyfiquuna. (21:28)
Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa'at melainkan kepada orang yang diridai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. (21:28)

Takut kepada-Nya bermakna taat dan patuh kepada perintah dan larangan-Nya, yang semuanya tertulis di dalam Al-Qur'an.
Kesaksian pada yang benar dan meyakini (Nya)
Walaa yamliku alladziina yad'uuna min duunihi asy-syafaa'ata illaa man syahida bilHaqqi wahum ya'lamuuna. (43:86)
Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa'at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa'at ialah) orang yang bersaksi kepada yang hak dan mereka meyakini (Nya). (43:86)

Mengharapkan syafa'at dari orang lain, betapapun mulianya orang tersebut dalam pandangan kita, hanya akan menghasilkan kemalasan dan jauh dari takwa kepada Allah.

Mudah-mudahan dengan uraian yang panjang lebar tentang syafa'at ini, kita semua berhenti mengimani hadits yang menyatakan bahwa umat muslim akan mendapatkan syafa'at dari Nabi Muhammad, bila kita selalu bershalawat kepada Nabi. Ternyata dengan jelas dinyatakan bahwa syafa'at yang pasti berasal dari diri kita masing-masing dalam bentuk amalan baik atau perbutan dan tindakan nyata kita mengamalkan perintah-perintah dan larangan dari Allah yang maha kuasa.

Sebagai penutup mudah-mudahan uraian yang panjang lebar tersebut memberi berkah dan menambah ilmu kita masing-masing:
Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (20:114)
« Last Edit: January 12, 2009, 01:40:12 PM by sayang »

Offline sayang

  • Elandili
  • ****
  • Posts: 590
    • View Profile
Re: Quran&Hadis..
« Reply #11 on: January 12, 2009, 01:32:38 PM »
Kutip di sini :
http://allah-semata.org/index.php?option=com_content&task=view&id=47&Itemid=26
Shalawat Bagi Nabi Muhammad?
Ditulis untuk Allah-Semata.Org

Ayat 33:56 yaitu yang secara tradisi dimaknai sebagai kewajiban kita umat muslim untuk mengirimkan salawat kepada Nabi, adalah salah satu ayat yang paling disalah-pahami oleh kita dan tradisi beragama kita, hasilnya beratus juta umat muslim mengagungkan Nabi Muhammad (diluar kemauannya, karena beliaupun sudah meninggal) bukannya semata hanya mengagungkan Allah.

Translasi Dari DepAg Tentang Ayat Shalawat Kepada Nabi
Inna Allaaha wamalaa-ikatahu yushalluuna ?alaa annabiyyi yaa ayyuhaa alladziina aamanuu shalluu ?alayhi wasallimuu tasliimaan. (33:56)
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (33:56)

Kalau kita pertanyakan kepada kaum muslim secara umum: ?apa sih maksudnya shalawat kepada Nabi itu?? atau kalau ditanyakan ke saya dulu ketika masih awam, jawab saya adalah: ?mendoakan Nabi untuk keselamatannya!? ..kalau saya dikejar lagi oleh pertanyaan lain ?keselamatan bagaimana dan untuk apa?? ? jawaban saya: ?saya tidak tahu pasti..atau supaya dia/Nabi tambah disayangin Allah?ditinggikan oleh-Nya?... semacam itulah.

Tapi terus terang dulu..dulu hanya beberapa tahun lalu, saya tidak tahu apa-apa, kehidupan saya juga jauh dari hal seperti ini.. jauh dari kemauan untuk mengetahui hal seperti ini, dan bagusnya seingat saya, dari semenjak kecil saya tidak punya kebiasaan untuk mengagungkan Nabi Muhammad (kecuali yang saya baca di tahiyat akhir dalam shalat tradisi saya).

AKAR KATA dari yushalluuna, shalluu, yushallii, washalli adalah: SHALA dari Shad Lam Waw.
Kata Shalawat Dengan Makna Berbeda-Beda
SATU
Kalau kita baca keterangan di Translasi Qur?an Indonesia/DepAg ? Yushalli atau Shalawat:

Shalawat Allah kepada Nabi adalah curahan rahmat-Nya kepada Nabi.

Shalawat Malaikat kepada Nabi adalah malaikat memohonkan rahmat dari Allah untuk Nabi.

Shalawat orang beriman kepada Nabi: adalah perintah Allah supaya orang beriman memohonkan rahmat untuk Nabi sebagai jalan memelihara hubungan kepada Nabi.

Coba artikan dan analisa sendiri:
Allah mencurahkan rahmat-Nya, sedang Malaikat memohonkan (bukankah Allah sudah memberikan rahmat-Nya pada ayat yang sama?).. tidak cukup hanya Malaikat, semua orang beriman diperintahkan Allah untuk memohonkan rahmat dari Allah sendiri untuk Nabi? ? ?pabaliut ngga?? ?kok pengertian shalawat berbeda-beda untuk Allah, untuk Malaikat dan untuk kita?? belum lagi kalau kita pertanyakan:

Allah kok minta kita mengagungkan mahluk ciptaan-Nya sendiri? Mungkin tidak?

Kalau jawabnya iyah, banyak sekali kontradiksinya dengan perintah Dia.
DUA
TEPAT-kah tidak terjemahan Al-Qur?an Indonesia bahkan umumnya terjemahan Inggris dari penterjemah yang pada terkenal sekalipun? Betulkah ?yushalli? ?shalluu? itu translasi yang paling tepatnya adalah ?blessing? atau ?rahmat?? Coba KITA LIHAT dan tidak usah jauh-jauh, 13 ayat sebelum 33:56, yaitu 33:43:
Huwa alladzii yushallii ?alaykum wamalaa-ikatuhu liyukhrijakum mina adz-dzulumaati ilaa annuuri wakaana bilmu/miniina raHiimaan. (33:43)
Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untuk mu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (33:43)

Dia (Allah) dan Malaikat-Nya yushallii (=shalawat) kepada kita, ke KITA loh?wow!!! untuk mengeluarkan kita dari kegelapan kepada cahaya (an-nur).
Jadi Allah dan Malaikat-Nya juga bershalawat untuk orang-orang beriman ? bukan hanya Nabi saja yang Dia dan Malaikatnya beri shalawat!!
TIGA
Kita tambahkan lagi:
Khudz min amwaalihim shadaqatan tuthahhiruhum watuzakkiihim bihaa washalli ?alayhim inna shalaataka sakanun lahum wallaahu samii?un ?aliimun. (9:103)
Ambilah sedakah dari sebagian harta mereka, dengan itu kamu membersihkan dan memurnikan mereka, dan ber-doalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menentramkan jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (9:103)

Di sini, di 9:103 ini Nabi diperintahkan Allah untuk shalawat kepada kaumnya, pengikutnya, orang-orang beriman.

Coba kita sarikan:
?   Di 33:56: Allah, Malaikat bershalawat kepada Nabi dan kita diperintahkan ber-shalawat kepada Nabi (hasilnya adalah tradisi yang menjadikan mayoritas mengagungkan Nabi).
?   Di 33:43: Allah dan Malaikat bershalawat (memberikan) kepada kita (HASIL-nya kepada tradisi? adalah hal ini tidak pernah DIBAHAS).
?   Di 9:103: Allah memerintahkan Nabi bershalawat kepada kita (HASIL-nya kepada tradisi? adalah hal ini tidak pernah DIBAHAS)
Jadi gimana dong ? so what gitu loh?

Jadi gimana dong ? apakah TEPAT ?sala? dan derivative-nya (yushalli, washalli, dan lain sebagainya) ditranslasikan sebagai mendoakan atau memohonkan rahmat?

Yang jelas saya yakini:
?   Kita tidak boleh meng-agungkan selain DIA.
?   DIA memerintahkan hanya untuk ibadah dan mengagungkan DIA semata.
?   DIA memerintahkan untuk tidak membeda-bedakan Nabi dan Rasulnya.
?   NABI telah meninggal, kalau maksud shalawat kita untuk bisa didengar Nabi, supaya dia memberi syafaat kepada kita juga yah ngga bener!!! Karena:
Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar. (35:22)

Ke level mana lagi kita mau mohonkan posisi Nabi?

Kalau shalawat itu dimaksudkan untuk memohon kepada Allah supaya ?nabi ditinggikan tempatnya disisi Allah, ke level mana lagi kita mau mintakan posisi Nabi? Insya Allah Nabi-Nya ini tidak perlu lagi di-doa2kan:
Liyaghfira laka Allaahu maa taqaddama min dzanbika wamaa ta-akhkhara wayutimma ni?matahu ?alayka wayahdiyaka shiraathan mustaqiimaan. (48:2)
supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus. (48:2)

Jelas dari ayat ini DOSA Nabi di masa dia Hidup yang sebelumnya (past) bahkan sampai dia (future) meninggal sudah dimaafkan Allah, jadi kemuliaan apa lagi yang lebih dari ini?

*Makanya saya menentang total doa setelah adzan maghrib di TV yang memohonkan supaya nabi ditinggikan dan lain sebagainya? buat apa lagi ? beliau telah berada di sisi Allah.

Dengar perkataan-Nya dan ikuti yang terbaik ? Pengertian shalawat yang lebih baik?
Seseorang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang terbaik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (39:18)
 
Shalawat = Mendukung
Kata "Nabi" manakala merujuk kepada nabi Muhammad SELALU merujuk kepadanya ketika ia hidup; bukan setelah kematiannya. Ada beberapa rekan muslim penganalisa ayat 33:56 dan ayat-ayat berkaitan yang telah saya kutipkan di atas yang sampai pada kesimpulan bahwa translasi dan pengertian yang lebih tepat dari ?sala? ? yushalli dan semua di atas adalah sebagai berikut:
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya mendukung (yushalli) Nabi. Hai orang-orang yang beriman, kamupun harus mendukungnya, dan dukunglah dia sepenuhnya." (33:56)

"God and His angels support the prophet, O you who believe, you too shall support him and fully recognize and accept him (as the prophet of God)." (33:56)

Karenanya makna yang lebih baik, dan Insya Allah mendekati kebenaran adalah bahwa: Shalawat = mendukung

Makna yang Insya Allah mendekati kebenaran ini, dikonfirmasi oleh ayat berikut:
Alladziina yattabi?uuna arrasuula annabiyya al-ummiyya alladzii yajiduunahu maktuuban ?indahum fii attawraati wal-injiili ya/muruhum bilma?ruufi wayanhaahum ?ani almunkari wayuHillu lahumu ath-thayyibaati wayuHarrimu ?alayhimu alkhabaa-itsa wayadha?u ?anhum ishrahum wal-aghlaala allatii kaanat ?alayhim falladziina aamanuu bihi wa?azzaruuhu wanasharuuhu wattaba?uu annuura alladzii unzila ma?ahu ulaa-ika humu almufliHuuna. (7:157)
(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi dari kaum yang belum pernah mendapat kitab (ummi) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang percaya kepadanya, menghormatinya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (7:157)

"Those who believe in him (the prophet), and respect him, and support him, and follow the light (the Qur?an) that was brought down with him, those are the truly successful ones." (7:157)

Ayat ini mencakup semua yang Allah perintahkan kepada kita untuk kita lakukan kepada Nabi.

Untuk percaya kepada Nabi, yang sesuai dengan Sallimu Tasliiman pada 33:56.

Untuk mendukungnya, yang sesuai dengan Shallu Alayhii pada ayat yang sama.

Untuk taat padanya (dengan mengikuti pesan yang diwahyukan padanya, yaitu Al-Qur?an)

Hal-hal di ataslah yang diperintahkan Allah kepada setiap manusia untuk Nabi mereka, apakah mereka umat pada jaman Nabi Musa, Nabi Isa maupun Nabi Muhammad.

Pentingnya Surat Al-Araf, ayat 157 ini (7:157), adalah sangat jelas, karena ini membukakan pengertian yang menyimpang dari tiga konsep:
?   ?Sallimu Tasliiman? adalah perintah dari Allah kepada orang beriman untuk mengakui dan percaya kepada Nabi-Nya, berarti Allah bukannya memerintahkan untuk ?memberi salam? kepada Nabi.
?   ?Shallu Alayhii? adalah perintah Allah kepada orang-orang yang beriman untuk mendukung Nabi-Nya, bukan perintah untuk mengucapkan dan mengulang-ulang kata-kata ?Salli ala al-Nabi? seperti beo, tanpa tahu apa maknanya.
?   Perintah untuk taat/patuh pada Nabi adalah perintah Allah kepada orang-orang beriman untuk mengikti cahay (Al-Qur?an) yang Dia telah wahyukan epada Nabinya (7:157), dan bukan perintah apa yang secara salah diatributkan kepada Nabi, yang dinamakn Sunna Nabi Muhammad, yang tidak pernah sekalipun disebutkan pada ayat-ayat Qur?ani.
Menutup pendapat saya, ada baiknya kita pikirkan:
Apa karena kebodohan kita yang secara tidak sadar menduakan Allah dengan Nabi, meninggalkan Al-Qur?an (hanya melagukan sambil ga ngerti) dan hidup dengan hukum-hukum dari hadits: maka umumnya negara muslim adalah negara yang terbelakang, bodoh, miskin dan kacau? ? sebagai contoh kurang apa sih kita sumber daya alam dan orang namun kita miskin dan celakanya bencana demi bencana ? oh yah bencana tsunami adalah yang terbesar sekarang ini yang saya tahu, dan kebanyakan korbannya ada di mana?

Saya tidak mengharapkan anda setuju dengan pendapat saya di sini, saya jadi begini setelah perjalanan panjang dan intensif gaulin Al-Qur?an hampir 2 tahunan lebih almost on daily basis. Banyak sekali kebaikan yang saya dapat? namun kelemahan saya (padahal sudah tahu salah) masih juga banyak.

Akhir kata, cobalah pelajari dan pahami sendiri  Teman dan saudaraku tentu kita tidak mau termasukAl-Qur?an dengan tekun  golongan yang di complain oleh Nabi di hari akhir nanti, sebagai berikut:
Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan." = Mengabaikan Al-Qur?an. (25:30)
« Last Edit: January 12, 2009, 01:42:56 PM by sayang »

Offline sayang

  • Elandili
  • ****
  • Posts: 590
    • View Profile
Re: Quran&Hadis..
« Reply #12 on: January 12, 2009, 01:33:36 PM »
Kutip di sini:
http://allah-semata.org/index.php?option=com_content&task=view&id=50&Itemid=26
Mendoakan Nabi Muhammad
Ditulis untuk Allah-Semata.Org

Pernahkan anda memperhatikan adzan di televisi-televisi, langsung setelah adzan ada doa yang khusus dipanjatkan kepada Allah, memohon kepadaNya agar Allah memenuhi janjiNya, agar menempatkan Nabi Muhammad di sisi-Nya? Kurang lebih ada juga kata-kata seperti ini: Ya Allah berikanlah kepada Nabi Muhammad washilah dan fadhillah.

Atau tepatnya ada hadits yang diatributkan kepada nabi Muhammad bahwa dia memerintahkan muslim untuk mendoakanya sebagai berikut:

"Ya Allah berikanlah kepada Sayidina* Muhammad jalan dan derajat tertinggi dan berikanlah kepada dia kemuliaan yang telah Engkau janjikan kepadanya, Engkau tidak pernah melanggar apa yang telah Engkau janjikan."

*Sayidina mempunyai beberapa arti sebagai berikut: tuan, master, bahkan bisa bermakna tuhan.

Coba renungkan perlukah ini? Lagipula apakah ini bukan suatu hal yang berlebih-lebihan, berlebihan karena kita terus saja menagih janji-Nya, seakan yang Maha Kuasa akan ingkar terhadap janjiNya?
Allah Mengatakan Bahwa Nabi dan Rasul-Nya Tidak Boleh Meminta Upah
Pendapat saya sebagai manusia sih sangat sah anda abaikan, namun coba kita periksa apakah benar nabi, manusia pilihan Allah, betul memerintahkan kepada umat muslim untuk mendoakannya, meminta kemulian dan derajat tertinggi bagi dirinya? Yang paling valid tentu kita harus memeriksa dengan Al-Qur'an sebagai Al-Furqan, sebagi pembeda antara yang benar dan salah. Dan ternyata kita dapatkan ayat-ayat berikut:
Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam. (12:104)

Katakanlah: "Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (34:47)

Allah memerintahkan nabi untuk tidak meminta upah kepada seruannya, ayat-ayat Al-Qur'an yang disampaikannya. Mungkinkah nabi melanggar perintah Allah? Tentu hal ini bertentangan dengan hadits yang menyatakan bahwa nabi memerintahkan untuk mendoakannya (sebagi upah nabi). Pada Surat 34:47, nabi diminta untuk mengatakan bahwa upah dia Hanya dari Allah.
"Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku datang dari Allah. Aku diperintahkan untuk menjadi orang yang berserah diri (kepada-Nya)." (10:72)

Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. (26:109)  ? Nuh

Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. (26:127)  ? Hud

Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. (26:145) ? Saleh

Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. (26:164) ? Luth

Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. (26:180) ? Syu'aib

Surat 10, ayat 72 dan (26:109, 127, 145, 164, 180) ini konteksnya adalah cerita tentang nabi Nuh, nabi Hud, Bani Saleh, nabi Luth dan nabi Syu'aib, ingat semua ayat ini diwahyukan kepada nabi Muhammad, apakah kemudian nabi Muhammad tidak mengambil inti sarinya dari wahyu Allah ini, karena tugas semua nabi dan rasul Allah adalah menyampaikan pesan-pesanNya, dan semua sama MEREKA SEMUA (NABI DAN RASUL) TIDAK MEMINTA UPAH SEDIKITPUN DARI KITA, KARENA UPAHNYA HANYA DARI ALLAH.
Katakanlah: "Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya. (25:57)

Katakanlah (hai Muhammad): "Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku; Dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan. (38:86)

Semua ayat-ayat yang dikutip di atas, tentu harus anda periksa lagi (amalkan 17:36), namun INTINYA adalah FAKTA dukungan dari ayat-ayat Qur'ani bahwa Nabi Muhammad tidak akan mungkin, dan tidak pernah meminta apapun dari orang-orang yang beriman untuk meminta upah sebagai bayaran dari tugas yang dibebankan Allah kepadanya untuk menyampaikan ayat-ayatNya. Bukankah sangat terhormat bagi kita untuk menanamkan di pikiran dan hati kita bahwa Muhammad itu manusia pilihan Allah, yang terhormat, jujur dan jauh dari kemungkinan meminta sesuatu pamrih dari manusia lain. Bukankah sangat merendahkan dia bila kita berpikir bahwa nabi Muhammad, pergi kesana kemari sambil mengucapkan: "Lakukan ini untuk-ku, lakukan itu untuk-ku (atau hal lain semisal: jika kamu tidak mengunjungi makamku, aku tidak memberikan syafa'at untukmu atau jika kamu tidak mengucapkan shalawat bagiku aku juga tidak akan bershalawat untukmu)."

Perlukah ini, padahal kalau kita mau mencari di-ayat Al-Qur'an, kita akan temukan bahwa Nabi Muhammad, sudah diampuni dosa-dosanya sewaktu beliau masih hidup, sebagaimana ayat berikut:
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. (48:1)

Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus. (48:2)

Mendoakan Nabi dan Menagih Janji Allah = Merendahkan Nabi dan Menghina Allah

Kembali kita lebih uraikan lagi pelanggaran kita yang mengklaim hanya tunduk kepada Allah, berikut kita kutip lagi doa untuk nabi, yang saya sering perhatikan setelah Adzan, dan saya yakin banyak muslim yang menjadikan ini sebagai bagian dari doanya sehari-hari:

"Ya Allah berikanlah kepada Sayidina Muhammad jalan kebaikan dan derajat tertinggi dan berikanlah kepada dia kemuliaan yang telah Engkau janjikan kepadanya, Engkau tidak pernah melanggar apa yang telah Engkau janjikan."
Pertama
Pelanggaran pertama telah diuraikan dengan panjang lebar di atas, bahwa dari bukti ayat Qurani telah jelas dan tegas bahwa Nabi tidak meminta balasan, upah, pamrih kepada umat manusia.
Kedua
Adalah salah untuk menyeru yang lain selain Allah, siapapun mereka dan betapapun mulianya mereka dalam pandangan kita sebagai manusia:
Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dialah Pelindung (yang sebenarnya) dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati dan Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (42:9)

Ketiga
Orang yang mendoakan Nabi adalah orang yang mungkin tidak pernah membaca Al-Qur'an untuk memahaminya atau pernah membaca maknanya namun TIDAK BETUL-BETUL MENGIMANI ayat-Nya! Karena apa? Karena pada ayat 48:1-2 Allah mengatakan kepada kita bahwa dosa-dosa Nabi yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni-Nya. Tentu saja ayat ini diwahyukan kepada nabi Muhammad waktu beliau masih hidup, dalam masa kenabiannya. Kemuliaan apa lagi yang diharapkan untuk seorang manusia?
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus. (48:1-2)

We have given you a clear conquest. So that God may forgive your present sins, as well as those past, and so that He may complete His blessings upon you, and guide you on a straight path. (48:1-2)

Bukankah ayat 48:1-2 tersebut adalah sebuah kemuliaan dan berkah yang sangat besar bagi nabi, juga tanda yang agung bagi kita bahwa Allah telah memberkahi nabi Muhammad dengan hadiah terbesar untuk hari kemudian, karena dia telah dimaafkan semua dosanya. Jadi apapun doa manusia untuk nabi Muhammad tidak mungkin lagi menaikan posisi nabi Muhammad ke tempat yang lebih tinggi lagi. Kecuali jika terbesit untuk menjadikan nabi Muhammad sebagai Tuhan?
Ampunilah kami ya Allah, janganlah kami termasuk orang yang mempersekutukan-Mu dengan mahluk ciptaan-Mu sendiri, betapapun mulianya manusia tersebut dalam pandangan kami yang sangat picik.
Keempat
Kata-kata "Engkau tidak akan mengingkari apa yang telah Engkau janjikan," bukankah kata-kata seperti ini merendahkan dan menghina Allah? Siapapun yang mengatakan ucapan-ucapan seperti ini hanya bermakna bahwa dia atau mereka yang TIDAK YAKIN BAHWA ALLAH AKAN MEMEGANG JANJINYA, dan menganggap bahwa doa dengan kata-kata seperti ini hanya untuk mengingatkan Allah, walah?weleeeeehhh weleeeeh ?. Bukankah Allah Maha Tahu dan Maha Tidak Pelupa?

Silahkan anda renungkan semua uraian di atas, periksa kebenaran semua ayat-ayat Qurani yang dikutip untuk mendukung pemahaman saya dan juga kaitannya, amalkan 17:36. Dan gunakan akal sehat anda, karena misalkan hanya satu ayat saja yang mendukung pemahaman saya, namun bila kita gunakan akal sehat kita dan memandang bahwa Nabi Muhammad itu adalah manusia pilihan Allah yang terhormat, sangatlah merendahkan beliau kalau menganggap beliau meminta kepada kaum muslim untuk mendoakan, memuja dan memujinya.

Salam.
Bersambung di  Hanya Quran.

« Last Edit: January 12, 2009, 01:49:27 PM by sayang »

Offline Faried

  • Mith'quessir
  • *****
  • Posts: 1173
    • View Profile
Re: Quran&Hadis..
« Reply #13 on: January 14, 2009, 06:48:36 AM »
Pernahkan anda memperhatikan adzan di televisi-televisi, langsung setelah adzan ada doa yang khusus dipanjatkan kepada Allah, memohon kepadaNya agar Allah memenuhi janjiNya, agar menempatkan Nabi Muhammad di sisi-Nya? Kurang lebih ada juga kata-kata seperti ini:

Quote
Ya Allah berikanlah kepada Nabi Muhammad washilah dan fadhillah.

Atau tepatnya ada hadits yang diatributkan kepada nabi Muhammad bahwa dia memerintahkan muslim untuk mendoakanya sebagai berikut:

Quote
"Ya Allah berikanlah kepada Sayidina* Muhammad jalan dan derajat tertinggi dan berikanlah kepada dia kemuliaan yang telah Engkau janjikan kepadanya, Engkau tidak pernah melanggar apa yang telah Engkau janjikan."

Berdoa dijelaskan diuraikan tata caranya dalam Alquran dengan jelas disertai banyak contoh doa.

Dalam Alquran, tidak ada satu pun doa dari orang yang beriman yang dipanjatkan menggunakan kata Ya Allah, semuanya menggunakan kata Ya Tuhan (rabb).

Kecuali, ada satu yang doa yang menggunakan Ya Allah, tetapi doa tersebut dipanjatkan oleh orang yang tidak beriman. Saya lupa di ayat berapa, insya Allah nanti saya cari.



Offline nora

  • Peredhil
  • ***
  • Posts: 346
    • View Profile
Re: Quran&Hadis..
« Reply #14 on: January 14, 2009, 07:14:46 AM »
8:32. Dan apabila mereka berkata, "Ya Allah, jika ini yang benar daripada Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih."
3:26. Katakanlah, "Ya Allah, yang merajai kerajaan, Engkau memberikan kerajaan kepada siapa yang Engkau mengkehendaki, dan melucutkan kerajaan daripada siapa yang Engkau mengkehendaki, dan Engkau memuliakan siapa yang Engkau mengkehendaki, dan Engkau menghinakan siapa yang Engkau mengkehendaki. Di tangan Engkau yang baik; sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.