Author Topic: adakah tata cara shalat menurut Alquran? gerakan, bacaan?  (Read 21923 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline jawa97

  • Glamhoth
  • Posts: 7
    • View Profile
adakah tata cara shalat menurut Alquran? gerakan, bacaan?
« on: December 09, 2006, 11:49:49 AM »
salama,

saya mohon pembahasan : :wave:


Shalat Menurut Al-Qur?an
 
shalat umat Islam dikatakan telah diajarkan oleh Rasul. Maka ia adalah Sunnah Rasul. Para ulama tidak pernah mengakui bahawa shalat adalah ?Sunnah? Allah, yaitu suatu amalan yang diajarkan Allah melalui Kitab-Nya, al-Qur?an. Sebaliknya mereka selalu berkata "Adakah cara shalat di dalam al-Qur?an!"
Penulisan ini menjawab soalan tersebut. Di dalam jawaban ini, segala keterangan dirujuk kepada al-Qur?an saja, dan keterangan yang akan dikemukakan akan menyinggung perasaan karena berbeda dengan amalan shalat biasa umat Islam. Segala sesuatu yang dikemukan bukanlah untuk membuktikan bahwa umat Islam salah, tetapi sekadar untuk menyatakan apa yang terkandung di dalam al-Qur?an mengenai shalat, dalam pengertian yang sebenarnya.



Nama dan Waktu

Prihal mengenai waktu pada umumnya kita mengenal dengan istilah : fajar, pagi, siang, sore, senja, malam, tengah malam(kedalaman malam). Sama dengan istilah Subuh, pagi, zuhur, ashar, magrib, isya, Tahajjud.

Penjelasan dimulakan dengan memperihalkan nama bagi tiap-tiap shalat. Terdapat nama shalat di dalam al-Qur?an, iaitu shalat Fajar(subuh) (24:58) dan (81:18, ketika waktu langit terlihat terang tetapi matahari belum mncul) , shalat wusthaa, atau shalat yang di tengah (2:238). dan shalat Isya (24:58),  begitu juga dengan shalat Jum?at (62:9) dan shalat Tahajjud (17:79) nama shalat ini menunjukkan waktunya juga. Waktu-waktunya dijelaskan lagi dengan sebuah ayat lain berbunyi:

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).  (17:78).

Artinya ketika matahari tergelincir persis berada diatas kepala kita, yaitu perintah untuk melaksanakan shalat sampai kegelapan malam.

Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (11:114)

Perkenaan mengenai "wusta" ingin diperjelaskan lagi di sini. Ia bermakna "di tengah",  maksudnya adalah waktu pada kedua tepi siang,(diantara pagi dan petang) yaitu biasa disebut (Zuhur dan Ashr). Dan pada permulaan bagian malam dikenali umum sebagai waktu maghrib.

maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (4:103)

Oleh kerana itu al-Qur?an menjelaskan sendiri, selanjutnya dijelaskan dengan sebuah ayat berbunyi:
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (17:79)

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. (73:20)

Sedikit menjelaskan mengenai shalat Tahajjud atau shalat yang ditambahkan  :
Ayat diatas Tuhan mengatakan bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan jelaslah ayat diatas mengatakan ?Perintah? ibadah tambahan yang fardhu, kenapa dikatakan fardhu? ?Coba kita ambil sebuah perumpamaan seorang majikan menyuruh kepada budaknya untuk melakukan perintah kepadanya ?tolong tambahkan air itu kedalam bejana pada setiap malam hari? dan perintah itu dijadikan suatu ketetapan yang syah.? Jadi jelaslah apa yang dikatakan Tuhan bahwa sekalipun itu adalah tambahan tapi menjadikan suatu ketetapan maka itu dikatakan wajib atau fardhu

Jadi Shalat menurut Alquran itu ada 6 waktu, yaitu Fajar(subuh), Zuhur(siang), Ashr(sore), Magrib(senja), Isya(gelap malam) dan Tahajjud(tengah malam). Dan kesemuanya dikatakan Wajib

Jadi pernyataan diatas menjelaskan tidak ada nama-nama shalat, hanya diwaktu-waktu tersebut ada perintah untuk melaksanakan shalat, maka shalatlah kamu seperti Allah telah mengarjakan orang-orang terdahulu shalat?.
Artinya bahwa apa yang kita sudah kenal umumnya bahwa Shalat itu 5 waktu dan hukumnya adalah wajib, begitupun tambahan shalat yang diberikan Allah untuk dikerjakan hukumnya pun wajib(fardhu), jadi keseluruhan dari shalat kita menjadi 6 waktu, bukan lagi 5 yang biasa umat Islam jalani

Ketentuan dan Waktu Shalat

shalat hendaklah dilakukan pada waktu-waktu yang Allah tentukan, seperti arahan-Nya yang berbunyi:
Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (4:103)

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (4:103)

Tiada terdapat pula satu ayat pun di dalam al-Qur?an yang memperbolehkan shalat itu dilakukan pada waktu yang bukan waktunya, seperti menjamakkannya(yaitu menggabungkan dua shalat Fardhu menjadi Satu).Walau dalam keadaan apapun shalat hendaklah dikerjakan pada waktu-waktunya.Ayat yang berikut menjelaskannya:

Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (2:239)

Tetapi Shalat itu bisa di qashar atau dikurang kan dari raka?atnya
?Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.? (Q.S.4:101)

Perkenaan mengenai shalat Tahajud yaitu :
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. (73:20)

Jelas sekali dikatakan diatas bahwa shalat ini dikatakan bagian dari shalat yang diwajibkan(fardhu), yaitu pelaksanaan dua pertiga malam(sekitar jam 3 pagian), seperdua malam(jam 12 malam) atau sepertiga malam(yaitu sekitar jam 10 malam)
Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu (73:20)

Begitupun, daripada ayat tersebut, umat diingatkan supaya melakukan shalat seperti yang diajar oleh Tuhan - segala ajaran Tuhan terkandung di dalam al-Qur?an.


Rakaat

?Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.? (Q.S.4:101)

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu. (Q.S.4:102)

Prihal mengenail rangkaian dari shalat ialah : Berdiri, ruku?, dan sujud
Dijelaskan bahwa mengenai raka?at tersebut diatas yaitu sebanyak dua rakaat, Allah memberikan perumpamaan bahwa dalam keadaan perangpun Allah mewajib kan (shalat yang fardhu). Perumpamaan diatas menjelaskan bagaimana bentuk shalat yang di-qashar 

Wudhu

Prihal mengenai tatakrama dalam shalat ialah berwudhu.
Mengenai wudhu juga (perkataan " wudhu " tidak disebut di dalam al-Qur'an), hanya empat bahagian anggota badan yang terlibat, yaitu muka, tangan, kepala, dan kaki. Ini dijelaskan dengan ayat yang berikut:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, Allah hendak menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (5:6)

Ayat ini telah juga disebut oleh Rasul, dan beliau tidak mungkin menambah bahagian-bahagian anggota yang lain dalam wudhu kerana jika beliau berbuat demikian maka Allah akan membunuhnya. Firman-Nya

Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. (69:43-46)

Kiblat

Kiblat menurut al-Qur?an ialah Masjidil Haram, yang di tengahnya terletak Ka?ba. Rasul sendiri telah mencari-carinya dahulu lalu Allah menunjukkan kepadanya melalui ayat yang berikut:
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan (2:144)

Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk. (2:150)


Pakaian

Pakaian untuk shalat adalah yang baik atau cantik kerana ketika itu umat berhadapan serta berkomunikasi dengan Penciptanya. Malahan, Allah telah menyuruh mengambil perhiasan di setiap masjid, yang bermaksud tempat sujud. Dan sujud dilakukan juga dalam shalat. Firman-Nya,
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki)mesjid. (7:31).


Berkomunikasi

shalat adalah suatu cara istimewa dalam berinteraksi dengan Allah kerana Ia dimulakan dengan membersihkan bahagian-bahagian anggota badan  tertentu. Satu daripada tujuan umat berkomunikasi dengan-Nya adalah untuk memohon pertolongan. Firman-Nya:
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu' (2:45)

Mohonlah kepada-Nya. Sebaik-baiknya permohonan adalah menurut apa yang diajarkan di dalam Al-Qur?an. Shalat bukan saja masa untuk memohon pertolongan tetapi juga suatu masa untuk mengingati-Nya. Ini dijelaskan dengan sebuah ayat lain berbunyi
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (20:14)


Bahasa

Dia melarang melakukan shalat jika apa yang diucapkan di dalamnya tidak difahami. Firman-Nya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan (4:43)

Artinya jika kita Shalat membacakan ayat-ayat Tuhan di haruskan kita mengerti daripada artinya(kandungannya). Misalkan apa yang kita baca Surat Al-iklas : "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara  dengan Dia." Jangan sampai kita baca Ayatnya dalam bahasa Arab kita tidak mengerti Ucapannya(isi atau artinya) Begitupun dengan ayat-ayat yang lainnya yang terdapat di Alquran.
Setelah dilarang mengerjakan shalat apabila segala yang diucapkan tidak difahami dan seseorang itu terus melakukannya juga, maka apakah hukumnya? Ingin diingatkan di sini bahawa Iblis telah menjadi kafir setelah mengingkari hanya satu (saja) perintah Allah! Maka ia dikatakan ?KAFIR?


Suara

Nada suara dalam shalat tidaklah terlalu tinggi dan tidak pula terlalu rendah tetapi di pertengahan, dan ini berlaku untuk semua shalat. Firman-Nya:
dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu." (17:110)


Seruanya

Shalat dimulai dengan menyeru Nama-Nya, seperti Allah, atau Ar-Rahman (Yang Pemurah) atau mana-mana nama-Nya yang indah yang diajar di dalam al-Qur?an. Firman-Nya:
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik)" (17:110)

Ayat yang berikutnya menetapkan apa yang harus diucapkan selepas seruan itu, yaitu:
Dan katakanlah: "Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya. (17:111)



Gerakan dan Bacaannya

Berdiri, rukuk (tunduk) dan sujud disebut berulang kali di dalam al-Qur?an :

Pertama   :   Berdiri hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah? (30:30)  lalu
                                                 menyeru dengan nama Allah (al asmaaul husna) Allahu akbar atau Ar rahman atau lainnya(
                                                 (20:8).   lalu
                                                 Mengucapkan ?sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk
                                                Allah, Tuhan semesta alam.?
(6:162).

                                                 Membaca Al-Fatihah(15:87). kemudian diteruskan dengan membaca Ayat yang terdapat didalam 
                                                Alquran menurut keperluannya (suratnya boleh pendek atau panjang).
(73:20).


Kedua   :   Ru?ku dan membaca Subhana rabbial azim (maha suci Allah (69:52).

Ketiga   :   Sujud dan membaca Subhana rabbial a?la (maha suci Allah). (87:1).

                                kembali berdiri dan mengulangi seperti diatas. (untuk rakaat yang kedua)

Keempat   :   Duduk dan membaca ?Subhanakallahumma? (10:10) lalu

                                ?Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat 
                                Yang Paling Baik.? (23:109) lalu
                                "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha 
                                 Mengetahui". (2:127) lalu

Kelima    :   Penutupnya mengucapkan ?Salam, Alhamdulilaahi Rabbil 'aalamin" (10:10)

Keenam   :   Bertasbih Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari
                                dan setiap selesai sembahyang. (50:40)    



Inilah shalat yang diajarkan menurut Alquran yang juga dikerjakan oleh Nabi dan Rasul sebelum Muhammad. Berkenaan tulisan yang berwarna biru itu merupakan inti dari rangkaian dan tuntunannya sedangkan ayat-ayat doa yang ada didalam nya sesuai dengan kehendak dan keiginan serta keperluannya.


Tambahan : Doa yang biasa di baca ketika dalam bacaan shalat Tahajjud yaitu :
"Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong dan "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap." Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (17:80-81)


Shalatnya orang Mukmin

Surat  Al Mu?minuun ayat 1-11
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki,maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya

Larangan

Satu lagi larangan yang di dalam shalat (selain ucapan yang tidak difahami) yang termaktub di dalam al-Qur?an ialah menyeru, atau menyebut, nama-nama yang selain daripada Nama-Nya. Hanya Nama Allah disebut di dalam shalat. Ini difahamkan daripada ayat yang berikut berbunyi:
?Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.? (72:18)

Penutup

Banyak perkataan mengenai shalat menurut ajaran Tuhan di dalam al-Qur'an di sini. Tentulah ia dapati bertentangan dengan ajaran para ulama yang menyatakan shalat mereka datang dari Rasul atau sunnahnya. Jadi alhasil buat apalagi kita harus mempercayai kitab-kitab atau hadis-hadis yang tidak pernah jelas keberadaanya yang katanya adalah di dalam kelima-lima kitab hadis terbesar di dunia mengikuti perintah Rasulnya.


Mohon kritikan jika banyak terdapat kelemahan, agar  39:18 menjadi jelas permaknaannya, terimakasih

Salam
QQ





                                                 







Offline adley

  • Global Moderator
  • Elandili
  • ********
  • Posts: 914
  • Call me 'Adley' or 'Ele' -- your pick.
    • View Profile
    • Allah-Semata
Re: adakah tata cara shalat menurut Alquran? gerakan, bacaan?
« Reply #1 on: December 12, 2006, 07:55:50 AM »
Salaam QQ,

Mengenai "tata cara" shalat, bagi saya itu harus berpulang kembali kepada masing-masing individu. Namun, sepemahaman saya yang sekarang, selama yang kita kejar adalah "ritual fisik" maka besar sekali kemungkinan kita akan kehilangan gambar yang lebih besar dari konsep shalat tersebut.

Menurut saya, jauh lebih baik bagi seseorang untuk memulai dengan memahami tujuan dan makna shalat secara mandiri tanpa terkait dengan pre-konsepsi atau "aturan keagamaan" yang sudah terlanjur tertanam mantap, mungkin sejak kecil. Artikel pendek yang saya tulis, Memahami Makna Shalat, adalah sebuah bahan yang sengaja saya tulis dengan lebih menitik-beratkan kepada tujuan dan makna shalat, ketimbang hal-hal yang berbau "tata cara".

Sehingga kalau saya ditanya mengenai gerakan dan bacaan, jawabannya adalah tergantung si penanya memahami shalat sebagai apa. Kalau saya bilang gerakannya harus membungkuk, berlutut, menempelkan dahi di lantai, atau menempelkan dagu di lantai, apakah si penanya mampu melakukannya apabila kebetulan dia tidak bisa melakukan gerakan-gerakan tersebut karena tulang punggung yang bermasalah? Dan kalau dibilang boleh saja karena sakit, adakah ayat yang mendukung pernyataan tersebut?

Sehingga bagi saya semua bermuara kembali kepada memahami shalat secara literal dan bukannya ritual. Apabila seseorang ingin menjadikannya ritual, dan itu bermanfaat baginya, maka sangat bagus itu. Tapi ada juga orang yang hanya bisa memahaminya secara baik bila konsep "ritual gerakan fisik" itu tidak terlalu dipentingkan.

=adley=
Klik untuk membantu mereka yang kelaparan tanpa dikenakan biaya apapun --> Mohon anda klik sehari sekali.

If you want to come to me as a human, leave your religion at the door.

Offline jawa97

  • Glamhoth
  • Posts: 7
    • View Profile
Re: adakah tata cara shalat menurut Alquran? gerakan, bacaan?
« Reply #2 on: January 14, 2007, 01:37:43 AM »
salam ele,

untuk orang yang tidak mampu melakukan salat dalam bentuk gerakan, untuk awalnya adalah 20:14 jadi 3:191 dan 4:103 dalam melaksanakan shalat tidak harus dalam bentuk ritual fisik 2:239 untuk mengetahui adanya bentuk gerakan fisik 4:101-102. jadi Alquran adalah alfurqon oleh karena itu antara shalat yang dilakukan menurut Alquran dan shalat yang bukan dari Alquran 2:185atas  sudah jelas perbedaannya, mengapa demikian karena 26:218-219 jadi menurut pandangan saya jelas kata shalat memiliki bentuk tata cara gerakan dan bacaannya, seperti sudah saya jelaskan di atas. mengenai prihal makna dari shalat itu benar sekali dan berkomitmen saya setuju, karena orang yang sudah mendapati Alquran dia sudah berkomitmen dengan sang penciptanya untuk menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya sesuai dengan kitabnya.


Offline kent

  • Nogoth
  • **
  • Posts: 159
    • View Profile
Re: adakah tata cara shalat menurut Alquran? gerakan, bacaan?
« Reply #3 on: January 14, 2007, 09:18:47 AM »
Salam damai,

terjemahan literal
2:218
Allathee        = yang
yaraka          = mereka melihat
heena           =  ketika
taqoomu       =  kamu tegas (stand firm)

2:219
Wataqallubaka  =  dan kamu berbalik (to and frow)
Fee                 =   dalam/dikalangan
Alssajideena     =    orang orang yang patuh

Offline adley

  • Global Moderator
  • Elandili
  • ********
  • Posts: 914
  • Call me 'Adley' or 'Ele' -- your pick.
    • View Profile
    • Allah-Semata
Re: adakah tata cara shalat menurut Alquran? gerakan, bacaan?
« Reply #4 on: January 14, 2007, 12:08:17 PM »
Salaam,

Jika seseorang telah berkomitmen teguh untuk menjalankan esensi dari alqur'an, apakah "gerakan ritual" masih dibutuhkan?
Ini tergantung kepada cara pandang masing2 memang.
Namun saya pribadi, lebih menekankan pentingnya makna dan tujuan shalat secara non-fisik/non-ritual terprogram ketimbang sebaliknya.
Tentu saja, bagi yang merasakan gerakan fisik itu diharuskan, maka lakukanlah.
Karena tujuannya kan 20:14 dan 29:45 ;D

=adley=
Klik untuk membantu mereka yang kelaparan tanpa dikenakan biaya apapun --> Mohon anda klik sehari sekali.

If you want to come to me as a human, leave your religion at the door.

Offline The Watcher

  • Administrator
  • Mith'quessir
  • *********
  • Posts: 1226
  • Tidak ada kata ada kalau tidak ada kata tidak ada
    • View Profile
Re: adakah tata cara shalat menurut Alquran? gerakan, bacaan?
« Reply #5 on: January 15, 2007, 01:43:21 PM »
Salaam,

Jika seseorang telah berkomitmen teguh untuk menjalankan esensi dari alqur'an, apakah "gerakan ritual" masih dibutuhkan?
Ini tergantung kepada cara pandang masing2 memang.
Namun saya pribadi, lebih menekankan pentingnya makna dan tujuan shalat secara non-fisik/non-ritual terprogram ketimbang sebaliknya.
Tentu saja, bagi yang merasakan gerakan fisik itu diharuskan, maka lakukanlah.
Karena tujuannya kan 20:14 dan 29:45 ;D

=adley=

Salam

mengingat definisi shalat saya, terus terang saya masih melakukannya sekali kali (baca:gerakan fisik), tidak ada salahnya kok :)
walaupun dengan demikian menurut saya gerakan fisik itu bukan suatu keharusan, "tempat sujud" yang hakiki itu adanya di dalam.

Salam

Offline nora

  • Peredhil
  • ***
  • Posts: 346
    • View Profile
Re: adakah tata cara shalat menurut Alquran? gerakan, bacaan?
« Reply #6 on: January 15, 2007, 01:55:28 PM »
Salam,
Quote
mengingat definisi shalat saya, terus terang saya masih melakukannya sekali kali (baca:gerakan fisik), tidak ada salahnya kok Smiley
walaupun dengan demikian menurut saya gerakan fisik itu bukan suatu keharusan, "tempat sujud" yang hakiki itu adanya di dalam.
just curious kalau secara fisik hendak menghadap kemana?

Offline The Watcher

  • Administrator
  • Mith'quessir
  • *********
  • Posts: 1226
  • Tidak ada kata ada kalau tidak ada kata tidak ada
    • View Profile
Re: adakah tata cara shalat menurut Alquran? gerakan, bacaan?
« Reply #7 on: January 15, 2007, 02:33:36 PM »
Salam,
Quote
mengingat definisi shalat saya, terus terang saya masih melakukannya sekali kali (baca:gerakan fisik), tidak ada salahnya kok Smiley
walaupun dengan demikian menurut saya gerakan fisik itu bukan suatu keharusan, "tempat sujud" yang hakiki itu adanya di dalam.
just curious kalau secara fisik hendak menghadap kemana?

Salam nora
hihihi sudah saya duga pasti akan muncul pertanyaan ini, salah saya juga sih tidak menjelaskan.
nora, adakah  saya bilang diatas "gerakan fisik" atau "gerakan ritual" seperti trads shalat  ;D?
gerakan fisik yang dimaksud adalah apa apa yang saya lakukan secara fisik untuk keselamatan saya, contoh : olahraga, krn badan saya gemuk/ maka untuk kesehatan diri sendiri agar bisa mensyukuri nikmat Allah, saya excercise, dan di kali lain kadang kadang saya harus bekerja yang melelahkan fisik untuk sekedar mencari sesuap nasi agar tetap hidup  :facewink:, tapi sering kali hanya duduk dan mengerjakan laporan  :facetongue:, i hope u get it

tapi memang saya kadang melakukan gerakan yang mungkin bersifat "ritual" juga, dan yang pasti tidak harus menghadap kiblat, ritual yang dimaksud bagi saya adalah berdiam diri ( kadang sambil ngerokok dan kopi ) melihat alam dan mengingat dan memuji Allah dalam segala kebesarannya. itupun kalau memang itu namanya ritual  ;D

Offline adley

  • Global Moderator
  • Elandili
  • ********
  • Posts: 914
  • Call me 'Adley' or 'Ele' -- your pick.
    • View Profile
    • Allah-Semata
Re: adakah tata cara shalat menurut Alquran? gerakan, bacaan?
« Reply #8 on: January 15, 2007, 04:02:08 PM »
Salaam,

[2.115] Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menaungi lagi Maha Mengetahui.

Menghadap sajalah kemanapun kita mau, selama target/qiblat kita adalah kondisi/konsep "al-masjid al-haram" :)
Mau menghadapnya dengan berdiri, duduk, baringan, itu tidak masalah, karena setiap orang kondisinya pasti beraneka-ragam.

=adley=

Klik untuk membantu mereka yang kelaparan tanpa dikenakan biaya apapun --> Mohon anda klik sehari sekali.

If you want to come to me as a human, leave your religion at the door.

Offline nora

  • Peredhil
  • ***
  • Posts: 346
    • View Profile
Re: adakah tata cara shalat menurut Alquran? gerakan, bacaan?
« Reply #9 on: January 15, 2007, 05:02:30 PM »
Salam, bro watcher,
sekarang tak perlu malu-malu dong, cakap tiada ritual kan senang, supaya
tidak menimbulkan kekeliruan, tak perlu takut apa orang lain kata.

Offline The Watcher

  • Administrator
  • Mith'quessir
  • *********
  • Posts: 1226
  • Tidak ada kata ada kalau tidak ada kata tidak ada
    • View Profile
Re: adakah tata cara shalat menurut Alquran? gerakan, bacaan?
« Reply #10 on: January 16, 2007, 10:21:12 AM »
Salam nora

nah itu dia, pendapat saya? either tidak ada ritual or everything is ritual
macam hari hari, pagi kita harus mandi, gosok gigi, malam kena tidur, siang kena makan itu bisa? namanya ritual( sesuatu yang dilakukan konsistent dan terus menerus) juga? ;D
its actually depends on  intrepretation the word itself

saya pernah cakap dengan adley saya setuju bahwa tidak ada "ritual" dalam arti harus sujud/ruku/dalam artian kecil etc, tapi saya melihat kata ritual secara lebih besar, jadi pemahaman saya either tidak ada ritual or everything is ritual :)

mohon maaf kalo membingungkan :facelaughing:

Salam
« Last Edit: January 16, 2007, 11:19:17 AM by The Watcher »

Offline adley

  • Global Moderator
  • Elandili
  • ********
  • Posts: 914
  • Call me 'Adley' or 'Ele' -- your pick.
    • View Profile
    • Allah-Semata
Re: adakah tata cara shalat menurut Alquran? gerakan, bacaan?
« Reply #11 on: January 16, 2007, 11:00:05 AM »
Salaam,

Mungkin ada baiknya menyempitkan definisi "ritual"
Karena kalau mendefinisikan ritual hanya sebagai "kegiatan yang selalu diulang-ulang pada setiap periode waktu tertentu dengan metode yang selalu sama" maka bernafas pun itu ritual juga :D

Tapi kalau saya mendefinisikan ritual lebih kepada kegiatan yang memang dilakukan secara teratur dengan metode yang sudah disepakati sebagai metode yang benar, dan meninggalkannya dianggap berdosa (besar) nan masuk neraka, dan mengerjakannya dijamin akan mendapatkan balasan yang baik (surga, penebusan dosa, dsb), dimana kegiatan tsb diyakini menghubungkan si individual dengan Tuhan/Sumber/Yang Satu/dsb yang seringkali harus dengan menggunakan perantara (manusia atau benda lain) untuk membuat seluruh kegiatan tsb "sah" secara hukum.

Sehingga kalau gosok gigi setiap hari misalnya, bagi saya bukan ritual dalam arti sempit di atas. Karena kalau pun saya lupa gosok gigi pada suatu pagi, saya bisa mengakalinya dengan jalan lain dan tidak akan merasa berdosa besar. :D

=adley=
Klik untuk membantu mereka yang kelaparan tanpa dikenakan biaya apapun --> Mohon anda klik sehari sekali.

If you want to come to me as a human, leave your religion at the door.

Offline nora

  • Peredhil
  • ***
  • Posts: 346
    • View Profile
Re: adakah tata cara shalat menurut Alquran? gerakan, bacaan?
« Reply #12 on: January 16, 2007, 12:26:29 PM »
Salam and tks,
Jelas solla bukan sembahyang.

Offline adley

  • Global Moderator
  • Elandili
  • ********
  • Posts: 914
  • Call me 'Adley' or 'Ele' -- your pick.
    • View Profile
    • Allah-Semata
Re: adakah tata cara shalat menurut Alquran? gerakan, bacaan?
« Reply #13 on: January 16, 2007, 01:18:46 PM »
Salaam Nora,

Itu saya setuju. :D

=adley=
Klik untuk membantu mereka yang kelaparan tanpa dikenakan biaya apapun --> Mohon anda klik sehari sekali.

If you want to come to me as a human, leave your religion at the door.

Offline Faried

  • Mith'quessir
  • *****
  • Posts: 1173
    • View Profile
Re: adakah tata cara shalat menurut Alquran? gerakan, bacaan?
« Reply #14 on: January 29, 2007, 11:11:13 AM »
Salaam,

Konsep shalat yang melekat kuat dalam benak kebanyakan orang adalah ritual yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Cara shalat demikian tidak dapat dipungkiri dilakukan oleh Nabi Muhammad, meskipun telah mengalami perubahan.  Misalnya, ucapan Allahu Akbar ketika takbir dan syahadat serta shalawat ketika tahiyat, pastilah tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad karena tidak sejalan atau bertentangan dengan petunjuk Al Qur?an.

Dalam artikel berjudul Shalat yang ditulis bro Adley dinyatakan bahwa shalat bukanlah doa. Tegasnya shalat bukan ritual karena inti dari ritual adalah doa. Salah satu konsep shalat dalam Al Qur?an adalah proses pembelajaran untuk memahami petunjuk dalam Al Qur?an. Tata cara atau teknis shalat dalam Al Qur?an dijelaskan ada tiga, mengatakan (4.43), membaca (29.45) dan menyimak peringatan/dzikr (62:9).

Melaksanakan shalat mengikuti cara yang dilakukan Nabi Muhammad perlu didasari konsep shalat yang dijelaskan Al Qur?an. Pada jaman Nabi Muhammad, teknologi cetakan dan rekaman belum berkembang, sehingga proses dan teknis pembelajaran untuk memahami Al Qur?an atau shalat dilakukan dengan cara mengatakan/membunyikan/ melantunkan ayat-ayat Al Qur?an yang dikemas dalam gerakan mengangkat tangan, berdiri, rukuk, sujud dan diakhiri dengan menengok ke kanan dan ke kiri, sebagai bahasa isyarat/simbol yang sarat makna. Dengan cara tersebut Nabi Muhammad berhasil mentrasfer Al Qur?an kepada umat, sehingga mereka dapat menghafal sebagian atau seluruh ayat-ayat Al Qur?an.

Selain menghafal, dengan cara mengatakan/membunyikan/melantunkan ayat-ayat Al Qur?an pada berbagai waktu shalat, umat juga memahami petunjuk yang terkandung dalam Al Qur?an, karena mereka tidak terkendala dengan bahasa.  Untuk orang non Arab yang tidak mengerti ayat-ayat Al Qur?an yang  mereka katakan dalam shalat dilarang melakukan shalat dengan cara demikian.

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu dekati shalat (lataqrabu as-salata) sedang kamu dalam keadaan mabuk (sukara), sehingga kamu mengerti (ta?lamuna) apa yang kamu ucapkan (mataquluna), ..????...??????.??????????????????.. (4.43).
   
Kata mengerti merupakan kata kunci yang penting dalam larangan yang tercantum dalam ayat tersebut, sebagai petunjuk dalam kaitan dengan shalat. Ayat 4.43 jelas ditujukan kepada orang mabuk (sukara), tetapi orang yang tidak mabuk jika tidak mengerti apa yang diucapkan ketika shalat tentunya tidak bebas dari larangan tersebut, karena keduanya memiliki kesamaan, tidak mengerti apa yang diucapkan.

Ayat 4.43 secara tegas memberikan batasan bahwa yang dimaksud dengan sukara adalah orang yang tidak mengerti apa yang diucapkannya. Kata mengerti juga merupakan petunjuk bahwa shalat bukanlah penyembahan atau ritual, karena jika shalat dimaksud sebagai penyembahan maka yang penting dalam ritual adalah khidmat atau khusyu?. Kata mengerti berhubungan erat dengan pembelajaran. Dengan demikian, ayat 4.43 menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan shalat adalah mengerti petunjuk Allah dalam Al Qur?an.

Ketika membaca ayat 43 dari surah An Nisa tersebut, perhatian sering hanya terfokus pada kata mabuk dan sering mengabaikan kata mengerti. Karena itu, larangan untuk tidak mendekati shalat jika tidak mengerti apa yang diucapkan ketika shalat banyak dan sering dilanggar orang yang shalat.
   
Larangan untuk tidak mendekati shalat ditujukan kepada orang mabuk, baik mabuk benaran atau sama dengan orang mabuk karena tidak mengerti apa yang diucapkan. Orang beriman tentunya tidak ada yang mabuk karena minuman beralkohol, dan orang yang mabuk benaran dapat dikatakan tidak ada yang melakukan shalat. Dengan demikian ayat tersebut ditujukan kepada orang yang sama dengan orang mabuk, yaitu orang yang tidak mengerti apa yang diucapkan.

Ucapan/bacaan Al Fatihah dalam shalat secara umum dipahami/dimaksudkan sebagai komunikasi dengan Tuhan (hablun minallah) yang diantaranya dimaksudkan sebagai doa memohon petunjuk. Pengertian ini masih dapat diterima karena doa memang merupakan komunikasi hamba dalam memohon kepada Tuhannya. Hal sangat penting yang diabaikan dalam pengertian tersebut adalah bahwa Allah adalah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Karena itu jika mengucapkan Al Fatihah dimaksudkan untuk memohon petunjuk tidak perlu dilakukan terus-menerus, karena Tuhan Maha mendengar doa yang dipanjatkan dan Maha Mengetahui apa yang diinginkan oleh hambaNya yang berdoa.

Ucapan Surah Al Qur?an setelah membaca Al Fatihah lebih membingungkan lagi. Karena ucapan Surah Al Qur?an dalam shalat dimaksudkan dalam kaitan dengan komunikasi dengan Tuhan, maka oleh sebagian orang yang shalat kata qul pada ayat-ayat tertentu tidak diucapkan karena dianggap tidak layak diucapkan di hadapan Tuhan. Dasar pemikirannya, qul yang berarti katakanlah, jika diucapkan dalam komunikasi dengan Tuhan, maka sama saja dengan memerintah Tuhan. Sesungguhnya bukan hanya kata qul tetapi seluruh ucapan Surah Al Qur?an tidak layak diucapkan jika dimaksudkan untuk komunikasi dengan Tuhan, karena seluruh Al Qur?an berasal dari Tuhan dan Tuhan adalah Maha Mengetahui.

Karena itu adalah merupakan hal yang sia-sia jika mengucapkan Surah Al Qur?an untuk tujuan komunikasi dengan Tuhan. Tujuan dari mengucapan Al Fatihah dan Surah Al Qur?an dalam shalat adalah untuk dimengerti (4:43) oleh orang yang melaksanakan shalat, kemudian ditegakkan dalam kehidupan keseharian agar tercegah dari fasya dan mungkar (29:45). Melalaikan petunjuk yang dimengerti dari ucapan Al Qur?an dalam shalat akan berakibat pada kecelakaan bagi orang yang senantiasa melaksanakan shalat (107.4-5 ).

Atas dasar konsep shalat dalam Al Qur?an, yaitu sebagai proses pembelajaran, shalat Nabi Muhammad yang diawali dengan mengangkat tangan merupakan simbol menyerah kepada Tuhan dan kesediaan menjalankan petunjuk yang diberikan. Sikap ini dipertegas dengan janji:

Inna salati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbi al-alamina/Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku (hanyalah) karena Allah, Tuhan sekalian alam (6.162).

Selanjutnya, pengucapan Al Fatihah dan Surah Al Qur?an dimaksudkan untuk menemukan berbagai petunjuk yang harus dipatuhi dalam kehidupan. Sampai di sini, konsep shalat sebagai proses pembelajaran untuk memahami petunjuk Tuhan telah terpenuhi.

Secara teoritis petunjuk telah dipahami. Tetapi, seluas dan sedalam apapun pemahaman tentang berbagai petunjuk dalam Al Qur?an dari orang yang senantiasa shalat atau musallin hanya akan berujung kecelakaan jika tidak ditegakkan (107.4-5 ). Penegakan petunjuk yang dipahami melalui shalat sangat ditekankan sehingga diulang puluhan kali dalam Al Qur?an, aqimu as-salat.

Rukuk dan sujud merupakan simbol dari penegakan shalat, yaitu tunduk patuh menjalankan petunjuk. Dalam menjalani kehidupan, kita diperintahkan rukuk dan sujud terhadap petunjuk Tuhan yang terkandung dalam ayat-ayat Al Qur?an. Secara eksplisit petunjuk untuk bersujud terhadap ayat-ayat Al Qur?an disebutkan dalam ayat 19.58. Nabi Muhammad dan siapa saja yang ingin menjadi terpuji tentunya akan rukuk dan sujud terhadap ayat-ayat Al Qur?an dalam menjalani kehidupan.

Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dia adalah (bersikap) keras terhadap orang-orang kafir, (tetapi) kasih sayang sesama mereka; kamu lihat mereka ruku? (rukka?an), sujud (sujjada) mencari karunia Allah dan keridhaanNya; tanda-tanda mereka (tampak) pada muka mereka dari bekas sujud (as-sujudi). Demikianlah sifat-sifat mereka (tersebut) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (tersebut) dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka ia menguatkan tanaman itu, lalu menjadi besar, maka ia tegak di atas batangnya; menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Dia hendak menjadikan jengkel orang-orang kafir kepada mereka. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara mereka dengan pahala yang besar (48.29).

Menengok ke kanan dan ke kiri merupakan simbol perlunya kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan hidup dengan cara menebar salam, keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan, sebagai wujud penegakan shalat, yaitu aplikasi dari berbagai petunjuk yang dipelajarti dan dipahami melalui shalat.