Author Topic: Seputar Ferry "Bhiksu" or "Alda Risma"  (Read 2432 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Guradan

  • Moderator
  • Peredhil
  • ********
  • Posts: 275
    • View Profile
Seputar Ferry "Bhiksu" or "Alda Risma"
« on: December 22, 2006, 09:13:55 AM »
Dear all,

Belakangan ini ramai dibicarakan bahwa F yang diduga terkait
        kematian penyanyi Alda adalah seorang biksu. Bisakah mohon klarifikasi
        tentang hal ini, atau ada siaran pers, atau dari rekan2 di milist
        Budhist yang bisa dishare di sini?
       Saya ikut prihatin dengan kejadian ini seandainya ini ikut mempengaruhi
        nama baik umat Budha, khususnya di Indonesia.
       
       salam,
       hardi
        ============ =========
        HUDOYO:

        Mas Hardi yg baik,

        Terima kasih banyak atas keprihatinan Anda.

        Akhir-akhir ini milis-milis Buddhis sangat ramai dengan berbagai posting
        pro & kontra mengenai masalah ini. Sebagian ada yang langsung mengutuk
        Ferry alias ___ Rinpoche (saya tidak pernah ingat ejaan namanya, maaf
        :-)), dan sebagian lagi masih mau menunggu dulu.

        Lalu ada pula berbagai pernyataan dan konferensi pers yang
        mempermasalahkan apakah Ferry itu "bhiksu" atau bukan. Padahal bagi
        masyarakat awam, jelas bahwa sejak lama Ferry telah mengenakan jubah
        seorang rahib Buddha, yang oleh masyarakat awam disebut "bhiksu", dan
        menduduki posisi penting sebagai Ketua Umum Majelis Agama Buddha
        Tantrayana Indonesia. (Sebenarnya istilah "bhiksu" itu sendiri memang
        tidak ada dalam Buddhisme Tibet.)

        Salah satu alasan yang dikemukakan bahwa Ferry bukan "bhiksu" ialah
        karena ia menikah. Harap diingat bahwa dalam Buddhisme Tibet tidak ada
        keharusan bagi para guru spiritual mereka untuk hidup selibat. Seorang
        guru spiritual yang mumpuni, yang dijunjung tinggi--lebih tinggi
        daripada bhiksu biasa (yang hidup selibat)--dan memiliki gelar Rinpoche
        bisa saja menikah dan punya anak cucu.

        Pagi ini di sebuah stasiun TV ditayangkan video lama (entah direkam
        kapan) ketika Presiden SBY bersalaman dengan sederetan orang yang
        mengenakan jubah rahib Buddhis. Di antara orang-orang itu terdapat ___
        Rinpoche alias Ferry. Tentu di benak SBY--dan dalam benak para penonton
        TV yang melihat video itu--terpikir bahwa SBY tengah bersalaman dengan
        para "bhiksu" Buddhis (istilah umum untuk seorang rahib Buddhis),
        terlepas dari permasalahan teknis apakah mereka "bhiksu" atau bukan
        "bhiksu" (apakah mereka menikah atau hidup selibat), terlepas dari apa
        saja gelar mereka.

        Lalu kemarin ada lagi konferensi pers yang menyatakan bahwa "Rinpoche
        bukanlah bhiksu". Mungkin saja secara teknis pernyataan itu benar. Tapi
        gelar 'Rinpoche' itu sendiri adalah gelar yang sangat terhormat dalam
        Buddhisme Tibet, yang diberikan kepada guru-guru yang sangat terkenal.
        Apalagi kalau ditambah gelar "Tulku" (reincarnated Lama) yang disandang
        pula oleh Ferry. Padmasambhava sendiri disebut "Guru Rinpoche". Malah
        gelar "Jowo Rinpoche" diberikan kepada patung Sang Buddha Sakyamuni
        sendiri yang terdapat di Vihara Jokhang di Lhasa.

        Menurut saya, perbincangan tentang apakah Ferry itu "bhiksu" atau bukan
        "bhiksu" sama sekali tidak relevan dalam kasus dugaan keterlibatannya
        dengan narkoba dan kematian Alda. Alih-alih, perbincangan itu malah
        mengungkapkan persepsi-diri umat Buddha di Indonesia yang tidak tepat
        tentang manusia "bhiksu" yang "bebas dari kesalahan".

        ***

        Saya sendiri heran bahwa peristiwa itu begitu menggemparkan umat Buddha
        di Indonesia. Sebagai kontras, bila ada seorang pastor yang ketahuan
        menodai anak-anak muda pelayan altar secara seksual sampai dihukum oleh
        pengadilan di berbagai negara di Barat, apakah pimpinan GEREJA Katolik
        di sana juga gempar seperti ini? Saya rasa tidak.

        Bila ada bhikkhu-bhikkhu yang dipaksa lepas jubah karena main perempuan
        di Thailand--yang sering kita baca di koran-koran sana--apakah lantas
        Sangha Thailand membuat konferensi pers? Saya rasa tidak.

        Mungkin ada yang salah tentang persepsi-diri umat Buddha di Indonesia
        berkaitan dengan "kebhiksuan" . Berbagai pernyataan dan konferensi pers
        yang diadakan oleh pimpinan berbagai kelompok Buddhis mengesankan usaha
        cuci tangan membersihkan diri masing-masing. Kalau tangan tidak "kotor"
        mengapa pula harus dicuci? Bukankah lebih baik diam saja. Konferensi
        pers semacam itu hanya menyenangkan para wartawan saja. Belum lagi fakta
        bahwa berbagai pernyataan dan konferensi pers yang pernah diadakan
        sampai sekarang saya lihat tidak mengungkapkan seluruh kebenaran secara
        UTUH (the truth, the whole truth and nothing but the truth), dengan
        demikian tidak mencerahkan umat.

        Tapi tidak semua kelompok Buddhis mengeluarkan pernyataan atau
        mengadakan konferensi pers, kok. Mudah-mudahan dari peristiwa ini, dalam
        waktu tidak terlalu lama umat Buddha di Indonesia, dan masing-masing
        Majelis Agama Buddha di Indonesia, berhasil membenahi persepsi-dirinya,
        tidak lagi menempatkan manusia-manusia "bhiksu" sebagai spesies yang
        "bebas kesalahan", dan meningkatkan manajemen internalnya, termasuk
        self-criticism dan self-regulation, sehingga kejadian seperti ini tidak
        terulang lagi, termasuk menindaklanjuti berbagai laporan tentang
        "bhiksu-bhiksu" yang terlihat mengumpulkan uang di mal-mal, dsb.

        Dengan demikian keprihatinan Mas Hardi tidak perlu timbul lagi.

        Salam,
        Hudoyo

============================

Persepsi masyarakat dan umat Buddha sendiri bahwa seorang Bhiksu lantas bebas dari kesalahan/dosa/kriminalitas dan niat jahat adalah pandangan yang salah.
Hal ini sama saja mengibaratkan: kalau kita pakai jubah kuning lantas kita jadi orang suci atau dll.

Bhiksu sendiri hanyalah orang yang mendedikasikan dirinya untuk melatih ajaran Buddha secara total. Disebabkan itu, ia sepatutnya memiliki disiplin diri agar lebih memudahkan untuk memperoleh kemajuan batin. Namun masyarakat selalu memiliki mentalitas 'mengharapkan' terhadap kelompok monastik ini, terlebih lagi masyarakat di Indonesia yang kelompok bhiksu-nya masih berjumlah sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah umatnya yang bisa dikatakan sangat banyak. (mungkin 100 bhiksu untuk 2 juta umat). Umat Buddha di Indonesia sendiri masih sangat tradisionalis dan banyak pengharapan terhadap biksu biksu ini, beberapa bahkan mengidolakan mereka bagaikan superman saja.

Tertulis:
264. Bukan dengan kepala digunduli seseorang yang tidak disiplin dan tidak jujur menjadi seorang biarawan. Bagaimana orang yang penuh nafsu dan keserakahan menjadi seorang biarawan?

265. Dia yang telah menaklukkan kejahatan baik besar dan kecil bisa disebut sebagai biarawan, karena dia telah mengatasi segala kejahatan.

266. Dia buakn disebut biarawan hanya karena dia hidup dari sedekah orang lain. Dengan tidak menampilkan wujud luar atau penampilan luar (Not by adopting outward form) seseorang menjadi biarawan yang sejati.

salam
Pikiran adalah pendahulu, pikiran adalah pemimpin, segalanya diciptakan oleh pikiran. Apabila dengan pikiran yang bersih/suci seseorang berbicara atau berbuat dengan jasmani, maka kebahagiaan akan mengikuti si pelaku, seperti bayangan yang tidak pernah meninggalkan tubuh seseorang. (Dhp 1:2)

Offline The Watcher

  • Administrator
  • Mith'quessir
  • ********
  • Posts: 1227
  • Tidak ada kata ada kalau tidak ada kata tidak ada
    • View Profile
Re: Seputar Ferry "Bhiksu" or "Alda Risma"
« Reply #1 on: December 22, 2006, 09:53:48 AM »
Salam guradan

Quote
Umat Buddha di Indonesia sendiri masih sangat tradisionalis dan banyak pengharapan terhadap biksu biksu ini, beberapa bahkan mengidolakan mereka bagaikan superman saja

ga ada beda sama umat "islam" kok :), asal pake sorban dikit bergelar syekh atau imam maka dipuja puja, diciumi tangannya dan sebagainya, karena dipercaya  mempunyai "kunci" ke surga, tapi kebanyakan  ga tahu kalo mereka juga manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan kerap mempunyai banyak "harim" yang kemudian digunakan sebagai dasar  alasan poligami, atau dalam kasus lain ternyata korupsi, atau ketika diundang khutbah ada standar "harga" alias komersil  :D

kembali ke  kasus saya rasa yang konfrensi pers yang memakai "dewan" dari umat budhist sepertinya out of context, ga ada hubungannya sama sekali, ini masalah individu si ferry. Malah saya lihat terkesan membela dan mengidolakan sosok fery sebagai "tokoh" yang konon bisa saja ferry ini dan ferry itu :). Semestinya para "dewan tersebut" tidak ikut campur dalam hal ini karena akan semakin menimbulkan persepsi yang mungkin negatif ataupun positif karena manipulasi opini di mata masyarakat.
Asumsi liar saya sejauh ini mereka tahu keberadaan ferry saat ini.

Salam


Offline Guradan

  • Moderator
  • Peredhil
  • ********
  • Posts: 275
    • View Profile
Re: Seputar Ferry "Bhiksu" or "Alda Risma"
« Reply #2 on: December 22, 2006, 11:19:33 AM »
Salam guradan

kembali ke? kasus saya rasa yang konfrensi pers yang memakai "dewan" dari umat budhist sepertinya out of context, ga ada hubungannya sama sekali, ini masalah individu si ferry. Malah saya lihat terkesan membela dan mengidolakan sosok fery sebagai "tokoh" yang konon bisa saja ferry ini dan ferry itu :). Semestinya para "dewan tersebut" tidak ikut campur dalam hal ini karena akan semakin menimbulkan persepsi yang mungkin negatif ataupun positif karena manipulasi opini di mata masyarakat.
Asumsi liar saya sejauh ini mereka tahu keberadaan ferry saat ini.


Salam bro watcher,

Sebenarnya mungkin yang termasuk 'dewan' ini menggelar konperensi pers untuk damage control, dalam artian mereka sebenarnya takut bahwa masalah ini akan merusak nama 'agama' dan lebih buruk lagi bisa memicu 'keributan'. alasannya simpel kok: takut, takut, dan takut.
Situasinya pelik. Umat Buddha sendiri tahu banyak kasus dimana Bhiksu resmi (tapi jelas bukan yang sejati) pun banyak yang korupsi, melarikan diri lantas married, dll, tapi mereka hanya belum terbiasa dengan kalo seandainya kasus ini muncul di koran. Mereka takut sekali akan terjadinya umpan balik dari masyarakat yang sifatnya eh semena-mena.
Jika diandaikan yang jadi kurban bukan Alda Risma, melainkan yang levelnya lebih tinggi lagi pamornya, tentu sangat runyam...
We are just scared people here... Cuma mudah2an dengan adanya peristiwa ini ada hikmah yang bisa diambil...

jangan mengidolakan suatu status atau orang, tapi laksanakan kebenaran dalam ajaran


Pikiran adalah pendahulu, pikiran adalah pemimpin, segalanya diciptakan oleh pikiran. Apabila dengan pikiran yang bersih/suci seseorang berbicara atau berbuat dengan jasmani, maka kebahagiaan akan mengikuti si pelaku, seperti bayangan yang tidak pernah meninggalkan tubuh seseorang. (Dhp 1:2)

Offline The Watcher

  • Administrator
  • Mith'quessir
  • ********
  • Posts: 1227
  • Tidak ada kata ada kalau tidak ada kata tidak ada
    • View Profile
Re: Seputar Ferry "Bhiksu" or "Alda Risma"
« Reply #3 on: December 22, 2006, 11:45:34 AM »
Salam bro

Quote
jangan mengidolakan suatu status atau orang, tapi laksanakan kebenaran dalam ajaran

setuju, tapi yah ini yang sudah di doktrinkan dengan berjalannya tradisi.
Sang Budha saya yakin tidak mau dijadikan idola, dan tidak tahu apa apa yang diajarkannya dikotakan dalam phrase "agama" bukankah begitu bro?  ;D

oh iya mumpung di topik kebetulan saya lihat salah satu infotainment dimana ada seseorang bilang untuk menjadi biksu harus menjalani 253 sila? itu apa aja bro? banyak juga yah...

bro pernah nonton tentang yang lagi menjadi masalah di tibet ga di discovery channel beberapa bulan lalu, bahwa banyak sekali sekarang di sana yang mengaku ngaku reinkarnasi tokoh tokoh budha terkenal di masa lalu, cuma akhirnya ditemukan 3 orang saling mengklaim bahwa anaknya reinkarnasi tokoh yang sama, dan kasus serupa ditemukan juga beberapa anak mengklaim reinkarnasi tokoh yang lain sampai sampai para pihak pemerintah mengadakan investigasi untuk mencari mana yang benar dalam masalah ini, perkembangan statusnya gimana tau ga bro?

sama gw penasaran sama si ram bojan (spellnya pasti gw salah) (so called the boy with divine power ) yang bertapa selama 8 bulan tanpa makan dan minum  dan rencana mau sampai 6 tahun kalo ga salah untk mencapai level budha sampai heboh waktu itu, daerahnya yang tadi sepi jadi pusat keramaian dsb dan kemudian menghilang?  menurut kabar dia hilang begitu aja tapi menurut kabar miring katanya keluarganya sang kaka telah mengumpulkan uang yang sangat banyak dari aksi adiknya itu dan karena pemerintah mau menginvestigasi akhirnya secara misterius hilang?


Salam

Offline adley

  • Global Moderator
  • Elandili
  • ********
  • Posts: 914
  • Call me 'Adley' or 'Ele' -- your pick.
    • View Profile
    • Allah-Semata
Re: Seputar Ferry "Bhiksu" or "Alda Risma"
« Reply #4 on: December 22, 2006, 01:00:12 PM »
Peace Fan,

Nonton infotainment juga lu? Gak percaya gw hahahaha :D
Atau cuman dapet dari milis aja hehe?

Sebetulnya gak usah heran sih yang kayak gini.
Itulah produk dari agama. Sadar gak sadar, terima gak terima, agama pasti akan melahirkan kondisi dimana seseorang yang telah memiliki seperangkat aksesoris tertentu, diharuskan begini dan begitu tanpa celah.

Label, label, dan label. ;D

=adley=
Klik untuk membantu mereka yang kelaparan tanpa dikenakan biaya apapun --> Mohon anda klik sehari sekali.

If you want to come to me as a human, leave your religion at the door.

Offline The Watcher

  • Administrator
  • Mith'quessir
  • ********
  • Posts: 1227
  • Tidak ada kata ada kalau tidak ada kata tidak ada
    • View Profile
Re: Seputar Ferry "Bhiksu" or "Alda Risma"
« Reply #5 on: December 22, 2006, 01:18:49 PM »
Salam

kadang2 di infotainment itu bisa lihat dian sastro, mariana renata, dan asty ananta huhuhuhuhu

Salam

Offline Guradan

  • Moderator
  • Peredhil
  • ********
  • Posts: 275
    • View Profile
Re: Seputar Ferry "Bhiksu" or "Alda Risma"
« Reply #6 on: December 22, 2006, 01:32:07 PM »

setuju, tapi yah ini yang sudah di doktrinkan dengan berjalannya tradisi.
Sang Budha saya yakin tidak mau dijadikan idola, dan tidak tahu apa apa yang diajarkannya dikotakan dalam phrase "agama" bukankah begitu bro?? ;D

Memang demikianlah adanya. Semua agama bernasib sama ?:crybaby:
KLARIFIKASI: INFOTAINMENT ITU RACUN BERSALUT GULA. Gue cuma tahunya pas nunggu Bus ada yang jual WARTA KOTA berjudul (kalo ga salah): Tersangka Kasus Alda adalah Biksu Tibet, dan terus terang gue langsung ngakak  ;D 

oh iya mumpung di topik kebetulan saya lihat salah satu infotainment dimana ada seseorang bilang untuk menjadi biksu harus menjalani 253 sila? itu apa aja bro? banyak juga yah...

Karena gue kaga pernah jadi biksu, g quote aja yang sebenarnya gue tahu mengenai aturan perilaku biksu (harap dipahami bahwa gue quote cuma dari sisi sekte Theravada saja):
1. dilarang membunuh
2. dilarang berbuat asusila, dalam kaitan dengan bhikkhu pasal ini disebut : harus menjalankan kehidupan suci atau dengan kata lain abstain seksualitas secara total
3. dilarang mengucapkan kata2 yang tidak benar (bergunjing, berbohong, berkata kasar, memecah belah, dll)
4. dilarang menggunakan perhiasan,dll;
5. dilarang terlibat dalam permainan baik yang bersifat keahlian maupun peluang (intinya yang ada unsur menang dan kalahnya), juga termasuk sulapan maupun demonstrasi tenaga batin  ;D
6. dilarang mengunjungi pertunjukan musik, menonton acara2 yang bersifat hiburan, dll
7. dilarang menggunakan alas tidur yang tinggi atau yang terlalu nyaman
8. dilarang mengkonsumsi zat2 yang bisa menyebabkan lemahnya kesadaran
9. dilarang mengambil barang yang tidak diberikan
10. dilarang memegang uang, atau diberi kekuasaan memegang keuangan, termasuk dagang, yayasan, dll
11. dilarang menyimpan makanan (nyetok)
12. dilarang menebang pohon, merusak tanaman atau biji2an (tapi kalau kuil shaolin bisa bertani, theravada tidak boleh)
13. dilarang membawa tongkat atau senjata dan
14. dilarang berceramah di depan umat yang bawa tongkat (yang buat mukul) atau senjata

nah peraturan2 lainnya lebih ke arah hubungan antar bhikku, hub. dengan umat, ritual-ritual pokok seperti: mengaku mengenai pelanggaran yang diperbuat ke bhiksu senior sekali sebulan (yang katanya dikopi kaum kristiani), peraturan di masa vassa atau musim hujan, dll.

mengenai aturan ini ada hal yang menarik dikatakan oleh sesepuh agama Buddha: Achaan Chah, beliau bilang melaksanakan 250 aturan lebih memang sulit, bagi beliau sebenarnya cuma ada 1 aturan: yaitu kemanapun kamu pergi kamu harus memiliki sati atau kewaspadaan. Jika kamu memiliki sati, kamu takkan melanggar satu peraturan pun.

Lalu mengenai ram boja...
Ummm sayangnya saya tidak nonton acara ini dan tidak tahu apa-apa sama sekali. Mengenai reinkarnasi, saya berpendapat bahwa hal ini sama sekali tak bermanfaat buat dibahas; apakah si itu adalah dulunya si anu atau si ene; karena bakal berbuntut masalah dan spekulasi kaya masalah di atas, apalagi kalau sampai buat mengumpulkan uang. Di Tibet, topik mengenai reinkarnasi ini sebenarnya berakar pada tradisi. Jadi if you think like a tibetan, then reincarnation is of course possible. Ini cuma masalah mind aja pada akhirnya.

Pada akhirnya, pemerintah cina sangat ikut campur masalah siapa reinkarnasi si anu atau inu, karena itu berarti mereka bisa mengendalikan rakyat tibet secara politis. Sikap cina sih masih tetap sama: barang siapa yang mau main 'agama' main saja, tapi begitu mulai menggunakan 'agama' untuk politik, maka langsung diganyang seperti falun gong. ?
« Last Edit: December 22, 2006, 03:58:38 PM by Guradan »
Pikiran adalah pendahulu, pikiran adalah pemimpin, segalanya diciptakan oleh pikiran. Apabila dengan pikiran yang bersih/suci seseorang berbicara atau berbuat dengan jasmani, maka kebahagiaan akan mengikuti si pelaku, seperti bayangan yang tidak pernah meninggalkan tubuh seseorang. (Dhp 1:2)

Offline Guradan

  • Moderator
  • Peredhil
  • ********
  • Posts: 275
    • View Profile
Re: Seputar Ferry "Bhiksu" or "Alda Risma"
« Reply #7 on: December 22, 2006, 01:35:21 PM »
Oh ya ada quote menarik lagi:

Mao Tse Tung saat berbicara dengan Dalai Lama:

Agama itu racun (Religion is poison)

Pikiran adalah pendahulu, pikiran adalah pemimpin, segalanya diciptakan oleh pikiran. Apabila dengan pikiran yang bersih/suci seseorang berbicara atau berbuat dengan jasmani, maka kebahagiaan akan mengikuti si pelaku, seperti bayangan yang tidak pernah meninggalkan tubuh seseorang. (Dhp 1:2)

Offline archaeopteryx

  • Naugrim
  • *
  • Posts: 70
    • View Profile
Re: Seputar Ferry "Bhiksu" or "Alda Risma"
« Reply #8 on: December 22, 2006, 01:39:08 PM »
Salam

kadang2 di infotainment itu bisa lihat dian sastro, mariana renata, dan asty ananta huhuhuhuhu

Salam

"watcher, juga, manusia,"  :laugh:
Q29:20 "Katakan: 'Berjalanlah di bumi dan lihatlah bagaimana Allah memulai penciptaan!'

Offline The Watcher

  • Administrator
  • Mith'quessir
  • ********
  • Posts: 1227
  • Tidak ada kata ada kalau tidak ada kata tidak ada
    • View Profile
Re: Seputar Ferry "Bhiksu" or "Alda Risma"
« Reply #9 on: December 22, 2006, 01:43:36 PM »
Salam

hehehe thanks atas infonya bro ?:facewink:
soal ram boja, itu seru saya wondering aja kemana akhirnya itu bocah, apa bener bener hilang setelah mengalami tahapan tertentu atau memang hanya scam saja untuk mengumpulkan uang.

i agree with you bro, it's a matter of perception of human mind :)

Salam

Offline The Watcher

  • Administrator
  • Mith'quessir
  • ********
  • Posts: 1227
  • Tidak ada kata ada kalau tidak ada kata tidak ada
    • View Profile
Re: Seputar Ferry "Bhiksu" or "Alda Risma"
« Reply #10 on: December 22, 2006, 01:46:56 PM »
Salam

kadang2 di infotainment itu bisa lihat dian sastro, mariana renata, dan asty ananta huhuhuhuhu

Salam

"watcher, juga, manusia,"? :laugh:

weks... ;D

Offline The Watcher

  • Administrator
  • Mith'quessir
  • ********
  • Posts: 1227
  • Tidak ada kata ada kalau tidak ada kata tidak ada
    • View Profile
Re: Seputar Ferry "Bhiksu" or "Alda Risma"
« Reply #11 on: December 22, 2006, 02:02:43 PM »
Salam

bro guradan gw lupa kasih link soal si Ram Bomjon ( ternyata gw salah nulis namanya  :bang:)


http://en.wikipedia.org/wiki/Ram_Bomjon


salam

Offline Guradan

  • Moderator
  • Peredhil
  • ********
  • Posts: 275
    • View Profile
Re: Seputar Ferry "Bhiksu" or "Alda Risma"
« Reply #12 on: December 22, 2006, 03:48:26 PM »
Umm...
Ok. gue udah baca sekilas mengenai Rom. Pendapat gue: I totally don't know...
Bisa saja bodhisatta... Bisa juga bukan... who knows... Tapi juga tidak benefit juga untuk mengetahui.
Menurut gue, perjalanan spiritual itu memang lucu, dan kaya racing. Bedanya startnya beda-beda dan you couldn't possibly know siapa ada di mana dan kapan, karena itu justru letak kesesatannya...

Mengenai pencapaian whatever level gue sih lebih cenderung mengatakan bahwa jika ada yang mendeclare dia sudah tahap ini atau itu, maka harus selalu dilihat dengan kacamata skeptis, sampai kita membuktikan sendiri ajarannya. (Guru-guru sang Buddha dulu pun mengaku sudah Arahat semua... ;D)

Ini gue share cerita lucu.

Ada Bhikkhu dari jaman modern (beberapa puluh tahun yang lalu), yang pergi bersama rekan biksu lainnya untuk berlatih bersama ke sebuah bukit. Ketika mereka melatih meditasi sekitar tengah malam, biksu ini mengira dia sudah 'menembus Dhamma' dan menjadi Arahat, tetapi apa yang tengah dia teliti dalam meditasi kita tidak ada yang tahu. Tangannya segera meraba tas tangannya dan dia mengeluarkan peluit dan meniupnya ? Peep! Dua biksu lainnya yang bersama dengannya di bukit itu segera berlari mencarinya karena mereka tidak tahu bahaya apa yang menimpanya. Mereka tidak pernah mengira bahwa jika biksu ini berhasil 'menembus Dhamma' dia akan meniup pluit.

"Hei, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa. Saya hanya telah mencapai."
"Heck! Apa yang telah kamu capai?"
"Saya telah mencapai tahap Arahat/Buddha!"
Dua biksu lainnya tidak berkata apa-apa? mungkin mereka tidak tega mengatakan apapun. Isu pencapaian arahat ini memang mungkin oke dibicarakan tetapi hal yang lebih penting adalah, "O-ho! Setelah mencapai arahat; dia segera meniup peluit dan memanggil. Tahapan macam apaan ini?" adalah keraguan mereka tetapi mereka tidak bicara apapun karena setelah memikirkan mengenai hal ini macam-macam, mereka malah cuma lelah sendiri.

Kemudian, suatu malam, sekali lagi sekitar tengah malam, dua Biksu ini mendengar kembali suara pluit. Mereka pikir, "Orang ini barangkali telah mencapai nobody knows what level now!" Tetapi mereka tidak bisa tidak pergi, karena mereka bertiga hidup bersama, dan jika ada bahaya beneran, merupakan tugas mereka saling membantu. Jadi keduanya kembali mencari biksu yang meniup peluit dan mereka berkata kepadanya:

"Kamu meniup peluit lagi. Kali ini, tahapan macam apa lagi yang telah kau capai? Apakah kamu telah mencapai tahap kegilaan, karena entah arahat atau apapun, kamu telah mengganggu kami."
Kali ini si biksu mengumumkan: "Kemarin malam saya salah berpikir saya telah mencapai tahap Arahat, jadi saya tiup pluit untuk memanggil kalian karena saya sangat senang. Tetapi malam ini ketika saya periksa, saya menemukan bahwa saya belum mencapai arahat jadi saya meniup peluit supaya kamu tahu saya belum mencapai."
Dua orang biksu tadi melihat sisi lucu dari itu dan merasa kasihan dengan kegilaan dari "whistling arahant." Mereka menceritakannya ke biksu lain sampai jadi cerita yang sangat terkenal.
Pikiran adalah pendahulu, pikiran adalah pemimpin, segalanya diciptakan oleh pikiran. Apabila dengan pikiran yang bersih/suci seseorang berbicara atau berbuat dengan jasmani, maka kebahagiaan akan mengikuti si pelaku, seperti bayangan yang tidak pernah meninggalkan tubuh seseorang. (Dhp 1:2)

Offline The Watcher

  • Administrator
  • Mith'quessir
  • ********
  • Posts: 1227
  • Tidak ada kata ada kalau tidak ada kata tidak ada
    • View Profile
Re: Seputar Ferry "Bhiksu" or "Alda Risma"
« Reply #13 on: December 23, 2006, 05:09:45 PM »
Salam guradan

konyol juga  si "whistling arahant" itu

Quote
Dua biksu lainnya tidak berkata apa-apa? mungkin mereka tidak tega mengatakan apapun. Isu pencapaian arahat ini memang mungkin oke dibicarakan tetapi hal yang lebih penting adalah, "O-ho! Setelah mencapai arahat; dia segera meniup peluit dan memanggil. Tahapan macam apaan ini?" adalah keraguan mereka tetapi mereka tidak bicara apapun karena setelah memikirkan mengenai hal ini macam-macam, mereka malah cuma lelah sendiri.

LOL.. :facelaughing:

salam

Offline Guradan

  • Moderator
  • Peredhil
  • ********
  • Posts: 275
    • View Profile
Re: Seputar Ferry "Bhiksu" or "Alda Risma"
« Reply #14 on: December 28, 2006, 04:26:31 PM »
Tuh muncul lagi...  ;D

http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2006/12/26/AR2006122600023.html

dan yang nulis artikel ini pasti ga pernah belajar buddhisme. Ampun deh  :prostrate:
Reinkarnasi dari sang Buddha? Ngapain sang Buddha reinkarnasi lagi?  ::) Apa mau mengulang lagi seluruh lingkaran samsara-nya? 
Pikiran adalah pendahulu, pikiran adalah pemimpin, segalanya diciptakan oleh pikiran. Apabila dengan pikiran yang bersih/suci seseorang berbicara atau berbuat dengan jasmani, maka kebahagiaan akan mengikuti si pelaku, seperti bayangan yang tidak pernah meninggalkan tubuh seseorang. (Dhp 1:2)