Author Topic: Puasa Dalam Al Quran  (Read 4728 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

tlihawa

  • Guest
Puasa Dalam Al Quran
« on: December 07, 2008, 09:58:25 AM »
Salam,
Saya ingin menjabarkan apa yang saya dapatkan dari Al Quran mengenai ibadah Puasa dan Haji, Terjemahan yang saya kutip di email ini lebih banyak menggunakan e-bacaan.com karena alasan konsisten dalam penggunaan kata-kata.

Saya mendapati bahwa Al Baqarah ayat 183 hingga 203 adalah satu rangkaian yang menentukan pengertian akan ibadah puasa dan haji. Dimulai dengan ayat-ayat berikut:

PUASA
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
2:183. Wahai orang-orang yang percaya, dituliskan bagi kamu berpuasa sebagaimana dituliskan bagi orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu bertakwa.
Puasa diwajibkan bagi orang-orang yang percaya (beriman), dan perintah ini bukanlah perintah baru, karena sudah diwajibkan pula untuk umat-umat terdahulu
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
2:184. Pada HARI-HARI YANG TERHITUNG; dan jika sesiapa antara kamu sakit, atau jika dia dalam perjalanan, maka sebilangan daripada hari-hari yang lain; dan bagi orang-orang yang tidak boleh, ditebus dengan memberi makan seorang miskin, tetapi lebih baik baginya, yang membuat kebaikan dengan sukarela, bahawa kamu berpuasa adalah lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui.
2:185. Bulan Ramadan yang padanya al-Qur'an diturunkan untuk menjadi satu petunjuk bagi manusia, dan sebagai bukti-bukti yang jelas daripada Petunjuk itu, dan Pembeza. Maka hendaklah orang-orang antara kamu yang menyaksikan (hadir) pada bulan itu, berpuasa; dan sesiapa yang sakit, atau dalam perjalanan, maka sebilangan daripada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kamu, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kamu; dan agar kamu mencukupkan bilangan, dan mengagungkan Allah, bahawa Dia telah memberi petunjuk kepada kamu supaya kamu berterima kasih.

Puasa dilakukan pada HARI-HARI YANG TERHITUNG, bagi orang yang masih menyaksikan datangnya bulan Ramadhan. Perkecualian bagi orang yang sakit dan dalam perjalanan, yakni menggantinya dengan berpuasa pada hari-hari yang lain. Untuk yang benar-benar tidak mampu berpuasa, diganti dengan memberi makan seorang miskin. Tapi Allah memberi penekanan, bahwa berpuasa adalah yang terbaik.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
2:187. Dihalalkan bagi kamu, pada malam puasa, bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagi kamu, dan kamu, pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahawa kamu mengkhianati diri-diri kamu sendiri, dan menerima taubat kamu, dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka, dan carilah apa yang Allah menuliskan (menetapkan) untuk kamu. Dan makan dan minumlah, sehingga benang putih menjadi jelas bagi kamu daripada benang hitam, pada fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam, dan janganlah mencampuri mereka sedang kamu bertekun (iktikaf) di masjid. Itulah had-had (hudud) Allah; janganlah keluar daripadanya. Begitulah Allah memperjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka bertakwa.
Pada malam puasa, dihalalkan bercampur dengan istri-istri. Aturan berpuasa ialah menahan makan dan minum dari Fajar (saat kegelapan mulai sirna karena ada cahaya alam yang cukup untuk membedakan benang hitam dan benang putih) dan disempurnakan hingga malam. Dan larangan mencampuri istri jika sedang bertekun (I'tikaf) di mesjid.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
2:189. Mereka menanyai kamu mengenai bulan-bulan baru. Katakanlah, "Mereka adalah waktu-waktu yang ditetapkan bagi manusia, dan Haji." Ia bukanlah ketaatan untuk datang ke rumah-rumah dari belakangnya, tetapi ketaatan adalah untuk menjadi bertakwa; maka datangilah rumah-rumah pada pintu-pintunya, dan takutilah Allah agar kamu beruntung.
Bulan baru (bulan sabit, menurut terjemahan Departemen Agama RI) adalah penanda waktu yang ditetapkan untuk manusia, dalam konteks rangkaian ayat, untuk memulai puasa dan untuk berhaji.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sampai disini beberapa hal telah menjadi jelas, tetapi masih ada beberapa Ketetapan Allah yang masih harus dicari, menurut kutipan ayat berikut,

2:187 .................dan carilah apa yang Allah menuliskan (menetapkan) untuk kamu..........

Saya masih harus mencari berapakah jumlah HARI-HARI YANG TERHITUNG yang ditetapkan Allah untuk berpuasa, agar kita bisa mencukupkan bilangannya.

2: 185 .........dan agar kamu mencukupkan bilangan ............

Saya mendapati bahwa jumlah hari yang ditentukan (HARI-HARI YANG TERHITUNG), bisa didapatkan dengan melihat perintah puasa bagi orang-orang yang sedang 'dalam perjalanan'. Dimana mereka mendapat perkecualian dalam ayat 2:184-185, untuk BOLEH TIDAK MELAKUKAN puasa pada saat bulan sabit telah muncul pada permulaan Bulan Ramadhan, (tetapi tetap menggantinya di hari-hari yang lain).

Setelah melakukan search dengan keyword ?perjalanan? di Al Quran Digital, saya menyimpulkan bahwa frasa 'orang yang sedang dalam perjalanan' adalah juga merujuk ke orang yang sedang dalam perjalanan menuju Baitullah (mengerjakan haji). Mereka termasuk orang-orang yang berhak menerima Sadaqah (atau zakat, seperti pengertian umat Islam kebanyakan) karena mereka membutuhkan biaya yang besar.

Berdasarkan ayat-ayat berikut,
5:2. Wahai orang-orang yang percaya, janganlah melanggar tanda-tanda Allah, DAN BULAN-BULAN HARAM, dan pemberiannya, dan rantai leher, dan juga orang-orang yang mengunjungi Rumah Suci, yang bermaksud untuk mencari daripada Pemelihara mereka, pemberian dan kepuasan hati. Tetapi, apabila kamu telah menyelesaikan, maka burulah binatang buruan. Janganlah kerana kebencian pada suatu kaum yang menghalangi kamu daripada Masjidil Haram, mendesak kamu untuk mencabuli. Tolong-menolonglah kamu dalam ketaatan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa, dan permusuhan. Dan takutilah Allah; sesungguhnya Allah keras dalam pembalasan sewajarnya.
9:36. Bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan dalam Kitab Allah pada hari Dia mencipta langit dan bumi. EMPAT daripadanya HARAM (suci). Itulah agama yang betul, maka janganlah menzalimkan satu sama lain padanya. Dan perangilah orang-orang yang menyekutukan kesemuanya sebagaimana mereka memerangi kamu kesemuanya; dan ketahuilah bahawa Allah berserta orang-orang yang bertakwa.
Durasi haji sama dengan durasi bulan haram, yakni 4 bulan berturutan:
9:1. Satu kebebasan daripada Allah dan rasul-Nya kepada orang-orang yang menyekutukan yang dengan mereka kamu telah membuat perjanjian. 2. "Berpergianlah di bumi SELAMA EMPAT BULAN, dan ketahuilah bahawa kamu tidak dapat mengandaskan Allah, dan sesungguhnya Allah mengaibkan orang-orang yang tidak percaya."

Dikarenakan terdapat pengecualian untuk tidak melakukan puasa bagi orang-orang yang sedang melakukan perjalanan ke Baitullah (berhaji) di dalam bulan Ramadhan, maka saya menyimpulkan bahwa Bulan Ramadhan adalah salah satu dari 4 bulan Haram.

Akhirnya, saya menghubungkan ayat berikut, dengan HARI-HARI YANG TERHITUNG:

2:196. ..............Apabila kamu berasa aman, sesiapa yang menikmati umrah sehingga Haji, maka hendaklah pemberiannya daripada yang mudah didapati, atau jika dia tidak mendapati sesuatu, maka berpuasalah TIGA hari dalam Haji, dan TUJUH apabila kamu kembali. Itulah SEPULUH, genap;

Terlihat dari ayat di atas, Allah menetapkan jumlah 10 hari untuk berpuasa. Tafsir Al Quran Dept. Agama RI menyebutnya sebagai '10 yang sempurna'.
Sehingga, untuk kaum mukmin yang tidak mengerjakan puasa Ramadhan karena alasan sakit, dapat mengganti puasanya pada hari-hari yang lain, dalam bulan yang sama (bulan Ramadhan). Khusus untuk orang yang dalam perjalanan, mereka menggantinya dengan ketentuan 3 hari dalam pengerjaan haji, dan 7 hari sisanya pada saat kembali.

Sering terdapat perbedaan dalam menentukan awal puasa Ramadhan dengan melihat hilal (bulan sabit). Allah sudah mengantisipasi hal tersebut, dengan menurunkan ayat berikut:

2:203. Dan ingatlah akan Allah selama HARI-HARI TERTENTU YANG TERHITUNG. Jika sesiapa bercepat-cepat dalam dua hari, itu tidaklah berdosa baginya; dan jika sesiapa melambatkannya, ia bukanlah satu dosa padanya, jika dia bertakwa. Dan kamu takutilah Allah, dan ketahuilah bahawa kepada-Nya kamu akan dikumpulkan.

Dari ayat di atas, perbedaan untuk menetapkan jatuhnya awal puasa Ramadhan tidak menjadi masalah, dengan batasan percepatan 2 hari. Yang mempercepat, tidak ada dosa, yang memperlambat pun tidak ada dosa, asalkan bertakwa. Allah tidak hendak menyusahkan kita, asalkan kita mencukupkan bilangannya, 10 hari yang genap/sempurna. Dan diingatkan juga, dalam mengerjakan puasa, hendaknya kita selalu mengingat Allah.

2:185 .......Allah menghendaki kemudahan bagi kamu, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kamu; dan agar kamu mencukupkan bilangan, dan mengagungkan Allah, bahawa Dia telah memberi petunjuk kepada kamu supaya kamu berterima kasih.

Jadi dari rangkaian ayat di atas, saya semakin yakin akan firman Allah berikut:
2:185. Bulan Ramadan yang padanya al-Qur'an diturunkan untuk menjadi satu petunjuk bagi manusia, dan sebagai bukti-bukti yang jelas daripada Petunjuk itu.....

Al Quran berisi petunjuk, dan memberikan penjelasan/bukti-bukti yang jelas atas petunjuk itu.
Sampai disini, untuk ibadah puasa menjadi  jelas bagi saya. Tapi saya masih tetap mempelajari pendapat-pendapat yang ada di forum ini demi mendapatkan kebenaran.

Salam,
Taufiq

Offline Faried

  • Mith'quessir
  • *****
  • Posts: 1173
    • View Profile
Re: Puasa Dalam Al Quran
« Reply #1 on: December 11, 2008, 08:31:01 AM »
Saya mendapati bahwa Al Baqarah ayat 183 hingga 203 adalah satu rangkaian yang menentukan pengertian akan ibadah puasa dan haji. Dimulai dengan ayat-ayat berikut:

Quote
2:183. Wahai orang-orang yang percaya, dituliskan bagi kamu berpuasa sebagaimana dituliskan bagi orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu bertakwa.

Quote
2:187. Dihalalkan bagi kamu, pada malam puasa, bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagi kamu, dan kamu, pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahawa kamu mengkhianati diri-diri kamu sendiri, dan menerima taubat kamu, dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka, dan carilah apa yang Allah menuliskan (menetapkan) untuk kamu. Dan makan dan minumlah, sehingga benang putih menjadi jelas bagi kamu daripada benang hitam, pada fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam, dan janganlah mencampuri mereka sedang kamu bertekun (iktikaf) di masjid. Itulah had-had (hudud) Allah; janganlah keluar daripadanya. Begitulah Allah memperjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka bertakwa.

Pada malam puasa, dihalalkan bercampur dengan istri-istri.


Orang beriman dalam 2:183 mencakup:
Suami, istri, duda, janda, perjaka, dan perawan.

Nisaa' dalam 2:187 merupakan kata yang problematik dan dilematis.

Jika nisaa' diartikan sebagaimana mestinya, yaitu perempuan, maka penghalalan atas orang percaya yang berpuasa (suami, istri, duda, janda, perjaka, dan perawan) bercampur dengan perempuan (nisaa'), akan menghalalkan:

suami x perempuan, istri x perempuan, duda x perempuan, janda x perempuan, perjaka x perempuan, dan perawan x perempuan.

Tentu saja kacau bukan? Berarti ayat 2:187 tersebut menghalalkan free sex.

Jika nisaa' diartikan sebagai istri, maka hal tersebut menunjukkan bahwa orang beriman yang dituliskan berpuasa hanyalah para suami, karena kata ganti kamu dalam ayat 2:187 menunjuk kepada para suami sebagai orang-orang percaya yang diseru berpuasa (2:183).

Quote
Aturan berpuasa ialah menahan makan dan minum dari Fajar (saat kegelapan mulai sirna karena ada cahaya alam yang cukup untuk membedakan benang hitam dan benang putih) dan disempurnakan hingga malam.


Sama sekali tidak ada kata menahan dalam perintah puasa, baik dalam surah Al Baqarah, ataupun dalam surah Maryam yang menjelaskan tentang cara berpuasa orang-orang dahulu kala. Menahan adalah interpretasi, yang tentu saja syah-syah saja dilakukan, tetapi semestinya tidak dinisbatkan sebagai petunjuk Tuhan.

Sangat jelas petunjuk puasa adalah perintah makan dan minumlah, baik itu dalam surah Al Baqarah maupun dalam surah Maryam.

Karena itu, mengacu kepada 2:187 puasa seyogianya dijelaskan sebagai penghalalan rafats dengan nisaa' di malam hari dan diperintahkan makan dan minum di malam hari hingga fajar.

Jika hal tersebut yang dikemukakan akan membuat orang bertanya dan berfikir.

Salam.

« Last Edit: December 11, 2008, 08:41:10 AM by Faried »

tlihawa

  • Guest
Re: Puasa Dalam Al Quran
« Reply #2 on: December 12, 2008, 08:48:35 AM »
Jika nisaa' diartikan sebagai istri, maka hal tersebut menunjukkan bahwa orang beriman yang dituliskan berpuasa hanyalah para suami, karena kata ganti kamu dalam ayat 2:187 menunjuk kepada para suami sebagai orang-orang percaya yang diseru berpuasa (2:183).


Saya memahaminya sederhana saja pak. Nisa saya artikan sebagai istri. Tapi tidak berarti istri tidak diwajibkan berpuasa, karena kata rafats juga digunakan dalam 2:197 yang mana 2:197 juga menyeru kepada bukan cuman umat mukmin, tapi manusia!

Bulan Ramadhan adalah salah satu dari empat bulan haram. Oleh karenanya, erat kaitannya dengan hukum haji.
Perhatikan  kata rafats yang digunakan dalam 2:197. Itu kata yang sama dengan yang digunakan di 2:187.
Perbedaannya, 2:187 menghalalkan rafats pada malam puasa, sedangkan 2:197 melarang rafats pada saat berniat melakukan haji. Sekarang mari kita lihat hubungannya:

2:197. Haji adalah pada bulan-bulan yang diketahui; sesiapa yang menetapkan untuk Haji padanya, tidak boleh bercampur dengan isterinya

Saya memahami bahwa Bulan Ramadhan adalah rangkaian dari 4 bulan haram dimana dilakukan haji atasnya.
Jadi jika seorang mukmin menetapkan akan melakukan haji pada bulan Ramadhan, baik sedang atau akan melakukan perjalanan, maka berlaku hukum Rafats di ayat 2:197, yakni tidak boleh bercampur dengan istrinya.
Tapi apa bila dalam 10 hari masa puasa, orang yang berniat melakukan haji dalam Bulan Ramadhan belum juga melakukan perjalanan, maka dia wajib berpuasa. Karena dia, belum termasuk sebagai orang yang melakukan perjalanan dalam 2:185, meskipun telah menetapkan akan mengerjakan haji.

Oleh karena mereka (calon haji) berpuasa, ada pengecualian bagi mereka yang terkena hukum dalam 2:197, yakni dari yang tidak boleh rafats, menjadi boleh rafats, tapi terbatas hanya dalam waktu berpuasa. Katakanlah dia telah melewati 10 malam puasa dalam Bulan ramadhan, maka pada malam ke-11 hukum rafats berlaku lagi baginya.

Sama sekali tidak ada kata menahan dalam perintah puasa, baik dalam surah Al Baqarah, ataupun dalam surah Maryam yang menjelaskan tentang cara berpuasa orang-orang dahulu kala. Menahan adalah interpretasi, yang tentu saja syah-syah saja dilakukan, tetapi semestinya tidak dinisbatkan sebagai petunjuk Tuhan.


Benar tidak ada perintah menahan dalam Al Baqarah, karena puasa itu sendiri artinya menahan dari makan dan minum, jadi kalo ada kata menahan lagi akan terjadi redundancy, malah bisa jadi looping.  Jadi dalam 2:187, Allah menyatakan makan minumlah kamu hingga fajar, setelah itu berpuasalah hingga malam. Saya tulis ulang, Allah menyatakan makan minumlah kamu hingga fajar, setelah itu jangan makan dan minum hingga malam.

Kalau kurang yakin ada baiknya kita cek perintah puasa pada umat sebelum kita.

Dimulai dari surah maryam:
19:26. Maka makan dan minumlah, dan bergembiralah (berdingin mata); dan jika kamu melihat seseorang manusia, katakanlah, 'Aku telah bernazar kepada Yang Pemurah untuk berpuasa, dan pada hari ini, aku tidak akan berkata-kata kepada seseorang manusia pun.'"

Ayat di atas, kata makan dan minumlah bukan berarti ritual puasa yang dilakukan Maryam. Tapi adalah anjuran Allah pada Maryam yang tidak ada hubungannya dengan nazar puasa yang akan beliau lakukan jika bertemu dengan manusia.

Berpuasa dan tidak berkata-kata pada seseorang pun baru akan dilakukan jika beliau melihat seorang manusia, dalam pada itu, makan-minum-bergembira jalan terus. Silahkan perhatikan lanjutan ayat tersebut, yang menjelaskan bahwa ritual tidak berkata-kata, baru dilakukan setelah beliau bertemu kaumnya, tentunya demikian juga puasa yang dinazarkannya.

Sekarang kita cek kata puasa di dalam Al Kitab, karena kita ingin tahu, bagaimana sih, puasa orang sebelum Nabi Muhammad?

Ester 4:16
Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.

Mereka juga berpuasa dengan tidak makan dan tidak minum, tetapi durasinya berbeda dengan yang diperintahkan pada umat mukmin, yakni meliputi siang dan malam, sedangkan mukmin, cukup siang hari saja. Ini adalah puasa khusus.

Zakharia 8:19
Beginilah firman TUHAN semesta alam: Waktu puasa dalam bulan yang keempat, dalam bulan yang kelima, dalam bulan yang ketujuh dan dalam bulan yang kesepuluh akan menjadi kegirangan dan sukacita dan menjadi waktu-waktu perayaan yang menggembirakan bagi kaum Yehuda. Maka cintailah kebenaran dan damai!

jika umat mukmin diperintahkan hanya pada bulan Ramadhan, umat Yahudi pada bulan ke-4, ke-5, ke-7 dan ke-10.

Sangat jelas petunjuk puasa adalah perintah makan dan minumlah, baik itu dalam surah Al Baqarah maupun dalam surah Maryam.

Matius 4;2 Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.

Kenapa Maryam, ibundanya Yesus, tidak mengajarkan pada Yesus bahwa berpuasa itu adalah makan dan minum? Sehingga Yesus tidak perlu kelaparan?

Lukas 5:33
Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum."
Lukas 5:34
Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka?

Kelihatannya, Yesus tidak menyuruh muridnya berpuasa, karena beliau seorang mempelai. Pada saat terlihat oleh orang Farisi, bahwa murid Yesus makan dan minum, Yesus mengkonfirmasi bahwa muridnya itu tidak sedang berpuasa.

Jadi sangat jelas bagi saya, bahwa puasa itu adalah lawan dari makan dan minum. terlihat bahwa dalam Al Baqarah 2:187, makan/minum ditempatkan dalam durasi yang berbeda dengan puasa.
 
Karena itu, mengacu kepada 2:187 puasa seyogianya dijelaskan sebagai penghalalan rafats dengan nisaa' di malam hari dan diperintahkan makan dan minum di malam hari hingga fajar.
Setuju pak!

Satu tambahan dari saya, bahwa kita, seperti umat-umat lain juga disuruh berpuasa, hanya saja tata caranya berbeda. terutama di waktu pelaksanaan dan durasinya.

Salam,
Taufiq
« Last Edit: December 12, 2008, 08:51:56 AM by tlihawa »

Offline Faried

  • Mith'quessir
  • *****
  • Posts: 1173
    • View Profile
Re: Puasa Dalam Al Quran
« Reply #3 on: December 12, 2008, 02:22:17 PM »
Saya memahaminya sederhana saja pak. Nisa saya artikan sebagai istri. Tapi tidak berarti istri tidak diwajibkan berpuasa, karena kata rafats juga digunakan dalam 2:197 yang mana 2:197 juga menyeru kepada bukan cuman umat mukmin, tapi manusia!

Jika kata KAMU dalam 2:187 adalah kata ganti untuk SUAMI sekaligus sebagai kata ganti ORANG BERIMAN, maka otomatis SELAIN SUAMI tidak dituliskan untuk berpuasa. Itu pengertian yang logis.

Tentang rafats dalam 2:187 dan 2:197 alur ceritanya berbeda. Istri dalam Alquran menggunakan kata imraat, misalnya dalam 111:4.

Quote
Bulan Ramadhan adalah salah satu dari empat bulan haram. Oleh karenanya, erat kaitannya dengan hukum haji.
Perhatikan  kata rafats yang digunakan dalam 2:197. Itu kata yang sama dengan yang digunakan di 2:187.
Perbedaannya, 2:187 menghalalkan rafats pada malam puasa, sedangkan 2:197 melarang rafats pada saat berniat melakukan haji. Sekarang mari kita lihat hubungannya:

2:197. Haji adalah pada bulan-bulan yang diketahui; sesiapa yang menetapkan untuk Haji padanya, tidak boleh bercampur dengan ISTRINYA

Kata ISTRI dalam 2:197 tidak ada; NISAA' ataupun IMRAAT.

Rafats saya pahami bukan hubungan sex, tapi penjelasannya nanti saja. Agak OOT dan mohon maaf, sepertinya puasa dan haji banyak dipahami dalam kaitan perut dan bawah perut, yang seharusnya dipahami lebih tinggi dari itu yaitu dalam kaitan dengan hati dan kepala. Perut dan bawah perut dipertuhan oleh orang Arab dan Alquran menjelaskan bahwa orang Arab sangat dalam kekafirannya.

Quote
Jadi dalam 2:187, Allah menyatakan makan minumlah kamu hingga fajar, setelah itu berpuasalah hingga malam. Saya tulis ulang, Allah menyatakan makan minumlah kamu HINGGA FAJAR, setelah itu jangan makan dan minum hingga malam.

Faktanya, interpretasi yaitu LARANGAN MAKAN DAN MINUM SEBELUM FAJAR lebih diutamakan daripada PERINTAH MAKAN DAN MINUM HINGGA FAJAR. Mari kita jujur bro. Orang yang berpuasa tidak ada yang MAKAN DAN MINUM HINGGA FAJAR sebagaimana yang diperintahkan dalam 2:187. Selalu saja orang berhenti makan dan minum sebelum fajar, dan mengabaikan perintah agar makan dan minum HINGGA FAJAR.

Quote
Quote
19:26. Maka makan dan minumlah, dan bergembiralah (berdingin mata); dan jika kamu melihat seseorang manusia, katakanlah, 'Aku telah bernazar kepada Yang Pemurah untuk berpuasa, dan pada hari ini, aku tidak akan berkata-kata kepada seseorang manusia pun.'"

Ayat di atas, kata makan dan minumlah bukan berarti ritual puasa yang dilakukan Maryam. Tapi adalah anjuran Allah pada Maryam yang tidak ada hubungannya dengan nazar puasa yang akan beliau lakukan jika bertemu dengan manusia.

Berpuasa dan tidak berkata-kata pada seseorang pun baru akan dilakukan jika beliau melihat seorang manusia, dalam pada itu, makan-minum-bergembira jalan terus. Silahkan perhatikan lanjutan ayat tersebut, yang menjelaskan bahwa RITUAL TIDAK BERKATA-KATA, BARU DILAKUKAN SETELAH BELIAU BERTEMU KAUMNYA, tentunya demikian juga puasa yang dinazarkannya.

Sepertinya keliru. MARYAM MALAH DIPERINTAH BERKATA-KATA ketika bertemu dengan seseorang.

Quote
... Jika kamu melihat seseorang manusia, maka KATAKANLAH: ... (19:26)

Quote
Quote
Ester 4:16
Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; JANGANLAH MAKAN DAN JANGANLAH MINUM tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.

Quote
Matius 4:2
Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya LAPARLAH Yesus.

Sangat jelas LARANGAN makan dan minum ketika sedang berpuasa terdapat dalam Alkitab, tetapi dalam Alquran ketika berpuasa justru DIPERINTAHKAN makan dan minum. Umat Islam berpuasa dengan mengikuti petunjuk Alkitab, sementara seorang teman saya yang beragama Kristen Protestan berpuasa dengan MENYANTAP FIRMAN TUHAN, yang sepertinya sesuai dengan perintah Alquran.

Setelah menerima dan membaca banyak argumen yang didasarkan Alkitab, saya memiliki kesan kuat bahwa petunjuk yang dilaksanakan oleh umat beragama Islam dan Kristen telah tertukar. Umat beragama Islam mengamalkan Alkitab dan umat beragama Kristen mengamalkan Alquran.

Maaf jika ada kelepasan kata; sungguh saya sudah berusaha sedapatnya menyampaikan sesantun mungkin.

Damai.

tlihawa

  • Guest
Re: Puasa Dalam Al Quran
« Reply #4 on: December 12, 2008, 11:10:13 PM »
tetapi dalam Alquran ketika berpuasa justru DIPERINTAHKAN makan dan minum.

Salam,
inti dari masalah ini hanya pengertian puasa sebagai makan dan minum, atau puasa sebagai menahan makan dan minum.
Semua pendapat yang berasal dari kitab Allah, sangat saya hargai. Saya pribadi tidak fanatik akan satu pendapat, jika ternyata pendapat yang saya dengar lebih baik dari apa yang sedang saya pahami. Tapi ada beberapa hal dalam terjemahan berikut yang mengacu kepada pemahaman Pak Faried yang belum bisa saya terima:

33:35. Lelaki yang muslim dan perempuan yang muslim, dan lelaki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, dan lelaki yang patuh dan perempuan yang patuh, dan lelaki yang benar dan perempuan yang benar, dan lelaki yang sabar dan perempuan yang sabar, dan lelaki yang merendah hati dan perempuan yang merendah hati, dan lelaki yang bersedekah dan perempuan yang bersedekah, dan lelaki yang yang makan dan minum dan perempuan yang makan dan minum, dan lelaki yang menjaga kemaluan mereka dan perempuan yang menjaga, dan lelaki yang mengingat Allah dengan banyak dan perempuan yang mengingat - bagi mereka, Allah menyediakan keampunan dan upah yang besar.

2:183. Wahai orang-orang yang percaya, dituliskan bagi kamu  makan dan minum  sebagaimana dituliskan bagi orang-orang yang  sebelum kamu, supaya kamu bertakwa.

2:185. Bulan Ramadan yang padanya al-Qur'an diturunkan untuk menjadi satu petunjuk bagi manusia, dan sebagai bukti-bukti yang jelas daripada Petunjuk itu, dan Pembeza. Maka hendaklah orang-orang antara kamu yang menyaksikan (hadir) pada bulan itu, makan dan minum; dan sesiapa yang sakit (sehingga tidak mampu makan dan minum), atau dalam perjalanan (sehingga tidak mampu makan dan minum), maka sebilangan daripada hari-hari yang lain (maka hendaknya makan dan minum di hari-hari yang lain). Allah menghendaki kemudahan bagi kamu, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kamu; dan agar kamu mencukupkan bilangan (setelah bilangannya cukup, berhentilah makan dan minum), dan mengagungkan Allah, bahawa Dia telah memberi petunjuk kepada kamu supaya kamu berterima kasih.

2:196. Sempurnakanlah Haji dan umrah kerana Allah; tetapi jika kamu dihalangi,  maka pemberian yang mudah didapati, dan jangan mencukur  kepala kamu sehingga pemberian itu sampai di tempat korban. Jika sesiapa antara kamu sakit, atau ada gangguan di kepalanya, ditebus dengan berpuasa, atau bersedekah, atau berkorban. Apabila kamu berasa aman, sesiapa yang menikmati umrah sehingga Haji, maka hendaklah pemberiannya daripada yang mudah didapati, atau jika dia tidak mendapati sesuatu, maka makan dan minumlah tiga hari dalam Haji, dan  tujuh apabila kamu kembali. Itulah sepuluh, genap; demikian itu adalah bagi orang yang keluarganya tidak hadir di Masjidil Haram. Dan takutilah Allah, dan ketahuilah bahawa Allah keras dalam pembalasan sewajarnya.

5:95. Wahai orang-orang yang percaya, janganlah membunuh binatang buruan sedang kamu dalam haram (ihram); sesiapa antara kamu yang membunuhnya dengan sengaja, akan ada balasannya dengan yang serupa apa yang dia telah bunuh, daripada binatang ternak, yang dihakimkan dua orang yang adil antara kamu, sebagai pemberian yang dibawa ke Kaabah; atau penebusan - memberi makan orang-orang miskin (menyuruh puasa orang-orang miskin?), atau yang sama dengan itu dalam makan dan minum, supaya dia merasai keburukan daripada pekerjaannya. Allah memaafkan apa yang telah lalu, tetapi sesiapa mengulanginya, Allah akan melepaskan dendam kepadanya; Allah Perkasa, Pendendam.

58:4. Tetapi sesiapa yang tidak mendapatkannya, maka hendaklah dia makan dan minum dua bulan berturut-turut sebelum keduanya menyentuh satu sama lain. Dan jika sesiapa yang tidak boleh, maka hendaklah dia memberi makan (menyuruh puasa?) enam puluh orang miskin - itu, supaya kamu mempercayai Allah dan rasul-Nya. Itulah hudud (had-had) Allah; dan bagi orang-orang yang tidak percaya, azab yang pedih.

4:92. Tiadalah bagi seorang mukmin untuk membunuh seorang mukmin melainkan dengan tersilap, dan sesiapa membunuh seorang mukmin dengan tersilap, maka hendaklah dia memerdekakan seorang hamba yang mukmin, dan ganti rugi hendaklah dibayar kepada keluarganya, kecuali mereka menyedekahkannya. Jika dia daripada kaum yang bermusuhan dengan kamu, dan dia seorang mukmin, maka pembunuh hendaklah memerdekakan seorang hamba yang mukmin, dan jika dia daripada kaum yang berhubungan dengan kamu dengan perjanjian, maka ganti rugi hendaklah dibayar kepada keluarganya, dan pembunuh akan memerdekakan seorang hamba yang mukmin; jika dia tidak mendapatkannya, hendaklah dia makan dan minum dua bulan berturut-turut - taubat Allah; Allah adalah Mengetahui, Bijaksana.

Saya setuju dengan pak Faried, jika benar puasa itu diartikan menyuruh makan dan minum, maka makan dan minum itu bukanlah sesuatu yang fisikal, mungkin yang dimaksud adalah makan dan minum Al Quran.

Tapi dari ayat berikut:
2:187. Dihalalkan bagi kamu, pada malam puasa, bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagi kamu, dan kamu, pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahawa kamu mengkhianati diri-diri kamu sendiri, dan menerima taubat kamu, dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka, dan carilah apa yang Allah menuliskan (menetapkan) untuk kamu. Dan makan dan minumlah, sehingga benang putih menjadi jelas bagi kamu daripada benang hitam, pada fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam, dan janganlah mencampuri mereka sedang kamu bertekun (iktikaf) di masjid. Itulah had-had (hudud) Allah; janganlah keluar daripadanya. Begitulah Allah memperjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka bertakwa.

Saya tidak menemukan kata-kata Al Quran, Al Furqan, Kitab, Dzikra, dan lain-lain. Sehingga saya berkesimpulan ayat di atas tidak berbicara tentang makan dan minum Al Quran. Karena saya mencoba belajar kritis terhadap kata-kata yang ada di dalam Al Quran, seperti yang pak Faried ajarkan, yakni membaca aroby-nya. Sekali saya meletakkan kata Al Quran disitu, sama halnya saya meyakini bahwa di 3:96-97 ada kata Baitullah, atau contoh-contoh lain.

Saya harap diskusi di FAS ini konsisten dalam mengkritisi ayat dengan hanya berpegang pada apa yang tertulis. Terkadang saya menemukan bahwa di salah satu ayat kita bisa bersikap sangat kritis, sedangkan di ayat lain, bisa dengan bebas menambahkan sesuatu.

Akhir kata, saya tidak berani menghakimi bahwa satu pendapat itu benar atau salah, tugas saya hanyalah memilih yang terbaik untuk saya. Yang terbaik untuk saya, mungkin bukan yang terbaik bagi orang lain. Oleh karenanya saya mengajak kepada yang berbeda pendapat, agar menjalankan apa yang kita yakini masing-masing dengan sebaik-baiknya. Dan mari kita berpegang teguh pada persamaan, hanya Allah Tuhan kita dan hanya Dia yang patut disembah, dan segala perselisihan Insya Allah akan dijelaskan olehNya nanti.

Salam,
Taufiq
 






Offline Faried

  • Mith'quessir
  • *****
  • Posts: 1173
    • View Profile
Re: Puasa Dalam Al Quran
« Reply #5 on: December 13, 2008, 11:15:08 AM »
inti dari masalah ini hanya pengertian puasa sebagai makan dan minum, atau puasa sebagai menahan makan dan minum.

Saya tidak pernah menulis bahwa puasa = makan dan minum.

Hal yang saya kemukakan yaitu bahwa penjelasan Alquran tentang puasa adalah: memerintahkan makan dan minum.

Kata puasa (shiyam) tidak dapat diganti atau sinonim dengan kata makan dan minum. Puasa dijelaskan dengan beberapa ayat dalam surah Al Baqarah dan beberapa ayat dalam surah Maryam. Dalam Al Baqarah dijelaskan bahwa puasa dituliskan sebagaimana dituliskan atas orang-orang terdahulu. Puasa orang terdahulu dijelaskan dalam surah Maryam. Kedua surah tersebut bersifat komplemen, sehingga keduanya perlu digabung untuk mendapatkan pemahaman utuh tentang makna puasa. Tidak dapat didefenisikan secara sederhana bahwa puasa=makan dan minum.

Kalau Anda berkenan, silakan dibaca dalam:


Quote
Saya tidak menemukan kata-kata Al Quran, Al Furqan, Kitab, Dzikra, dan lain-lain. Sehingga saya berkesimpulan ayat di atas tidak berbicara tentang makan dan minum Al Quran. Karena saya mencoba belajar kritis terhadap kata-kata yang ada di dalam Al Quran, seperti yang pak Faried ajarkan, yakni membaca aroby-nya. Sekali saya meletakkan kata Al Quran disitu, sama halnya saya meyakini bahwa di 3:96-97 ada kata Baitullah, atau contoh-contoh lain.

Saya harap diskusi di FAS ini konsisten dalam mengkritisi ayat dengan hanya berpegang pada apa yang tertulis. Terkadang saya menemukan bahwa di salah satu ayat kita bisa bersikap sangat kritis, sedangkan di ayat lain, bisa dengan bebas menambahkan sesuatu.

Inti dari puasa ada Alquran. Di bawah ini saya merahkan kata Alquran dan sinonimnya yang Anda cari.


Quote
2:185. Bulan Ramadan yang padanya al-Qur'an diturunkan untuk menjadi satu petunjuk bagi manusia, dan sebagai bukti-bukti yang jelas daripada Petunjuk itu, dan Pembeza. Maka hendaklah orang-orang antara kamu yang menyaksikan (hadir) pada bulan itu, berpuasa; dan sesiapa yang sakit, atau dalam perjalanan, maka sebilangan daripada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kamu, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kamu; dan agar kamu mencukupkan bilangan, dan mengagungkan Allah, bahawa Dia telah memberi petunjuk kepada kamu supaya kamu berterima kasih.

Quote
2:187. Dihalalkan bagi kamu, pada malam puasa, bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagi kamu, dan kamu, pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahawa kamu mengkhianati diri-diri kamu sendiri, dan menerima taubat kamu, dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka, dan carilah apa yang Allah menuliskan (menetapkan) untuk kamu. Dan makan dan minumlah, sehingga benang putih menjadi jelas bagi kamu daripada benang hitam, pada fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam, dan janganlah mencampuri mereka sedang kamu bertekun (iktikaf) di masjid. Itulah had-had (hudud) Allah; janganlah keluar daripadanya. Begitulah Allah memperjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka bertakwa.

Cukup banyak kata Alquran dan sinonimnya dalam ayat yang menjelaskan tentang puasa, yang saya pikir perlu dimakan dan diminum untuk dipatuhi dalam meraih takwa, sebagai tujuan puasa yang dinyatakan dalam pembukaan dan penutup ayat tentang puasa (2:183, 187).

Jika puasa dipahami sebagai menahan diri dari makan dan minum nutrisi tubuh maka makanan dan minuman fisik sama sekali tidak dijumpai dalam 2:183-187.

Quote
Akhir kata, saya tidak berani MENGHAKIMI bahwa satu pendapat itu benar atau salah, tugas saya hanyalah MEMILIH yang terbaik untuk saya. Yang terbaik untuk saya, mungkin bukan yang terbaik bagi orang lain. Oleh karenanya saya mengajak kepada yang berbeda pendapat, agar menjalankan apa yang kita yakini masing-masing dengan sebaik-baiknya. Dan mari kita berpegang teguh pada persamaan, hanya Allah Tuhan kita dan hanya Dia yang patut disembah, dan segala perselisihan Insya Allah akan dijelaskan olehNya nanti.

Saya sangat mendukung dan sependapat dengan Anda. Dalam MEMILIH kita harus MEMUTUSKAN, dan MEMUTUSKAN adalah sama dengan MENGHAKIMI. Al Hakim = Pemutus.

Salam.
« Last Edit: December 13, 2008, 11:18:12 AM by Faried »

Offline Faried

  • Mith'quessir
  • *****
  • Posts: 1173
    • View Profile
Re: Puasa Dalam Al Quran
« Reply #6 on: December 13, 2008, 11:36:47 AM »
Salam,

Salah satu ciri utama dari puasa adalah tidak dapat dilakukan oleh orang yang sakit atau sedang melakukan perjalanan. Demikian pentingnya ciri ini sampai diulang dua kali.

Quote
2.184. ... Maka siapa yang dia telah ada dari kamu orang yang sakit atau atas perjalanan, maka hitungan dari hari-hari yang lain ... (Yassarnal-Qur'an).

Quote
2.185. ... Dan siapa yang dia dia telah ada dari kamu orang yang sakit atau atas perjalanan, maka hitungan dari hari-hari yang lain ... (Yassarnal-Qur'an).

Sayang ciri utama tersebut nyaris diabaikan, sehingga makna puasa terlewatkan.

Jika puasa adalah menahan diri dari tidak makan, tidak minum, dan tidak sex, maka hal tersebut mudah dilakukan oleh sebagian orang yang sedang sakit atau dalam perjalanan. Cukup banyak orang yang sedang sakit berpuasa dengan tidak makan, tidak minum dan tidak sex, apalagi kebetulan selera makan dan minum sedang berkurang atau malah tidak ada, demikian pula dengan hasrat sexsual. Hal yang sama terjadi pada orang yang sedang dalam perjalanan. Mereka mudah berpuasa dengan tidak makan, tidak minum dan tidak sex; kebetulan karena akan menghemat biaya perjalanan, dan kebenaran bepergian tidak dengan pasangan.

Tapi apa hal tersebut benar? Jika benar. maka berarti petunjuk Alquran yang memberi kemudahan/dispensasi bagi orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan adalah salah. Silakan dipikir dn ditentukan.


tlihawa

  • Guest
Re: Puasa Dalam Al Quran
« Reply #7 on: December 13, 2008, 06:17:48 PM »

Tapi apa hal tersebut benar? Jika benar. maka berarti petunjuk Alquran yang memberi kemudahan/dispensasi bagi orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan adalah salah. Silakan dipikir dn ditentukan.

Salam,
pertanyaan yang sama bisa diajukan setelah melihat terjemahan berikut, sesuai dengan pemahaman Pak Faried:

2:187. Dihalalkan bagi kamu, pada malam puasa, bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagi kamu, dan kamu, pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahawa kamu mengkhianati diri-diri kamu sendiri, dan menerima taubat kamu, dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka, dan carilah apa yang Allah menuliskan (menetapkan) untuk kamu. Dan makan dan minumlah, sehingga benang putih menjadi jelas bagi kamu daripada benang hitam, pada fajar, kemudian sempurnakanlah makan dan minum sampai malam, dan janganlah mencampuri mereka sedang kamu bertekun (iktikaf) di masjid. Itulah had-had (hudud) Allah; janganlah keluar daripadanya. Begitulah Allah memperjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka bertakwa.

Makan dan minum hingga fajar, dan sempurnakan makan minum hingga malam.

Dari ayat ini terlihat bahwa perintah puasa dalam pemahaman pak Faried hanya untuk orang yang sakit. Sementara dispensi didapatkan oleh orang yang tidak sakit, karena mereka disuruh makan dan minum sepanjang hari. Bagaimana dengan yang dalam perjalanan? Hal apa yang mereka dapatkan? Padahal mereka juga diulang dua kali dalam ayat yang sama.

Tapi ini bukan satu-satunya penolakan saya terhadap puasa = makan dan minum, ayat-ayat yang saya pastekan sebelumnya sangat meyakinkan saya. Suatu pendapat baru bisa saya terima jika cocok dengan seluruh ayat yang berhubungan, bukan hanya satu-dua.

Demikian pak. mohon maaf jika ada kata yang salah.

Salam,
Taufiq

tlihawa

  • Guest
Re: Puasa Dalam Al Quran
« Reply #8 on: December 13, 2008, 08:17:22 PM »
Salam,
Maaf, saya tidak melihat ada reply sebelumnya, saya cuman melihat reply Pak Faried yang paling akhir.
Baiknya saya coba jelaskan pandangan saya keseluruhan. mudah-mudahan bisa mendapatkan titik temu:

Pak Faried menekankan bahwa puasa adalah membaca dan memahami Al Quran.
Saya setuju. Saya memahaminya tidak hanya dalam bulan Ramadhan.  Tapi tiap malam. Ada satu perintah yang lebih jelas daripada 2:185.

2:185 hanya memberikan informasi tentang waktu turunnya isi Al Quran, dan penjelasan tentang isinya. Kata 'menyaksikan' pun bisa memberi 3 arti, yakni orang yang menyaksikan turunnya Al Quran 14 abad lalu, atau menyaksikan datangnya bulan Ramadhan, atau menyaksikan kebenaran petunjuk Al Quran dan penjelasannya.

Ada ayat-ayat yang lebih terang jelas dibanding 2:185 dalam memberikan penjelasan tentang pentingnya membaca dan memahami Al Quran. Ayat tersebut dengan jelas menggunakan kata 'bacalah' dibandingkan dengan kata 'makan minum' (yang bisa membingungkan dan melahirkan diskusi ini) dalam anjuran membaca dan memahami Al Quran.

Mari kita lihat ayat tersebut:

73:20. Pemelihara kamu mengetahui bahawa kamu berjaga-jaga hampir dua per tiga malam, atau separuhnya, atau satu per tiganya, dan segolongan daripada orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menentukan malam dan siang. Dia mengetahui bahawa kamu tidak akan menjumlahkannya, dan Dia menerima taubat kamu. Maka bacalah daripada al-Qur?an semudah yang dapat. Dia mengetahui bahawa antara kamu ada yang sakit, dan yang lain antara kamu berpergian di bumi, mencari pemberian Allah, dan yang lain berperang di jalan Allah. Maka bacalah daripadanya semudah yang dapat. Dan lakukanlah solat, dan berikanlah zakat, dan pinjamkanlah kepada Allah satu pinjaman yang baik. Apa sahaja kebaikan yang kamu mendahulukan untuk jiwa kamu, kamu akan mendapatinya di sisi Allah yang lebih baik, dan upah yang lebih besar. Dan mintalah ampunan Allah; sesungguhnya Allah Pengampun, Pengasih.

73:1. Wahai kamu yang berselimut, 73:2. Berjaga-jagalah pada waktu malam, kecuali sedikit, 73:3. Separuh daripadanya, atau mengurangkan sedikit, 73:4. Atau menambahkan sedikit, dan bacalah al-Qur?an dengan bacaan sebenar.

73;20 dan 73:1-4 berbicara tentang pentingnya membaca Al Quran, bahkan waktunya dianjurkan di malam hari, sepertiga malam atau duapertiga malam.

Pemahaman saya akan pentingnya membaca dan memahami Al Quran sama dengan pak Faried. Bedanya, jika pak Faried memberikan penekanan pada Bulan Ramadhan, saya memberikan penekanan untuk dilakukan tiap malam, baik bulan Ramadhan maupun tidak.

Sehingga saya tidak perlu repot-repot untuk mengartikan bahwa puasa adalah perintah untuk makan dan minum Al Quran.

Terjemahan berikut sudah saya edit sesuai dengan pemahaman pak Faried, yakni membaca dan memahami Al Quran secara mandiri.

2:183. Wahai orang-orang yang percaya, dituliskan bagi kamu untuk membaca dan memahami Kitab Suci  secara mandiri sebagaimana dituliskan bagi orang-orang yang  sebelum kamu, supaya kamu bertakwa.

Saya kutip kembali pendapat Pak Faried:

Kata puasa (shiyam) tidak dapat diganti atau sinonim dengan kata makan dan minum. Puasa dijelaskan dengan beberapa ayat dalam surah Al Baqarah dan beberapa ayat dalam surah Maryam. Dalam Al Baqarah dijelaskan bahwa puasa dituliskan sebagaimana dituliskan atas orang-orang terdahulu. Puasa orang terdahulu dijelaskan dalam surah Maryam. Kedua surah tersebut bersifat komplemen, sehingga keduanya perlu digabung untuk mendapatkan pemahaman utuh tentang makna puasa. Tidak dapat didefenisikan secara sederhana bahwa puasa=makan dan minum.

Setuju pak. Karena puasa memang bukan makan dan minum.

Surah Maryam berikut:
19:26. Maka makan dan minumlah, dan bergembiralah (berdingin mata); dan jika kamu melihat seseorang manusia, katakanlah, 'Aku telah bernazar kepada Yang Pemurah untuk berpuasa, dan pada hari ini, aku tidak akan berkata-kata kepada seseorang manusia pun.'"

Mari kita bahas ayat diatas secara seksama:
Dari ayat di atas kegiatan makan dan minum serta bergembira diperintahkan terlebih dahulu. Perhatikan ada tanda berhenti antara perintah pertama dan kedua.  Perintah pertama dan kedua tidak berhubungan.

Kemudian perintah kedua ialah, "Jika melihat manusia hendaknya dia mengatakan : "Aku telah bernazar kepada Yang Pemurah untuk berpuasa dan pada hari ini, aku tidak akan berkata-kata kepada seseorang manusia pun."

Bagaimana puasa Maryam?

Yang jelas bukanlah makan dan minum dan bergembira, karena perintah itu terpisah dengan perintah puasa, perhatikan tanda berhentinya.

Karena cerita pada saat  itu Injil (perjanjian baru) belum turun, saya simpulkan beliau menggunakan hukum Taurat. Mari kita lihat hukum Taurat berikut:

Ester 4:16
Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.

Sangat jelas LARANGAN makan dan minum ketika sedang berpuasa terdapat dalam Alkitab, tetapi dalam Alquran ketika berpuasa justru DIPERINTAHKAN makan dan minum

Pak Faried setuju bahwa Al Kitab melarang makan dan minum. Terlihat bahwa Maryam adalah pengikut Al Kitab, maka komentar dibawah sudah tentu tidak relevan.

Puasa orang terdahulu dijelaskan dalam surah Maryam. Kedua surah tersebut bersifat komplemen, sehingga keduanya perlu digabung untuk mendapatkan pemahaman utuh tentang makna puasa.

Kesimpulannya: Surah Maryam tidak mendukung Al Baqarah 187 untuk mengartikan bahwa puasa adalah perintah untuk makan dan minum.

sekarang kita lanjutkan ke ayat berikut:

2:185. Bulan Ramadan yang padanya al-Qur'an diturunkan untuk menjadi satu petunjuk bagi manusia, dan sebagai bukti-bukti yang jelas daripada Petunjuk itu, dan Pembeza. Maka hendaklah orang-orang antara kamu yang menyaksikan (hadir) pada bulan itu, membaca dan memahami Kitab Suci secara mandiri; dan sesiapa yang sakit (sehingga tidak mampu membaca dan memahami Kitab Suci secara mandiri), atau dalam perjalanan (sehingga tidak mampu membaca dan memahami Kitab Suci secara mandiri ), maka sebilangan daripada hari-hari yang lain (maka hendaknya membaca dan memahami Kitab Suci secara mandiri di hari-hari yang lain). Allah menghendaki kemudahan bagi kamu, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kamu; dan agar kamu mencukupkan bilangan (setelah bilangannya cukup, berhentilah membaca dan memahami Kitab Suci ), dan mengagungkan Allah, bahawa Dia telah memberi petunjuk kepada kamu supaya kamu berterima kasih.

Apakah kalimat 'agar kamu mencukupkan bilangan' yang artinya batas berpuasa, dimaksudkan agar kita setelah mencukupkan bilangan berhenti membaca dan memahami kitab suci secara mandiri? Bukankah jadi bertentangan dengan  73:20 yang menganjurkan tiap malam?

2:196. Sempurnakanlah Haji dan umrah kerana Allah; tetapi jika kamu dihalangi,  maka pemberian yang mudah didapati, dan jangan mencukur  kepala kamu sehingga pemberian itu sampai di tempat korban. Jika sesiapa antara kamu sakit, atau ada gangguan di kepalanya, ditebus dengan berpuasa, atau bersedekah, atau berkorban. Apabila kamu berasa aman, sesiapa yang menikmati umrah sehingga Haji, maka hendaklah pemberiannya daripada yang mudah didapati, atau jika dia tidak mendapati sesuatu, maka bacalah dan pahami kitab suci secara mandiri tiga hari dalam Haji, dan  tujuh apabila kamu kembali. Itulah sepuluh, genap; demikian itu adalah bagi orang yang keluarganya tidak hadir di Masjidil Haram. Dan takutilah Allah, dan ketahuilah bahawa Allah keras dalam pembalasan sewajarnya.

Di ayat ini tidak ada masalah.

5:95. Wahai orang-orang yang percaya, janganlah membunuh binatang buruan sedang kamu dalam haram (ihram); sesiapa antara kamu yang membunuhnya dengan sengaja, akan ada balasannya dengan yang serupa apa yang dia telah bunuh, daripada binatang ternak, yang dihakimkan dua orang yang adil antara kamu, sebagai pemberian yang dibawa ke Kaabah; atau penebusan - memberi makan orang-orang miskin, atau yang sama dengan itu dalam membaca dan memahami Kitab Suci secara mandiri supaya dia merasai keburukan daripada pekerjaannya. Allah memaafkan apa yang telah lalu, tetapi sesiapa mengulanginya, Allah akan melepaskan dendam kepadanya; Allah Perkasa, Pendendam.

Bagaimana membandingkan membaca dan memahami Al Quran secara mandiri dengan memberi makan orang-orang miskin?

58:4. Tetapi sesiapa yang tidak mendapatkannya, maka hendaklah dia membaca dan memahami Kitab Suci secara mandiri dua bulan berturut-turut sebelum keduanya menyentuh satu sama lain. Dan jika sesiapa yang tidak boleh, maka hendaklah dia memberi makan enam puluh orang miskin - itu, supaya kamu mempercayai Allah dan rasul-Nya. Itulah hudud (had-had) Allah; dan bagi orang-orang yang tidak percaya, azab yang pedih.

Di ayat ini tidak ada masalah.

4:92. Tiadalah bagi seorang mukmin untuk membunuh seorang mukmin melainkan dengan tersilap, dan sesiapa membunuh seorang mukmin dengan tersilap, maka hendaklah dia memerdekakan seorang hamba yang mukmin, dan ganti rugi hendaklah dibayar kepada keluarganya, kecuali mereka menyedekahkannya. Jika dia daripada kaum yang bermusuhan dengan kamu, dan dia seorang mukmin, maka pembunuh hendaklah memerdekakan seorang hamba yang mukmin, dan jika dia daripada kaum yang berhubungan dengan kamu dengan perjanjian, maka ganti rugi hendaklah dibayar kepada keluarganya, dan pembunuh akan memerdekakan seorang hamba yang mukmin; jika dia tidak mendapatkannya, hendaklah dia membaca dan memahami Kitab Suci secara mandiri dua bulan berturut-turut - taubat Allah; Allah adalah Mengetahui, Bijaksana.

Di ayat ini tidak ada masalah.

Kesimpulan saya sementara, pemahaman Pak Faried tidak cocok untuk saya. Mohon maaf.

Salam,
Taufiq

Offline Faried

  • Mith'quessir
  • *****
  • Posts: 1173
    • View Profile
Re: Puasa Dalam Al Quran
« Reply #9 on: December 15, 2008, 05:55:03 PM »
Pak Faried menekankan bahwa puasa adalah membaca dan memahami Al Quran.

Saya setuju. Saya memahaminya tidak hanya dalam bulan Ramadhan.  Tapi tiap malam.
Pemahaman saya akan pentingnya membaca dan memahami Al Quran sama dengan pak Faried. Bedanya, jika pak Faried memberikan penekanan pada Bulan Ramadhan, saya memberikan penekanan untuk dilakukan tiap malam, baik bulan Ramadhan maupun tidak.

Sehingga saya tidak perlu repot-repot untuk mengartikan bahwa puasa adalah perintah untuk makan dan minum Al Quran.

Sejak awal sudah saya nyatakan bahwa shalat, puasa dan haji ketiganya memiliki arti yang sama, yaitu pemahaman terhadap Alquran.

Pemahaman Alquran melalui shalat dapat dilakukan bersama-sama dan kapan saja, sedangkan puasa dilakukan secara mandiri dalam satu bulan tertentu selama sepuluh hari setelah menyaksikan syahr ramadhan.

Membaca saya pahami sebagai salah satu cara shalat, di samping cara lainnya. Hal tersebut saya kemukakan dalam:


Salam.

Offline Faried

  • Mith'quessir
  • *****
  • Posts: 1173
    • View Profile
Re: Puasa Dalam Al Quran
« Reply #10 on: December 15, 2008, 07:31:35 PM »
inti dari masalah ini hanya pengertian puasa sebagai makan dan minum, atau puasa sebagai menahan makan dan minum.

Saya pikir bukan hanya, tetapi pokok permasalahan yang prinsip.

Perintah puasa sangat jelas dan tegas, makan dan minumlah, baik dalam Al Baqarah maupun dalam surah Maryam.

Kebingungan terjadi karena makna puasa adalah menahan atau mengendalikan. Jika makan dan minum, jelas bukan menahan atau mengendalikan. Dalam kebingungan orang mencari jalan keluar di luar petunjuk Alquran. Supaya sejalan dengan makna puasa sebagai menahan atau mengendalikan, maka perintah dirubah menjadi larangan, sehingga petunjuk dalam Al Baqarah dirubah menjadi jangan makan dan jangan minum. Tentunya kita sudah sama mengetahui konsekuensi dari merubah perintah/petunjuk Tuhan.

Ketika membaca surah Maryam, puasa kembali dijelaskan sebagai perintah makan dan minum. Petunjuk tersebut kembali diabaikan dengan menyikapinya sebagai dongeng orang dahulu, yang tidak ada relevansinya dengan puasa yang diperintahkan atas orang beriman dalam Al Baqarah. Kisah adalah petunjuk, dan ketika diterima dan disikapi sebagai dongeng orang dahulu, tentu kita tahu bersama bahwa hal tersebut tidak boleh dilakukan dan merupakan perbuatan tercela yang hanya dilakukan oleh orang yang tidak beriman.

Puasa adalah untuk mencapai takwa dan untuk itu Tuhan memerintahkan untuk makan dan minum Alquran sebagai santapan rohani. Inti puasa adalah Alquran. Dalam 2.185 di situ disebutkan Alquran dan diulang beberapa kali dengan menggunakan kata sinonim atau kata yang maksudnya adalah Alquran. Sama sekali dalam 2.183-187 tidak disinggung soal makanan dan minuman yang merupakan nutrisi jasmani. Karena itu, perintah makan dan minum dalam 2.187 dipahami sebagai santapan rohani.

Dalam makan dan minum Alquran, dibutuhkan tubuh yang sehat dan tidak melakukan perjalanan.

Dalam makan dan minum Alquran sebagai santapan rohani, otak akan bekerja keras.  Untuk itu jasmani harus dalam keadaan prima sehingga harus dipasok dengan kalori yang tinggi. Dalam surah Maryam dicontohkan makanan dan minuman yang perlu dikonsumsi adalah kurma dan air mineral dari sungai. Selain makanan dan minuman yang cukup, hati juga perlu senang agar berbagai ketetapan (kitab) yang dicari mudah didapatkan.

Kegiatan makan dan minum Alquran harus dilakukan secara mandiri yang dipahami dari puasa Maryam yang tidak mau berbicara ketika ditanya tentang perempuan yang memiliki anak padahal belum mempunyai suami. Hal tersebut adalah masalah hukum, dan sumber hukum/petunjuk ketika itu adalah Isa. Kini sumber petunjuk adalah buku Alquran.

Lantas puasa sebagai menahan atau mengendalikan terletak di mana? Menahan atau mengendalikan diri terletak pada kesediaan orang untuk tidak bepergian dan tidak berbicara ketika sedang makan dan minum Alquran.

Puasa dilakukan pada siang hari, lantas bagaimana dengan fajar. Fajar dalam 2.187 tidak ada hubungannya dengan surya, dan karena puasa adalah makan dan minum Alquran maka fajar yang dimaksud adalah fajar Alquran (qur'anil fajr), dan fajar Alquran tersebut akan disaksikan sebagai hasil dari puasa.

Dalam post pertama bro Taufik dalam topik ini tidak mencantumkan Q. 2.186. Saya tidak tahu kenapa, padahal ayat tersebut memperjelas bahwa puasa adalah sangat erat kaitannya dengan Alquran.

Kita perhatikan dulu terjemahan dari Depag RI yang banyak dirujuk orang yang membuat orang bingung dan tidak paham.

Quote
2.186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku (falyastajibuli) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (Depag RI).

Ayat 2.185 bertutur tentang Alquran sebagai petunjuk, penjelasan dan pembeda. Beralih ke 2.86 ayat menjelaskan tentang do'a. Sama sekali tidak nyambung, padahal ayat 2.183-187 merupakan penjelasan yang padu dan menyatu (coheren) tentang puasa. Terjemahan tersebut orang membuat bingung, salah interpretasi dan salah arah.

Kita bandingkan dengan terjemahan kata per kata berikut:

Quote
2.186. Dan apabila telah bertanya (pada) engkau abdi-abdi-Ku tentang Aku, maka sesungguhnya Aku Yang sangat hampir/Penghampir, Aku akan menjawab seruan orang yang menyeru apabila dia telah menyeru-Ku, maka hendaklah mereka minta jawaban terhadap-Ku (falyastajibuli) dan hendaklah mereka mempercayakan pada-Ku supaya mereka akan terarah (Yassarnal-Qur'an).

Alquran sebagai wahyu Tuhan berisi berbagai jawaban atas berbagai masalah yang kita hadapi. Jika kita minta jawaban kepada Tuhan melalui Alquran, dan jawaban tersebut kita imani maka kita akan terarah.

Proses meminta jawaban dari Tuhan tersebut sama dengan puasa.

Salam.
« Last Edit: December 16, 2008, 07:08:39 AM by Faried »

tlihawa

  • Guest
Re: Puasa Dalam Al Quran
« Reply #11 on: December 15, 2008, 10:07:50 PM »
Salam,
begini yang saya pikirkan pak:
pemahaman pak Faried bisa dianggap benar jika dikaitkan dengan 2:183-187. Tapi jika dikaitkan dengan keseluruhan ayat yang berkenaan dengan puasa, terus terang saya belum bisa menerima.
Saya belum menerima bagaimana pak faried menjelaskan hubungannya dengan ayat-ayat yang saya pastekan sebelumnya. Jika penjelasannya tidak dicari-cari dan masuk akal, kalau perlu kita buatkan terjemahan baru lengkap dengan tafsirannya.

Satu yang perlu diperhatikan, alasan saya menerima puasa = menahan makan+minum dimana digabungkan dengan "makan-minum Al Quran (sebaiknya di malam hari)" adalah karena sangat cocok dengan setiap ayat yang berhubungan dengan puasa, termasuk 2:183-187.

Salam,
Taufiq

Offline kenny

  • Peredhil
  • ***
  • Posts: 353
    • View Profile
Re: Puasa Dalam Al Quran
« Reply #12 on: December 16, 2008, 03:42:34 AM »
Quote
Satu yang perlu diperhatikan, alasan saya menerima puasa = menahan makan+minum dimana digabungkan dengan "makan-minum Al Quran (sebaiknya di malam hari)" adalah karena sangat cocok dengan setiap ayat yang berhubungan dengan puasa, termasuk 2:183-187.

puasa adalah ritual agama arab dan ngak bisa di
praktikan di negeri yang waktu siangnya selama 6 bulan

tlihawa

  • Guest
Re: Puasa Dalam Al Quran
« Reply #13 on: December 16, 2008, 07:12:17 AM »

puasa adalah ritual agama arab dan ngak bisa di
praktikan di negeri yang waktu siangnya selama 6 bulan

Salam,
Betul pak. Puasa baru akan kita lakukan jika salah satu syarat berikut terpenuhi:

2:185. Bulan Ramadan yang padanya al-Qur'an diturunkan untuk menjadi satu petunjuk bagi manusia, dan sebagai bukti-bukti yang jelas daripada Petunjuk itu, dan Pembeza. Maka hendaklah orang-orang antara kamu yang menyaksikan (hadir) pada bulan itu, berpuasa..

Menyaksikan datangnya bulan Ramadhan, atau hadir dalam Bulan Ramadhan.

2:187 .....dan carilah apa yang Allah menuliskan (menetapkan) untuk kamu...

2:189. Mereka menanyai kamu mengenai bulan-bulan baru. Katakanlah, "Mereka adalah waktu-waktu yang ditetapkan bagi manusia, dan Haji." Ia bukanlah ketaatan untuk datang ke rumah-rumah dari belakangnya, tetapi ketaatan adalah untuk menjadi bertakwa; maka datangilah rumah-rumah pada pintu-pintunya, dan takutilah Allah agar kamu beruntung.

Gunakan bulan baru (bulan sabit) sebagai tanda untuk ketetapan waktu. Dalam hal puasa, ayat 2:187 menyuruh kita mencari ketetapan Allah. 2:189 menunjukkan salah satu ketetapan itu, yakni bulan baru (bulan sabit)

2:187 .....Dan makan dan minumlah, sehingga benang putih menjadi jelas bagi kamu daripada benang hitam, pada fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam...

Perintah makan dan minum (biasanya kita kenal dengan istilah sahur) dilakukan hingga fajar, dan kemudian melakukan puasa (menahan makan dan minum) hingga malam hari. Jika iklim negara anda sangat ekstrim, misalnya 6 bulan siang, sudah tentu tidak akan menemukan Fajar sebagai tanda permulaan puasa maupun malam sebagai tanda berhenti berpuasa. Oleh karenanya puasa tidak wajib bagi anda. Allah sungguh adil dalam hal ini.
Misalnya pun, katakanlah, Kebetulan hari pertama musim panas di daerah yang beriklim ekstrim tersebut bertepatan dengan bulan Ramadhan, anda mendapati Fajar dalam Bulan Ramadhan, tapi siangnya berlangsung selama 6 bulan, maka:

2:184 .......dan bagi orang-orang yang tidak boleh, ditebus dengan memberi makan seorang miskin, ........

Satu pertanyaan yang sering timbul, kenapa sering sekali terjadi perbedaan dalam menentukan awal puasa Ramadhan, bahkan dengan kondisi teknologi yang canggih, perhitungan ilmu falak yg akurat, tetap saja tidak bisa menghindari perbedaan?

Allah memberikan toleransi berikut, dalam menentukan kapan manusia mulai berpuasa, tidak harus serentak/bersamaan:

2:183. Wahai orang-orang yang percaya, dituliskan bagi kamu  berpuasa  sebagaimana dituliskan bagi orang-orang yang  sebelum kamu, supaya kamu bertakwa.

2:184. Pada hari-hari yang terhitung;

2:203. Dan ingatlah akan Allah selama hari-hari tertentu yang terhitung. Jika sesiapa bercepat-cepat dalam dua hari, itu tidaklah berdosa baginya; dan jika sesiapa melambatkannya, ia bukanlah satu dosa padanya, jika dia bertakwa. Dan kamu takutilah Allah, dan ketahuilah bahawa kepada-Nya kamu akan dikumpulkan.

Demikian Pak.

Salam,
Taufiq






Offline Faried

  • Mith'quessir
  • *****
  • Posts: 1173
    • View Profile
Re: Puasa Dalam Al Quran
« Reply #14 on: December 16, 2008, 07:28:07 AM »
Salam,

Puasa sebagai menahan makan, minum dan sex dipahami sebagai ujian bagi orang beriman untuk mengetahui keislaman mareka, dan bagi orang yang melanggar aturan/petunjuk digunakan sebagai hukuman untuk menyadarkan pelanggar aturan/petunjuk.

Benar, hukuman akan membuat si pelanggar menjadi tersadar, tetapi kesadaran juga dapat dicapai melalui pemahaman akan aturan/petunjuk. Karena itu penegak hukum yang tidak mengacu Alquran sekalipun memasukkan pelanggar aturan ke lembaga pemasyarakatan untuk membina dan membangun kesadarannya. Sebagai sunnatullah, cara tersebut dipahami melalui pengalaman dan pengamatan dalam masyarakat, dan hal tersebut selaras dengan petunjuk Alquran agar pelanggar hukum diperintahkan berpuasa untuk membangun kesadaran akan aturan dan petunjuk.