Author Topic: Puasa Dalam Al Quran  (Read 4856 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Faried

  • Mith'quessir
  • *****
  • Posts: 1173
    • View Profile
Re: Puasa Dalam Al Quran
« Reply #15 on: December 16, 2008, 09:39:04 PM »
Perintah makan dan minum (biasanya kita kenal dengan istilah sahur) dilakukan HINGGA FAJAR, dan kemudian melakukan puasa (menahan makan dan minum) hingga malam hari.

Hampir semua orang yang berpuasa berhenti makan dan minum SEBELUM FAJAR. Hal tersebut jelas melanggar petunjuk yang memerintahkan makan dan minum HINGGA FAJAR ketika berpuasa.

Salam.

tlihawa

  • Guest
Re: Puasa Dalam Al Quran
« Reply #16 on: December 17, 2008, 05:07:50 AM »
Salam,

Hampir semua orang yang berpuasa berhenti makan dan minum SEBELUM FAJAR. Hal tersebut jelas melanggar petunjuk yang memerintahkan makan dan minum HINGGA FAJAR ketika berpuasa.

Hal itu bukan alasan untuk membuat puasa = perintah 'makan dan minum Al Quran'.

Apakah karena hampir semua orang berhenti makan dan minum sebelum Fajar maka Pak Faried menolak puasa diartikan menahan makan dan minum?

Mari kita uji pemahaman Pak Faried dengan cara pandang yang kritis itu.

Dengan memahami Puasa = perintah makan dan minum Al Quran, maka seseorang dalam berpuasa di bulan Ramadhan
1. Makan dan Minum Al Quran hingga Fajar (non stop hingga Fajar)
2. Disempurnakan dengan Makan dan Minum Al Quran lagi hingga Malam.

Dan itu berlangsung selama beberapa hari.

Pak Faried mengasumsikan jika seseorang diperintahkan makan dan minum hingga Fajar, maka seseorang haruslah dalam keadaan mengunyah makanan dan menelan minuman hingga Fajar dan semua itu non stop. Begitu kira2 yang dimaksudkan pak?

Jadi kalau dia mulai makan taruhlah jam 6 sore, maka dia tidak boleh berhenti mengunyah sampai fajar. Kemudian, setelah fajar, Allah menghendaki agar 'puasa' yang diartikan sebagai perintah makan dan minum harus tetap dilakukan sampai malam. ini berarti kegiatan menyuap, mengunyah, dan menelan harus dilakukan 24 jam nonstop selama beberapa hari. bukan begitu maksudnya pak Faried? Apakah ini mungkin?

Sekarang kita lihat bagaimana jika puasa diartikan perintah makan dan minum Al Quran:

Jika kita mulai 'makan-minum' Al Quran taruhlah jam 6 sore, maka dia tidak boleh berhenti makan minum Al Quran sampai fajar. Kemudian, setelah fajar, Allah menghendaki agar 'puasa' yang diartikan sebagai perintah makan dan minum Al Quran harus tetap dilakukan sampai malam. ini berarti kegiatan makan minum Al Quran harus dilakukan 24 jam nonstop selama beberapa hari, tanpa tidur, tanpa makan, tanpa buang air besar, dll apakah begitu maksudnya pak Faried?

Maaf, saya buat contohnya seekstrim mungkin, karena melihat jalan pikiran Pak Faried yang tidak kalah ekstrimnya.

Mohon dikonfirmasi. Kalau pemahaman saya salah, mohon pemahaman saya di atas, di tulis ulang oleh Pak Faried, dengan mengganti apa yang saya salah tulis dengan yang benar menurut Pak Faried. Tetapi tidak merubah konsep tulisan saya di atas.

Salam,
Taufiq





« Last Edit: December 17, 2008, 05:10:13 AM by tlihawa »

Offline Faried

  • Mith'quessir
  • *****
  • Posts: 1173
    • View Profile
Re: Puasa Dalam Al Quran
« Reply #17 on: December 18, 2008, 12:53:05 AM »
Hampir semua orang yang berpuasa berhenti makan dan minum SEBELUM FAJAR. Hal tersebut jelas melanggar petunjuk yang memerintahkan makan dan minum HINGGA FAJAR ketika berpuasa.

Maksud saya, jika puasa yang dilakukan orang dengan tidak makan dan minum nutrisi fisik adalah BENAR, maka tetap saja tidak cocok dengan petunjuk Al Baqarah karena di situ dijelaskan HINGGA FAJAR dan bukan SEBELUM FAJAR.

Saya tidak pernah menulis harus makan dan minum TERUS-MENERUS, tetapi menekankan kata HINGGA, karena demikian PERINTAHNYA dalam Al Baqarah 187. Atau menurut Anda perintah tersebut boleh saja dirubah?

Aturan HINGGA FAJAR dalam 2.187 telah dirubah menjadi HINGGA IMSAK, dan orang yang berpuasa yang makan dan minum HINGGA FAJAR dianggap puasanya batal. Apa Anda tidak menganggap hal tersebut melanggar perintah dalam petunjuk 2.187?

HINGGA adalah kata biasa yang artinya sampai atau berhentinya di situ. Proses tidak masalah, tetapi HINGGA harus terpenuhi, karena hal tersebut adalah syarat terpenuhi tidaknya perintah dalam 2.187.

Tentang FAJAR, tolong dibaca kembali pemahaman saya tentang puasa. Saya tidak memahami FAJAR 2.187 sebagai FAJAR ketika terbitnya surya/matahari karena tentu saja hal tersebut sama sekali tidak nalar karena berarti puasa dilakukan 24 jam, tetapi FAJAR yang saya fahami adalah FAJARnya Alquran, karena makan dan minumnya Alquran, dan dijelaskan bahwa FAJAR Alquran adalah disaksikan.

Salam.
« Last Edit: December 18, 2008, 12:58:05 AM by Faried »

tlihawa

  • Guest
Re: Puasa Dalam Al Quran
« Reply #18 on: December 18, 2008, 04:23:09 AM »

Salam,

Maksud saya, jika puasa yang dilakukan orang dengan tidak makan dan minum nutrisi fisik adalah BENAR, maka tetap saja tidak cocok dengan petunjuk Al Baqarah karena di situ dijelaskan HINGGA FAJAR dan bukan SEBELUM FAJAR.

Sama tidak cocoknya jika puasa yang dilakukan orang dengan makan dan minum nutrisi fisik dianggap benar.

Saya tidak pernah menulis harus makan dan minum TERUS-MENERUS, tetapi menekankan kata HINGGA, karena demikian PERINTAHNYA dalam Al Baqarah 187. Atau menurut Anda perintah tersebut boleh saja dirubah?

Tidak. Dan saya mematuhinya, batas saya makan dan minum untuk nutrisi tubuh adalah sampai Fajar.

Aturan HINGGA FAJAR dalam 2.187 telah dirubah menjadi HINGGA IMSAK, dan orang yang berpuasa yang makan dan minum HINGGA FAJAR dianggap puasanya batal. Apa Anda tidak menganggap hal tersebut melanggar perintah dalam petunjuk 2.187?

Saya juga tidak mematuhi apa yang namanya Imsak versi pemerintah, dimana kegiatan makan dan minum untuk dihentikan pada saat langit masih gelap.
Sekedar informasi buat Pak Faried, anda saat ini tidak berdiskusi dengan pengikut hadist. Pada puasa tahun ini, saya ngemil dan ngopi di teras sampai benar-benar ada cahaya, fajar.

HINGGA adalah kata biasa yang artinya sampai atau berhentinya di situ. Proses tidak masalah, tetapi HINGGA harus terpenuhi, karena hal tersebut adalah syarat terpenuhi tidaknya perintah dalam 2.187.

Untuk poin ini saya setuju. Saya patuh pada perintah kegiatan makan minum untuk nutrisi tubuh dilakukan diujung waktu,menjelang fajar hingga fajar.

Tentang FAJAR, tolong dibaca kembali pemahaman saya tentang puasa. Saya tidak memahami FAJAR 2.187 sebagai FAJAR ketika terbitnya surya/matahari karena tentu saja hal tersebut sama sekali tidak nalar karena berarti puasa dilakukan 24 jam,

Nalar anda sudah sampai, kenapa malah jadi berlebihan?

Kadang kala jika satu printer tidak bisa nge-print, jangan dulu buru-buru menginstall ulang drivernya, sebaiknya di cek dulu apakah printer itu sudah dinyalakan belum? Apakah ada kertas atau tidak? Solusi simpel bukannya ngga bisa diterima.

Jangan sampai Euforia terlepas dari hadist membuat kita berpikir, apa yang kita buat harus 100% berbeda dengan pengikut hadist.


tetapi FAJAR yang saya fahami adalah FAJARnya Alquran, karena makan dan minumnya Alquran, dan dijelaskan bahwa FAJAR Alquran adalah disaksikan.

Apa itu Fajarnya Al Quran?

Dan tolong jelaskan kembali jawaban anda itu sehubungan dengan ayat berikut yang juga menggunakan kata Fajar:

24:58. Wahai orang-orang yang percaya, hendaklah mereka yang tangan-tangan kanan kamu memiliki, dan mereka antara kamu yang belum cukup umur, meminta izin kepada kamu tiga kali - sebelum solat fajar, dan apabila kamu menanggalkan pakaian kamu pada waktu zuhur (tengah hari), dan selepas solat isyak - tiga kali aurat (penelanjangan) bagi kamu. Tidak ada kesalahan ke atas kamu atau ke atas mereka, selain daripada ini, untuk kamu ke sana dan ke mari, sebahagian kamu kepada sebahagian yang lain. Begitulah Allah memperjelaskan kepada kamu ayat-ayat; dan Allah Mengetahui, Bijaksana.

Masalahnya, 3 izin dalam ayat di atas berbicara tentang zona waktu.

Kembali saya mengingatkan, jika tidak bisa mendapatkan titik temu, ada baiknya kita kembali pada kalimat yang satu, dan percaya bahwa semuanya datang dari Allah. Ingat saja pak, kita cuman mau menentukan yang terbaik buat diri kita sendiri, bukan menentukan yang terbaik bagi orang lain.
Orang lain cukup kita suguhi data. Sepanjang kita semua bersumber dari kitab Allah.

Pengalaman saya di e-bacaan.com, hanya perlu satu kali reply email dari beliau untuk membuat saya pindah ke pemahamannya. tidak repot-repot.

Salam,
Taufiq



Offline Faried

  • Mith'quessir
  • *****
  • Posts: 1173
    • View Profile
Re: Puasa Dalam Al Quran
« Reply #19 on: December 18, 2008, 10:26:09 PM »
Tentang FAJAR, tolong dibaca kembali pemahaman saya tentang puasa. Saya tidak memahami FAJAR 2.187 sebagai FAJAR ketika terbitnya surya/matahari karena tentu saja hal tersebut sama sekali tidak nalar karena berarti puasa dilakukan 24 jam,

Nalar anda sudah sampai, kenapa malah jadi berlebihan?


Atmosfir diskusi kita terasa tegang dan kurang nyaman, membuat perasaan menjadi sensitif dan mudah tersinggung.

Kata tidak nalar saya tujukan kepada diri sendiri dan tidak dimaksudkan untuk memaki Anda, tetapi jika dipahami demikian, saya mohon maaf.

Quote
tetapi FAJAR yang saya fahami adalah FAJARnya Alquran, karena makan dan minumnya Alquran, dan dijelaskan bahwa FAJAR Alquran adalah disaksikan.

Apa itu Fajarnya Al Quran?

Dan tolong jelaskan kembali jawaban anda itu sehubungan dengan ayat berikut yang juga menggunakan kata Fajar:

24:58. Wahai orang-orang yang percaya, hendaklah mereka yang tangan-tangan kanan kamu memiliki, dan mereka antara kamu yang belum cukup umur, meminta izin kepada kamu tiga kali - sebelum solat fajar, dan apabila kamu menanggalkan pakaian kamu pada waktu zuhur (tengah hari), dan selepas solat isyak - tiga kali aurat (penelanjangan) bagi kamu. Tidak ada kesalahan ke atas kamu atau ke atas mereka, selain daripada ini, untuk kamu ke sana dan ke mari, sebahagian kamu kepada sebahagian yang lain. Begitulah Allah memperjelaskan kepada kamu ayat-ayat; dan Allah Mengetahui, Bijaksana.

FAJAR yang saya maksudkan adalah yang ada dalam ayat 17.78.


Quote
Masalahnya, 3 izin dalam ayat di atas berbicara tentang zona waktu.

Untuk 24.58 FAJAR benar berkaitan dengan surya.

Saya pikir, jika FAJAR yang dimaksud dalam 2.187 ada FAJAR dalam kaitan dengan waktu, maka:

Quote
... hattamatla'ilifjar/hingga terbit FAJAR (97.5).

adalah yang paling tepat.

Hasil penelusuran saya tentang FAJAR yang kata dasarnya fjr ternyata FAJAR tidak harus memiliki hubungan dengan matahari, dan artinya adalah pancar.

Dalam Alquran, kata-kata yang memiliki kata dasar fjr adalah fajar (2.183, 17.78, 24.58, 89.1, 97.5), fajaratu (88.42), faajiran (71.27), fajjarna (18.33), fajjaru (36.34, 54.12).

Dalam ayat 17.78, kata FAJAR dihubungkan langsung dengan Alquran, Qur'anal fajar, dan disebut dua kali. Jelas dalam ayat 17.78 tersebut bahwa Quran memiliki FAJAR, dan jika dihubungkan dengan petunjuk shoum dalam 2.187, maka makan dan minum Alquran secara mandiri hendaknya dilakukan hingga didapatkan FAJAR (pancaran), atau hingga diperoleh pencerahan (enlightment).

Salam.
« Last Edit: December 19, 2008, 08:27:05 PM by Faried »

Offline cruiser

  • Elandili
  • ****
  • Posts: 708
    • View Profile
Re: Puasa Dalam Al Quran
« Reply #20 on: April 23, 2009, 08:41:15 PM »
Quote from: tlihawa
2:184. Pada HARI-HARI YANG TERHITUNG; dan jika sesiapa antara kamu sakit, atau jika dia dalam perjalanan, maka sebilangan daripada hari-hari yang lain; dan bagi orang-orang yang tidak boleh, ditebus dengan memberi makan seorang miskin, tetapi lebih baik baginya, yang membuat kebaikan dengan sukarela, bahawa kamu berpuasa adalah lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui.

Saya tertarik dengan bunyi terjemahan diatas, saya juga mempunyai terjemahan sendiri (jika ada yang salah mohon koreksinya) utk dapat diperbandingkan bunyinya sbb :

Hari yang terhitung, maka barangsiapa ada di antara kamu yang sakit atau dalam perjalanan, maka hitungannya dari hari yang ditinggalkan. Dan atas yang mampu melaksanakannya, menebus memberi makan orang miskin. Barangsiapa mematuhi kebaikan, maka dia baik baginya. Dan berpuasa baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS 2:184)

Perbedaannya tampak jelas pada penggalan kalimat yg di-bold. Terjemahan yg pertama ditekankan ketidak mampuan fisik untuk berpuasa , selanjutnya orang tsb. mendapat izin utk meninggalkan puasa setelah nyata2 tidak mampu lagi dengan membayar fidyah, sementara terjemahan saya mendapat tekanan pada kemampuan finansiial artinya dalam keadaan apapun puasa dapat ditebus dengan memberi makan orang miskin (infaq/sedekah).

Bunyi : wa'alal ladzina yutiqunahu fidyatun tho'amu miskini ---- sama sekali tidak ada menunjukkan kata "tidak", mohon diperiksa kembali.

Hal lain dengan terjemahan anda mengesankan bahwa sepertinya posisi puasa lebih utama dari pada  infaq/sedekah (memberi makan orang miskin) artinya puasanya harus dilaksanakan lebih dahulu, baru ketika kita tidak mampu lagi berpuasa, kita wajib membayar fidyah. Dalam keadaan spt. ini fidyah lebih dekat kepada denda (kaffarat) dari pada penebusan.

Padahal seharusnya fidyah merupakan opsi yang mempunyai nilai yg seimbang, artinya kita bisa memilih berpuasa atau menebus dengan memberi makan orang miskiin.

Saya sendiri lebih memilih opsi menebus dengan memberi makan orang miskin (infaq/sedekah). SALAHKAH ?


Salaam,